Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengintip Skema Dana Kompensasi FIFA ke Klub dari Piala Dunia 2026

Mengintip Skema Dana Kompensasi FIFA ke Klub dari Piala Dunia 2026
ilustrasi turnamen Piala Dunia 2026 (unsplash.com/Faz Islam)
Share Article

Piala Dunia menjadi momen mendebarkan bagi klub-klub sepak bola profesional. Meski bangga jika pemainnya pemain juara, klub harus merelakan para pemain bintangnya berlaga di kompetisi berintensitas tinggi sehingga risiko cedera selalu mengintai. Namun, hajatan empat tahunan ini ternyata juga bisa menjadi ladang "panen uang" yang sangat menguntungkan.

Melalui skema bagi hasil, FIFA mengucurkan dana kompensasi sebagai bentuk ganti rugi sekaligus apresiasi atas kontribusi klub. Lantas, bagaimana sebenarnya mekanisme perhitungan dana ini. Klub mana saja yang paling banyak mendulang keuntungan dari melepas pemain mereka ke Piala Dunia? Yuk, simak penjelasannya!

1. Tujuan program adalah sebagai ganti rugi kepada klub yang melepas pemainnya ke Piala Dunia

Seperti apa program FIFA Club Benefits Programme itu? Dilansir situs resmi FIFA, ini adalah mekanisme bagi hasil (revenue sharing) dari keuntungan Piala Dunia untuk disalurkan langsung ke kas klub. Kebijakan ini dibuat sebagai bentuk apresiasi sekaligus pengakuan bahwa performa, kebugaran, dan kualitas para pemain di atas lapangan merupakan hasil investasi serta pembinaan harian dari klub profesional.

Di sisi lain, dana ini berfungsi sebagai ganti rugi atas risiko kerugian finansial dan taktikal yang ditanggung klub. Pasalnya, klub tetap wajib membayar gaji pemain selama membela negara. Di sisi lain, risiko cedera parah saat bertanding di turnamen internasional seperti Piala Dunia juga menjadi ancaman nyata yang kerap membuat klub merasa was-was.

2. Alokasi anggarannya raksasa, dengan tarif yang disesuaikan secara harian

Untuk Piala Dunia 2026, FIFA menyiapkan total anggaran kompensasi mencapai US$355 juta (sekitar Rp5,7 triliun). Jumlahnya melonjak 70 persen dibanding edisi 2022. Dana ini dibagi ke dalam tiga tujuan utama: US$250 juta (Rp4,4 triliun) untuk putaran final, US$100 juta (Rp1,7 triliun) untuk fase kualifikasi, dan US$5 juta (Rp89 miliar) sisanya dialokasikan sebagai biaya administrasi serta pengembangan.

Dengan dana alokasi membengkak, tarif harian minimal yang diterima klub juga disesuaikan menjadi sekitar US$5 ribu (Rp89 juta) per pemain per hari. Penyesuaian ini terjadi lantaran beberapa alasan. Mulai dari durasi turnamen yang semakin panjang, dimasukkannya laga kualifikasi dalam skema perhitungan, serta membengkaknya jumlah kontestan menjadi 48 negara.

3. Mantan klub para pemain juga mendapat cipratan dana segar dari FIFA

Berdasarkan temuan The Athletic, besaran uang yang diterima klub dihitung sejak masa wajib pelepasan pemain menjelang turnamen hingga sehari setelah tim nasional pemain bersangkutan tersingkir. Semakin jauh sebuah timnas melaju, semakin tebal kantong klub. Pemain yang menembus final bisa menyumbang hingga US$285.000 (Rp5,1 miliar) bagi klubnya, dibanding pemain yang gugur di fase grup yang hanya sekitar US$160.000 (Rp2,8 miliar).

Menariknya, uang kompensasi ini tidak selalu masuk 100 persen ke rekening klub pemilik pemain. Yang menjadi pembeda adalah jika sang pemain berpindah klub ketika turnamen Piala Dunia 2026 dimulai. Dana kompensasi dari FIFA juga akan dibagi secara proporsional kepada klub-klub terdahulu yang pernah dibela sang pemain selama masa kualifikasi.

4. Manchester City jadi klub dengan jumlah uang kompensasi paling besar dari Piala Dunia 2026

Klub-klub kaya Eropa mendominasi deretan penerima kompensasi terbanyak karena mayoritas pemain merumput di sana. Dilansir Yahoo Sports, raksasa Inggris Manchester City memimpin daftar sebagai klub dengan penerimaan dana tertinggi yakni US$4,4 juta (Rp78 miliar) sebab melepas total 19 pemain ke Piala Dunia 2026. Disusul oleh Paris Saint-Germain di posisi kedua US$3,9 juta (Rp69,9 miliar), serta Bayern Munchen di posisi tiga berkat dana kompensasi senilai US$3,4 juta (60,9 miliar).

Secara keseluruhan, Premier League Inggris menjadi kompetisi yang paling banyak mendulang keuntungan finansial dengan total klaim menembus US$34,2 juta (Rp612 miliar). Angka tersebut mengungguli pendapatan total liga-liga top Eropa lainnya. Bundesliga Jerman mendapat US$15,9 juta (Rp284 miliar), dan La Liga Spanyol dengan US$13,8 juta (Rp247 miliar).

Skema Club Benefits Programme ini ibarat sebuah kompromi yang saling menguntungkan antara FIFA dan klub-klub sepak bola. Pihak klub memang pasrah melepas aset berharganya ke panggung internasional. Namun, kucuran dana segar tak cuma menjaga stabilitas keuangan klub kaya, tapi juga sangat berharga untuk klub kecil. Bisa bayangkan bagaimana girangnya manajemen Braintree Town (divisi enam Inggris), klub asal bek Selandia Baru, yakni Tommy Smith?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More