50 Persen Sampah di RI Dibuang ke Kali dan Jalan, Ini Penyebabnya

- World Bank mencatat sekitar 50 persen sampah di Indonesia berakhir di kali dan jalan raya akibat kebiasaan buang sampah sembarangan yang masih tinggi.
- Salah satu penyebab utama adalah ketidakmampuan masyarakat membayar iuran sampah sebesar Rp10–15 ribu per bulan, sehingga banyak yang memilih membuang sampah sembarangan.
- Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (WTE) akan dimulai di Bekasi, Bogor, dan Bali dengan melibatkan delapan perusahaan dari China, Prancis, dan Jepang sebagai solusi pengelolaan sampah nasional.
Jakarta, IDN Times - Kebiasaan buang sampah sembarangan masih menjamur di Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian Bank Dunia atau World Bank yang disampaikan MD Stakeholders Management & Communications Danantara Indonesia, Rohan Hafas, sekitar 50 persen sampah di Indonesia berakhir di kali dan di jalan.
"Sampah di Indonesia itu 50 persen ini World Bank ya, tidak ada Indonesia-nya sama sekali. 50 persen sampah di Indonesia lari di... ayo, di mana? Di jalanan dan di kali. Based on surveinya World Bank," kata Rohan dalam media briefing di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
1. Masyarakat tak mampu bayar iuran sampah

Rohan mengatakan, salah satu penyebab sampah dibuang sembarangan adalah masyarakat tidak mampu membayar iuran sampah.
“Kenapa? Hanya karena Rp10 ribu sampai dengan Rp15 ribu per rumah tangga tidak mampu membayar iuran bulanan ke tukang angkut sampah yang dikelola RT, RW atau Kelurahan. That's kehidupan yang benar, maksudnya fakta yang terjadi seperti itu. Jadi dia buang aja diem-diem di pinggir jalan, di kali, di ini. Itu sebabnya kita punya problem sampah," ucap Rohan.
2. Proyek WTE bakal jadi solusi pengelolaan sampah

Rohan mengatakan, uang dari iuran sampah yang dibayar masyarakat dialokasikan untuk biaya angkut sampah dari rumah ke tempat penampungan sementara (TPS) atau tempat pemrosesan akhir (TPA), dan membayar sewa lahan TPS atau TPA itu.
Rohan mengatakan, dengan proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste-to-Energy (WtE), sampah masyarakat akan diangkut secara gratis. Sebab, Pemda tak perlu lagi membayar sewa lahan TPS dan TPA.
“Pemda kenapa mau? Karena Pemda tidak lagi di-charge bayar sewa lahan. Tempat sampah yang Bantar Gebang itu, gak di-charge lagi dia, yang mana lebih mahal dua bayar sewa daripada dia harus bayar ongkos angkut itu,” ucap Rohan.
Dengan demikian, masyarakat tak perlu lagi membuang sampah ke jalan atau kali.
“Yang paling utama listrik dapar, tapi yang paling utama segala ekologi sampah, negatif dari sampah, penyakit, itu hilang semua, yang tadi di kali hilang semua. Most probably 80 persen bersih lah ya. Itu niatannya ke situ,” tutur Rohan.
3. Proyek WTE diawali di Bekasi hingga Bali

Proye WTE sendiri akan diawali di tiga wilayah, yakni Bekasi, Bogor, hingga Bali.
Danantara sudah mengumumkan delapan perusahaan yang memenangkan tender dari 24 perusahaan dalam daftar penyedia teknologi (DPT).
Dari delapan perusahaan pemenang tender, sebanyak enam perusahaan berasal dari China, yakni Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd, Wangneng Environment Co., Ltd, dan Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd. Lalu, SUS Indonesia Holding Limited, China Conch Venture Holding Limited, dan PT Jinjiang Environment Indonesia.
Kemudian, dua perusahaan lainnya adalah perusahaan asal Prancis yakni Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd, dan perusahaan asal Jepang yakni Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering.
















