Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Alasan Kenapa Harga Minyak Dunia Masih Bertahan di Atas US$100
ilustrasi kapal tanker minyak (pexels.com/Zifeng Xiong)
  • Harga Brent berada di sekitar US$101,59 per barel pada 5 Oktober 2026, didorong risiko konflik Timur Tengah, serangan kapal komersial, dan gangguan jalur Selat Hormuz.
  • Ekspor minyak Timur Tengah mulai pulih, termasuk dari Arab Saudi, tetapi belum konsisten karena biaya pengiriman lebih mahal dan rute distribusi kurang efisien akibat situasi keamanan.
  • OPEC+ menunda pembahasan kuota produksi 2027, sementara pelepasan 100 juta barel cadangan G7 hanya menambah pasokan jangka pendek dan belum menjamin normalisasi distribusi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi meski sejumlah negara mulai mengambil langkah untuk menambah pasokan. Harga minyak Brent berada di sekitar 101,59 dolar Amerika serikat (AS) per barel pada Senin, 5 Oktober 2026, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar 90,12 dolar AS per barel. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar minyak masih menghadapi ketidakpastian besar terkait pasokan dan keamanan distribusi.

Kenaikan harga minyak kali ini tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah produksi dari negara-negara penghasil minyak. Konflik di Timur Tengah, gangguan jalur pelayaran, serta kebijakan negara-negara besar ikut memengaruhi perkiraan pasokan global. Berikut empat alasan harga minyak dunia masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel.

1. Risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah masih tinggi

ilustrasi barel minyak (pexels.com/Александр Лич)

Timur Tengah masih menjadi sumber kekhawatiran utama bagi pasar minyak karena konflik di kawasan tersebut dapat mengganggu produksi dan distribusi. Serangan terhadap kapal komersial di sekitar Teluk meningkatkan risiko bagi perusahaan yang mengirimkan minyak melalui jalur laut. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar tetap memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan meski produksi dari beberapa negara mulai pulih.

Salah satu jalur yang mendapat perhatian besar adalah Selat Hormuz karena kawasan tersebut menjadi rute penting bagi perdagangan energi dunia. Gangguan keamanan dapat membuat kapal memilih rute yang lebih panjang sehingga waktu dan biaya pengiriman meningkat. Selama risiko tersebut belum benar-benar mereda, harga minyak masih memiliki tekanan untuk tetap tinggi.

2. Ekspor minyak Timur Tengah belum sepenuhnya pulih

ilustrasi kapal tanker minyak (pexels.com/Oleksiy Yeshtokyn)

Ekspor minyak dari Timur Tengah memang mulai meningkat, tetapi pemulihannya belum berlangsung secara konsisten. Dalam pekan terakhir September, ekspor minyak mentah kawasan tersebut berada di atas tingkat sebelum perang pada empat dari tujuh hari. Kondisi itu menunjukkan bahwa pasokan mulai kembali, tetapi aktivitas pengiriman masih menghadapi berbagai hambatan.

Arab Saudi juga mulai mengembalikan volume ekspornya mendekati tingkat sebelum konflik. Namun, perusahaan masih harus menghadapi biaya pengiriman yang lebih mahal dan rute yang kurang efisien akibat situasi keamanan. Pasar karena itu belum menganggap pemulihan ekspor tersebut sebagai jaminan bahwa pasokan minyak sudah kembali normal.

3. OPEC+ menunda keputusan produksi untuk 2027

ilustrasi hukum dan kebijakan (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

OPEC+ menunda pembahasan yang akan menentukan kuota produksi minyak untuk 2027. Keputusan tersebut penting karena kuota produksi akan memengaruhi seberapa banyak minyak yang masuk ke pasar global pada tahun berikutnya. Penundaan membuat investor belum mendapatkan gambaran yang jelas mengenai arah pasokan minyak setelah ketidakpastian geopolitik mulai mereda.

Perang di Timur Tengah juga membuat perkiraan kapasitas produksi sejumlah negara menjadi lebih sulit. Konflik dapat mengganggu proyek peningkatan kapasitas dan mengubah perkiraan produksi negara-negara penghasil minyak. Ketidakpastian tersebut membuat pasar masih berhati-hati dalam memperkirakan jumlah pasokan yang tersedia pada 2027.

4. Pelepasan cadangan G7 belum menyelesaikan masalah pasokan

ilustrasi sumur minyak (magnific.com/ArtPhoto_studio)

Negara-negara G7 telah menyepakati pelepasan sekitar 100 juta barel minyak mentah dan diesel dari cadangan darurat. Langkah tersebut dapat menambah pasokan dalam jangka pendek dan membantu mengurangi kekhawatiran mengenai kelangkaan minyak. Namun, tambahan pasokan dari cadangan strategis tidak dapat menggantikan produksi normal secara permanen.

Pasar juga masih menunggu seberapa cepat minyak dari cadangan tersebut masuk ke jalur distribusi. Jika konflik kembali meningkatkan risiko terhadap produksi atau pengiriman, tambahan minyak tersebut dapat tertutup oleh kekhawatiran baru mengenai pasokan. Karena itu, harga minyak masih dapat bertahan di atas 100 dolar AS meski G7 telah mengambil langkah untuk meredam tekanan pasar.

Harga minyak dunia saat ini dipengaruhi oleh kombinasi antara kondisi geopolitik dan perkiraan pasokan global. Pemulihan ekspor memang memberikan sedikit ruang bagi pasar, tetapi risiko gangguan baru masih membuat pelaku pasar berhati-hati. Selama ketidakpastian di Timur Tengah dan arah produksi OPEC+ belum jelas, harga minyak masih berpeluang bertahan pada level tinggi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

354 BUMN Sudah Dipangkas05 Oct 2026, 18:36 WIB