ilustrasi barang dari China (pexels.com/DuaEnam KosongLima)
Di antara perusahaan yang masuk daftar tersebut terdapat Kuitun Yadasi Textile Co. dan Xinjiang Nuziline Bio-Pharmaceutical Co., sementara pembatasan juga mencakup sektor emas, infrastruktur transportasi, makanan beku, farmasi, serta produksi litium. Nama lain yang turut diblacklist meliputi Hunan Aihua Group, Chacha Food Co., Xinjiang Tianhongji Technology Co., Tefeng Pharmaceutical Co., Tianshan Aluminum Group, dan Henan Guorong Electronic Technology Co.
South China Morning Post (SCMP) melaporkan penambahan itu membuat Daftar Entitas Undang-Undang Pencegahan Kerja Paksa Uyghur (UFLPA) bertambah 30 persen, dari 144 menjadi 187 perusahaan. Rekor tersebut menjadi yang tertinggi sejak aturan berlaku pada 2021 sekaligus menjadi penambahan pertama pada masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.
UFLPA memblokir seluruh produk dari Xinjiang kecuali importir dapat membuktikan secara sah bahwa barang yang diimpor bebas dari praktik kerja paksa terhadap warga Uyghur maupun kelompok minoritas lainnya. Wakil Menteri Keamanan Dalam Negeri untuk Strategi, Kebijakan, dan Perencanaan Rob Law menyatakan perluasan daftar itu merupakan instrumen penting DHS untuk melindungi ekonomi dan keamanan nasional AS.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott juga menjelaskan entitas yang baru dimasukkan ke daftar memiliki keterkaitan dengan jaringan produksi maupun penjualan barang berbasis kerja paksa di Xinjiang. Penjelasan itu disampaikan seiring komitmen pemerintah AS untuk menindak eksploitasi dalam rantai pasokan.