Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Belanda Pangkas 25 Ribu Posisi PNS demi Efisiensi Berbasis AI
Bendera Belanda (commons.m.wikimedia.org/Dutchgamer Yusuf Babayusuf)
  • Pemerintah Belanda akan memangkas sekitar 25.000 posisi PNS secara bertahap selama 10 tahun, mencakup 15–16 persen pegawai pemerintah pusat, tanpa pemecatan massal.
  • Program efisiensi ditargetkan menghemat 900 juta euro per tahun mulai 2027, lalu meningkat hingga 3,5 miliar euro per tahun pada 2035.
  • AI akan menopang produktivitas birokrasi melalui otomatisasi dan penyederhanaan regulasi; kepolisian serta pertahanan dikecualikan dari kebijakan pemangkasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Belanda mengumumkan rencana pemangkasan sekitar 25.000 posisi pegawai negeri sipil melalui program efisiensi berbasis kecerdasan buatan (AI). Perampingan birokrasi berskala besar ini ditargetkan mampu menghemat anggaran belanja negara hingga 3,5 miliar euro (Rp70,9 triliun) per tahun.

Berdasarkan keterangan resmi pada Senin (26/10/2026), pengurangan aparatur ini mematok target penghematan awal sebesar 900 juta euro (Rp18,27 triliun) per tahun mulai 2027. Nilai penghematan tersebut selanjutnya akan dinaikkan secara berkala hingga mencapai target maksimal pada 2035 mendatang.

1. Rencana pemangkasan bertahap puluhan ribu pegawai negeri

ilustrasi Belanda (pexels.com/Marcelo Verfe)

Pengurangan 25 ribu posisi tersebut mencakup sekitar 15 hingga 16 persen dari total tenaga kerja di lingkup pemerintah pusat. Langkah ini diambil menyusul lonjakan jumlah aparatur sipil negara sebesar 41 persen dibandingkan pada 2018, hingga menyentuh rekor 160 ribu pegawai pada akhir 2025.

Pemerintah memastikan bahwa kebijakan ini tidak akan ditempuh melalui pemecatan massal secara langsung, melainkan berjalan bertahap selama sepuluh tahun ke depan. Tidak ada pembekuan rekrutmen secara total, namun setiap posisi kosong akibat pegawai pensiun atau mengundurkan diri akan dievaluasi ketat sebelum diputuskan mencari pengganti.

Sektor kepolisian dan pertahanan sepenuhnya dikecualikan dari kebijakan efisiensi ini. Penyesuaian terbesar akan menyasar kementerian, badan pengawas, serta lembaga pelaksana kebijakan, dengan potensi pemangkasan staf berkisar antara 45 hingga 60 persen di sejumlah departemen.

2. Pemanfaatan teknologi AI untuk meningkatkan produktivitas

ilustrasi AI (freepik.com/rawpixel.com)

Pemerintah Belanda menempatkan adopsi kecerdasan buatan sebagai kunci utama untuk menjaga kinerja serta memacu produktivitas di tengah berkurangnya jumlah pegawai. Rancangan serta peta jalan penerapan AI dalam tata kelola pemerintahan dijadwalkan dipaparkan secara resmi oleh kabinet pada awal 2027.

Langkah ini sejalan dengan dorongan parlemen Belanda untuk meningkatkan produktivitas instansi pemerintah hingga 20 persen melalui pemanfaatan AI. Pengadaan teknologi diprioritaskan melalui kerja sama dengan pengembang lokal dan Uni Eropa demi menghindari ketergantungan pada pihak luar sekaligus menekan biaya konsultan asing. Sistem otomatisasi ini juga diiringi penyederhanaan alur kerja melalui pemangkasan sedikitnya 500 regulasi berbelit-belit per tahun.

3. Pertimbangan fiskal di balik perampingan birokrasi

ilustrasi bendera Belanda (Unsplash/Remy Gieling)

Sekretaris Negara untuk Pemerintahan Efektif Belanda, Eric van den Burg, menegaskan bahwa perubahan tata kelola birokrasi mendesak dilakukan demi menjaga keberlanjutan anggaran negara.

"Kita tidak bisa terus bekerja dengan pola lama. Kami mengambil keputusan sulit ini demi menghadirkan tata kelola pemerintahan yang lebih sederhana, cerdas, dan ramping," ujar Van den Burg, dilansir The Edge Singapore.

Meskipun defisit anggaran Belanda saat ini berada di level 1,8 persen dan tergolong rendah di Uni Eropa, prospek stabilitas keuangan negara dalam jangka panjang tetap menjadi perhatian utama. Kebijakan otomatisasi ini pun menempatkan Belanda sebagai salah satu negara di kawasan Eropa yang mengambil langkah paling agresif dalam mereformasi sektor kepegawaian publik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article