Pasar China Memburuk, Volvo Cars Terpaksa Pangkas 2.500 Karyawan

- Penjualan Volvo Cars di China merosot lebih dari 40 persen pada kuartal III 2026, dipicu persaingan produsen lokal, tekanan harga, dan perubahan preferensi konsumen.
- Volvo Cars mencatat rugi operasional 5,6 miliar krona Swedia pada kuartal III 2026, setelah sebelumnya membukukan laba; tarif AS dan berkurangnya insentif mobil listrik turut menekan margin.
- Perusahaan akan memangkas 2.500 posisi global, termasuk sekitar 2.000 di Swedia, sambil menargetkan penghematan 5 miliar krona dan menyesuaikan strategi produk China bersama Geely.
Persaingan industri otomotif global semakin ketat, terutama ketika produsen mobil harus menghadapi perubahan selera konsumen dan tekanan harga di pasar utama. Kondisi tersebut kini turut dirasakan Volvo Cars, produsen mobil asal Swedia yang menghadapi penurunan penjualan di China hingga berdampak pada kinerja keuangannya. Perusahaan ini bahkan berencana memangkas 2.500 karyawan secara global sebagai bagian dari upaya menekan biaya operasional.
Keputusan tersebut muncul setelah Volvo Cars membukukan kerugian operasional pada kuartal III 2026, berbalik dari keuntungan pada periode sebelumnya. Situasi ini memperlihatkan bahwa reputasi merek premium saja belum cukup untuk mempertahankan posisi di tengah persaingan otomotif yang semakin agresif. Lantas, apa saja faktor yang mendorong Volvo Cars mengambil langkah besar tersebut?
1. Penjualan Volvo Cars di China merosot hampir 50 persen

ilustrasi mobil Volvo, otomotif (unsplash.com/Vitali Adutskevich) China menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Volvo Cars setelah pendapatan perusahaan di negara tersebut turun hampir 50 persen secara tahunan pada kuartal III 2026. Penurunan ini terjadi ketika merek-merek premium asal Barat menghadapi persaingan yang semakin ketat dari produsen otomotif lokal. Situasi tersebut membuat Volvo Cars kesulitan mempertahankan penjualan sekaligus menjaga harga produknya tetap kompetitif. Tekanan harga juga berpotensi menggerus keuntungan perusahaan meskipun mereka masih memiliki reputasi sebagai produsen mobil premium.
CEO Volvo Cars, Håkan Samuelsson, mengakui bahwa perubahan kondisi pasar China berlangsung lebih cepat daripada perkiraan perusahaan. Ia menilai pendekatan lama, yaitu mengandalkan mobil yang dikembangkan untuk pasar global, semakin sulit diterapkan di negara tersebut. Konsumen China kini memiliki lebih banyak pilihan kendaraan buatan lokal yang semakin kompetitif. Perubahan preferensi ini memaksa Volvo Cars mengevaluasi kembali strategi bisnisnya agar tetap relevan di pasar otomotif terbesar tersebut.
Bloomberg melaporkan bahwa pengiriman mobil Volvo Cars ke China turun lebih dari 40 persen pada kuartal III 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi ketika lebih dari 100 merek otomotif lokal bersaing memperebutkan konsumen, terutama di pasar kendaraan listrik. Produsen China semakin menarik perhatian pembeli melalui harga yang kompetitif, fitur digital canggih, serta model kendaraan yang dirancang sesuai selera konsumen setempat. Akibatnya, Volvo Cars menghadapi tekanan untuk menyesuaikan harga dan produknya agar tetap mampu bersaing di pasar premium China.
2. Kerugian operasional mencapai triliunan rupiah

ilustrasi mobil Volvo, perusahaan otomotif (unsplash.com/Mateusz Suski) Kinerja keuangan Volvo Cars memburuk pada kuartal III 2026. Perusahaan yang berbasis di Swedia ini mencatat kerugian operasional sebesar 5,6 miliar krona Swedia, setara sekitar Rp9,2 triliun. Padahal pada periode sebelumnya, Volvo Cars masih membukukan laba operasional sebesar 6,4 miliar krona Swedia atau sekitar Rp10,5 triliun. Perubahan dari laba menjadi rugi ini menunjukkan besarnya tekanan bisnis yang harus dihadapi perusahaan di tengah penurunan penjualan dan persaingan pasar yang semakin ketat.
Selain persaingan di China, Volvo Cars juga menghadapi tantangan di Amerika Serikat. Perusahaan menyebut tarif impor dan berkurangnya insentif pembelian mobil listrik turut menekan margin keuntungan. Kondisi tersebut membuat perusahaan harus menghadapi tekanan dari dua pasar penting sekaligus, sementara arus kas bebasnya ikut terdampak negatif. Kombinasi berbagai masalah ini memperkuat alasan Volvo Cars untuk mempercepat efisiensi biaya dan meninjau kembali strategi operasionalnya.
Investing.com melaporkan bahwa Volvo Cars berencana memangkas 2.500 posisi pekerjaan di seluruh dunia sebagai bagian dari upaya menghemat biaya sebesar 5 miliar krona Swedia atau sekitar Rp8,2 triliun. Langkah ini diambil setelah perusahaan mengalami kerugian operasional pada kuartal III 2026, terutama di tengah penurunan penjualan di China dan tekanan persaingan di pasar global. Dari total posisi yang akan dipangkas, sekitar 2.000 di antaranya berada di Swedia, sementara sisanya tersebar di negara lain.
3. Volvo Cars berencana memangkas 2.500 karyawan

ilustrasi layoff, PHK, pengangguran, menganggur (vecteezy.com/Prasong Takham) Untuk menghadapi tekanan bisnis tersebut, Volvo Cars mengumumkan rencana pengurangan 2.500 posisi pekerjaan secara global. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 posisi berada di Swedia, negara asal perusahaan. Kebijakan ini menjadi bagian dari langkah efisiensi yang dirancang untuk mengurangi beban operasional dan memperkuat kondisi keuangan perusahaan. Manajemen juga menargetkan penghematan biaya tambahan sebesar 5 miliar krona Swedia, atau sekitar Rp8,2 triliun.
Pengurangan tenaga kerja tersebut gak dilakukan melalui satu mekanisme saja. Volvo Cars berencana mengurangi penggunaan tenaga konsultan, tidak langsung mengisi kembali posisi yang kosong akibat karyawan keluar secara alami, serta menawarkan paket pengunduran diri secara sukarela kepada karyawan tertentu. Dengan pendekatan ini, perusahaan berharap dapat menekan pengeluaran tanpa hanya mengandalkan pemutusan hubungan kerja secara langsung. Meski begitu, keputusan tersebut tetap menjadi kabar berat bagi para pekerja yang terdampak, terutama di tengah ketidakpastian industri otomotif global.
Trade News UK melaporkan bahwa saham Volvo Cars mengalami penurunan tajam setelah perusahaan mengumumkan rencana pemangkasan karyawan di tengah memburuknya kinerja bisnis. Penurunan harga saham ini menunjukkan bahwa pengumuman tersebut menjadi perhatian investor, terutama karena perusahaan harus menghadapi kerugian operasional sekaligus tekanan persaingan di pasar otomotif global. Investor kini perlu mencermati apakah langkah penghematan biaya yang direncanakan mampu membantu Volvo Cars memperbaiki kinerja keuangannya dalam beberapa kuartal mendatang.
4. Strategi bisnis di China perlu mengalami perubahan

ilustrasi Xi'an, China, lalu lintas, kendaraan, jalan raya (pexels.com/zheng liang) Volvo Cars menyadari bahwa penghematan biaya saja gak cukup untuk mengembalikan daya saingnya di China. Samuelsson menjelaskan bahwa perusahaan perlu menerapkan strategi yang lebih berorientasi pada kebutuhan pasar lokal. Artinya, wilayah operasional harus memiliki kewenangan lebih besar untuk menyesuaikan produk dan keputusan bisnis dengan karakteristik konsumen setempat. Perusahaan juga perlu memastikan harga produknya mampu bersaing dengan kendaraan buatan produsen lokal.
Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah memperkuat kerja sama dengan Geely, perusahaan induk asal China yang memiliki Volvo Cars. Kerja sama ini mencakup penggunaan platform kendaraan yang sama serta pengembangan perangkat lunak lokal, termasuk sistem hiburan dalam mobil dan teknologi bantuan pengemudi. Penyesuaian tersebut diharapkan bisa membuat pengembangan produk lebih efisien sekaligus meningkatkan daya tarik kendaraan Volvo di China. Jika strategi ini berjalan sesuai rencana, perusahaan memiliki peluang untuk menghadirkan mobil yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen setempat tanpa mengabaikan identitas mereknya.
5. Saham Volvo Cars ikut tertekan setelah pengumuman PHK

ilustrasi mobil Volvo, perusahaan otomotif, mobil SUV (unsplash.com/Remy Lovesy) Rencana pemangkasan karyawan dan kerugian operasional yang membengkak turut memicu reaksi negatif dari investor. Pada akhir perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026, saham Volvo Cars tercatat turun sekitar 24,2 persen. Penurunan tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kemampuan perusahaan untuk memulihkan profitabilitas di tengah persaingan yang semakin berat. Investor juga perlu mempertimbangkan apakah penghematan biaya yang direncanakan mampu mengimbangi penurunan penjualan dan tekanan harga di berbagai pasar.
Ke depan, keberhasilan Volvo Cars bukan hanya bergantung pada seberapa besar biaya yang bisa dipangkas. Perusahaan juga harus membuktikan bahwa strategi regionalnya mampu menghasilkan produk yang kompetitif, mempertahankan pelanggan, dan memperbaiki kinerja keuangan. Tantangan di China dan Amerika Serikat membuat proses pemulihan bisnis berpotensi berlangsung lebih sulit daripada perkiraan awal. Karena itu, perkembangan penjualan, peluncuran kendaraan baru, dan hasil efisiensi operasional akan menjadi hal penting untuk diperhatikan dalam beberapa kuartal mendatang.
Keputusan Volvo Cars memangkas 2.500 karyawan memperlihatkan betapa besar tekanan yang sedang dihadapi industri otomotif global. Penurunan pendapatan di China, persaingan dari produsen lokal, serta tarif dan melemahnya dukungan pembelian mobil listrik di Amerika Serikat membuat perusahaan harus mengambil langkah tegas.
Namun, pengurangan biaya tetap perlu diimbangi dengan inovasi produk dan strategi bisnis yang sesuai dengan kebutuhan setiap pasar. Perjalanan Volvo Cars dalam memulihkan kinerja keuangannya akan menarik untuk dicermati, terutama di tengah persaingan kendaraan listrik yang semakin ketat.























