Buntut Pengumuman MSCI, Rupiah Rontok Pagi Ini

- Rupiah melemah ke Rp17.515 per dolar AS pada Rabu pagi, turun 13 poin atau 0,07 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
- Pelemahan dipicu penguatan dolar AS akibat inflasi tinggi di AS, rebalancing indeks MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham Indonesia, serta kenaikan harga minyak dunia.
- Analis memprediksi rupiah masih berpotensi melemah di kisaran Rp17.450–Rp17.600 meski ada rencana intervensi pasar obligasi oleh pemerintah.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melanjutkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Rabu (13/5/2026). Mengutip data Bloomberg, kurs rupiah dibuka melemah hingga 13 poin atau 0,07 persen ke Rp17.515 per dolar AS.
Pada ke-15 menit perdagangan, kurs rupiah melemah 6,5 poin atau 0,04 persen ke Rp17.535 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (12/5), rupiah melemah hingga 110 poin atau 0,63 persen ke Rp17.524 per dolar AS.
1. Tiga faktor pelemahan rupiah, termasuk MSCI
Menurut analis pasar keuangan, Lukman Leong, pelemahan nilai tukar rupiah didorong oleh tiga faktor. Pertama, indeks dolar AS yang memang menguat usai data inflasi melampaui prediksi. Berdasarkan data BBC, angka inflasi di AS mencapai 3,8 persen, tertinggi dalam 3 tahun. Kondisi itu membuka peluang Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan Fed Funds Rate(FFR).
“Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS yang menguat setelah data inflasi AS yg lebih tinggi dari perkiraan,” tutur Lukman kepada IDN Times.
Di sisi lain, hasil pengumuman rebalancing indeks dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) menunjukkan, sebanyak enam saham Indonesia terdepak dari Global Standard Index, dan sebanyak 13 saham terdepak dari Global Small Cap Index. Kondisi itu menggangungkan sentimen negatif pada rupiah di pasar.
“Hal lain yang memberatkan rupiah adalah jumlah perusahaan yang didepak dari indeks MSCI pada rebalancing Mei 2026 jauh lebih banyak dari perkiraan awal pelaku pasar dan otoritas,” ucap Lukman.
Faktor ketiga, harga minyak mentah dunia yang juga terus terkerek akan membebani rupiah.
2. Prediksi pergerakan rupiah hari ini
Lukman menyoroti langkah Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa yang mau masuk ke pasar obligasi sebagai bentuk bantuan kecil kepada Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah. Namun, menurutnya jika wacana itu dilakukan, dampaknya hanya sesaat. Oleh sebab itu, dia memprediksi rupiah akan melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini.
“Range Rp17.450-17.600,” tutur Lukman.
3. Masyarakat dan pelaku usaha diimbau tidak perlu khawatir
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede mengatakan mengimbau bagi para pelaku usaha atau masyarakat untuk mengelola ekspektasi terhadap kurs rupiah terhadap dolar AS. Josua juga meminta agar mereka tidak perlu pusing memikirkan pergerakan rupiah yang masih terus melorot melawan dolar AS.
"Bagi para pelaku usaha dan juga masyarakat yang mungkin tidak terekspos atau tidak terpapar berkait dengan risiko nilai tukar, tidak perlu pusing dengan pergerakan nilai tukar rupiah saat ini," kata Josua.
"Di sisi lainnya bagi para pelaku usaha dan juga masyarakat secara umum yang memiliki eksposur paparan terhadap nilai tukar tentunya diberikan jalan keluar, yakni dengan melakukan mitigasi melalui instrumen-instrumen lindung nilai," sambung dia.


















