"Pada kuartal III dan IV yang didorong adalah belanja pemerintah dan investasi," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto Kamis (30/7/2026).
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026 Diramalkan Turun di Bawah 5 Persen

- CORE Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 melambat menjadi 4,8-4,9 persen, dari 5,61 persen pada kuartal I.
- Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh 4,7-4,9 persen, sementara konsumsi pemerintah 20-23 persen, PMTB 6,8-7,5 persen, dan ekspor 7-8 persen.
- CORE mempertahankan proyeksi pertumbuhan 2026 sebesar 4,9-5,1 persen; pemerintah mengakselerasi belanja dan investasi semester II demi target 5,4 persen.
Jakarta, IDN Times - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 berada di kisaran 4,8 persen hingga 4,9 persen. Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen.
"Hitung-hitungan kami memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 berada di kisaran 4,8 persen sampai 4,9 persen," ujar Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal, dan Moneter CORE Indonesia A. Akbar Susamto, Jumat (31/7/2026).
Table of Content
1. Konsumsi rumah tangga kuartal II diperkirakan tumbuh 4,7-4,9 persen

Akbar menjelaskan, konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2026 diperkirakan tumbuh 4,7 persen hingga 4,9 persen, melambat dibandingkan realisasi pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,52 persen.
Sementara itu, konsumsi pemerintah diproyeksikan tumbuh 20 persen hingga 23 persen, sedangkan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) diperkirakan meningkat 6,8 persen hingga 7,5 persen.
Di sisi eksternal, ekspor barang dan jasa diproyeksikan tumbuh 7 persen hingga 8 persen, sedangkan impor barang dan jasa diperkirakan naik 4,8 persen hingga 4,9 persen pada kuartal II 2026.
2. Pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun diproyeksikan 4,9-5,1 persen

Lebih lanjut, Akbar mengatakan CORE Indonesia masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 di kisaran 4,9 persen hingga 5,1 persen. Proyeksi tersebut tidak berubah dari perkiraan yang telah disampaikan dalam Economic Outlook tahun lalu.
"Kami tidak mengubah proyeksi kami. Tahun lalu, dalam Economic Outlook, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9 persen sampai 5,1 persen, dan sejauh ini kami melihat proyeksi tersebut masih relevan," ujarnya.
3. Pemerintah akan akselerasi belanja negara

Sementara itu, pemerintah siap mengakselerasi belanja negara dan investasi pada semester II-2026 guna mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai target 5,4 persen hingga akhir 2026. Kedua komponen tersebut diharapkan menjadi penopang utama laju pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun ini.
Airlangga mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mempercepat realisasi investasi. Salah satunya melalui optimalisasi kinerja Satuan Tugas Debottlenecking guna mengatasi berbagai hambatan investasi, terutama dalam proses perizinan.
"Sebetulnya minat untuk investasi relatif tinggi, tetapi mereka meminta ada beberapa hal yang terkait dengan debottlenecking, termasuk di antaranya terkait dengan perizinan," ujar Airlangga.
Sementara itu, realisasi investasi pada semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Meski mencatatkan pertumbuhan, pemerintah menilai capaian tersebut masih perlu ditingkatkan agar target investasi tahun ini dapat tercapai.
Sedangkan, realisasi belanja negara pada semester I-2026 mencapai Rp1.656 triliun atau 43,1 persen dari target APBN sebesar Rp3.842,7 triliun. Angka tersebut tumbuh 17,8 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari total realisasi tersebut, belanja pemerintah pusat mencapai Rp1.298,6 triliun, sedangkan transfer ke daerah terealisasi sebesar Rp357,4 triliun.



















