Dedi Mulyadi Sebut Digitalisasi Bukan Faktor Utama Dongkrak Investasi

- Dedi Mulyadi menegaskan digitalisasi bukan faktor utama peningkatan investasi, melainkan komunikasi efektif antara pemerintah dan pelaku usaha yang lebih menentukan.
- Ia mencontohkan penyelesaian hambatan perizinan industri di Indramayu dan percepatan izin ekspor melalui koordinasi langsung dengan kementerian terkait.
- Dedi menilai teknologi tetap penting sebagai alat pendukung tata kelola pemerintahan, namun tidak bisa menjadi satu-satunya solusi dalam pembangunan dan investasi.
Jakarta, IDN Times - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengatakan, digitalisasi bukan satu-satunya faktor untuk mendongkrak investasi. Ia menilai pola komunikasi yang terjalin antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dengan para pelaku usaha dan investor berperan penting.
Menurut Dedi, penyelesaian persoalan investasi tidak selalu dapat dilakukan hanya melalui sistem digital. Pendekatan komunikasi langsung masih diperlukan untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan hambatan yang dihadapi investor.
"Mohon maaf, digitalisasi itu belum tentu bisa ngeberesin masalah investasi. Belum tentu. Kenapa? Karena kalau hanya berfokus pada digitalisasi, orang akan nunggu antrean perizinan yang dia harus memenuhi standar sekian hari. Problematikanya tidak akan terbaca, Pak, kalau digitalisasi terus. Maka, saya ini tidak hanya digitalisasi, pakai pola manual. Bertemu," ujarnya dalam acara Indonesia Summit 2026 by IDN Times, di Tribrata, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).
Pria yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) itu kemudian menceritakan pengalamannya saat baru beberapa hari menjabat sebagai gubernur. Saat itu, seorang investor ingin mengembangkan kawasan industri di Indramayu mengaku mengalami kendala perizinan lingkungan.
Investor tersebut berencana mengembangkan kawasan industri seluas sekitar 30 hektare, yang diperkirakan dapat menyerap hingga 20 ribu tenaga kerja.
Setelah berkoordinasi dengan pihak terkait, Dedi menemukan bahwa hambatan yang terjadi lebih banyak disebabkan persoalan teknis antara perusahaan dan konsultan yang menangani proses perizinan. Menurut dia, proyek tersebut akhirnya dapat berjalan, sehingga pembangunan kawasan industri tetap berlangsung.
Selain itu, Dedi juga mengisahkan pengalamannya membantu percepatan proses perizinan sebuah pabrik yang akan melakukan ekspor. Saat itu, izin kementerian terkait belum terbit, sementara perusahaan harus segera mengirim barang ke pembeli luar negeri.
Dedi pun menghubungi langsung menteri terkait untuk meminta percepatan proses administrasi. Menurutnya, izin tersebut akhirnya dapat diterbitkan secara digital dalam waktu singkat, sehingga aktivitas produksi dan ekspor tidak terganggu.
"Dalam komunikasi yang baik itu, keluarlah tanda tangan digital dalam waktu satu jam. Pak Menterinya zaman Pak Hanif, sekarang udah diganti. Ribuan orang terselamatkan hanya karena birokrasi," kata politikus Partai Gerindra itu.
Oleh sebab itu, Dedi menegaskan, teknologi dan digitalisasi tetap penting dalam tata kelola pemerintahan. Namun, menurutnya, teknologi sebaiknya diposisikan sebagai alat pendukung, bukan satu-satunya pendekatan dalam menyelesaikan persoalan pembangunan dan investasi.
"Masalah itu tidak bisa diselesaikan dengan hanya pendekatan teknologi. Di Indonesia itu, teknologi itu hanya sebagai perangkat penunjang. Bukan jembatan menuju kemajuan," ujar dia.
IDN menggelar Indonesia Summit (IS) 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.
IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.














![[QUIZ] Dari Tim Piala Dunia 2026, Ini Ide Bisnis yang Cocok Untukmu](https://image.idntimes.com/post/20260617/upload_f14fae30ab7bad76baec6ee91ce4c4ad_31f30d3b-3024-4a28-9a45-ce0526216f32.jpg)



