Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Didiek: Jepang Mitra Strategis, Kunjungan Prabowo Harus Dimanfaatkan

Didiek: Jepang Mitra Strategis, Kunjungan Prabowo Harus Dimanfaatkan
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)
Intinya Sih
  • Didiek J Rachbini menilai kunjungan Presiden Prabowo ke Jepang penting untuk memperkuat diplomasi politik dan ekonomi, mengingat hubungan perdagangan kedua negara sudah terjalin lebih dari setengah abad.
  • Ia menegaskan hubungan dagang Indonesia-Jepang bersifat komplementer dan saling melengkapi, berbeda dengan pola perdagangan Indonesia-China yang cenderung bersaing dan berisiko memicu deindustrialisasi dini.
  • Didiek mendorong tim ekonomi Presiden memaksimalkan kunjungan ke Jepang agar menghasilkan kerja sama konkret di bidang investasi, teknologi, dan industri manufaktur yang memperkuat rantai pasok global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Ekonom Senior Didiek J Rachbini menilai lawatan Presiden Prabowo Subjanto ke Jepang diharapkan mampu memperkuat diplomasi politik dan ekonomi, khususnya dengan mitra dagang strategis yang telah terjalin selama lebih dari setengah abad.

Ia menyebut ekonomi Indonesia dan Jepang memiliki karakter yang saling melengkapi atau komplementer. Dengan pola ini, kedua negara dapat memperoleh manfaat optimal dalam meningkatkan perdagangan dan cadangan devisa.

"Karena itu, kerja sama dan hubungan ekonomi perdagangan bukan hanya harus terus dijaga tetapi harus ditingkatkan.  Jepang sebagai mitra dagang utama sangat potensial untuk memajukan perdagangan luar negeri Indonesial," tegasnya dalam keterangannya, Senin (30/3/2026).

1. Jepang tetap jadi mitra utama yang sangat potensial untuk Indonesia

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)

Menurut dia, Jepang tetap menjadi mitra utama yang sangat potensial untuk mendorong kinerja perdagangan luar negeri Indonesia

"Perdagangan Indonesia dengan Jepang bersifat komplementer, saling melengkapi sehingga bersifat win-win," tegasnya.

2. Sifat hubungan dagang RI-China saling bersaing dan merugikan yang lemah

Ilustrasi neraca perdagangan. (Dok. Antara)
Ilustrasi neraca perdagangan. (Dok. Antara)

Menurutnya kondisi ini berbeda dengan pola perdagangan Indonesia dengan China yang dinilai cenderung bersifat substitusi atau saling menggantikan dan dan saling menegasi sehingga cenderung bersaing saling mematikan dan merugikan yang lemah dalam hal ini Indonesia. 

"Sifat hubungan dagang dengan China saling bersubstitusi kompetisi pada produk-produk yang sejenis. Indonesia dan Cina memiliki produk-produk ekspor pertanian, pangan dan perkebunan yang sama.  Sama dengan Indonesia, Cina juga mengekspor barang industri manufaktur seperti tekstil, elektronik dan lainnya," ungkapnya.

Akibatnya, lanjut Didiek, Indonesia menghadapi risiko deindustrialisasi dini (premature deindustrialization). Selain itu, neraca perdagangan sektor manufaktur terus mengalami defisit, sementara pelaku UMKM banyak yang bergeser menjadi distributor barang impor dari China.

3. Tim ekonomi Presiden harus memaksimalkan kunjungan ke Jepang

Ilustrasi neraca perdagangan. (IDN Times/Mardya Shakti)
Ilustrasi neraca perdagangan. (IDN Times/Mardya Shakti)

Di sisi lain, meskipun pertumbuhan ekonomi Jepang relatif rendah, skala ekonominya masih sangat besar dan menjadi salah satu raksasa global bersama Amerika Serikat, China, India, dan Jerman. Oleh karena itu, kunjungan Presiden Prabowo dinilai tidak boleh sekedar bersifat simbolik.

“Tim ekonomi harus memaksimalkan kunjungan ini, bukan sekedar diplomasi sambilan,” tegas Didiek.

Ia menambahkan, pascakunjungan, pemerintah perlu segera merancang strategi promosi kerja sama ekonomi yang lebih konkret dengan Jepang. Dalam hubungan ini, Indonesia mengekspor energi seperti batu bara dan LNG, serta produk pertanian dan perikanan. Sementara Jepang mengekspor mesin, teknologi tinggi, dan investasi industri ke Indonesia.

Didiek menilai pola perdagangan komplementer tersebut lebih berdampak positif karena memperkuat rantai nilai (value chain) kedua negara. Indonesia juga berpeluang semakin terintegrasi dalam rantai pasok global.

“Dampaknya bukan hanya pada perdagangan, tetapi juga transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri manufaktur seperti otomotif dan elektronik,” tuturnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More