Gencatan Senjata Rapuh, Rupiah Ambyar ke Rp17.090 Sore Ini

- Rupiah ditutup melemah ke Rp17.090 per dolar AS, turun 78 poin atau 0,46 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
- Ketegangan akibat serangan Israel di Lebanon mengganggu sentimen pasar dan mengancam gencatan senjata antara AS dan Iran.
- Risalah FOMC menunjukkan The Fed masih berencana menurunkan suku bunga tahun ini, namun rupiah diproyeksikan tetap fluktuatif di kisaran Rp17.090–Rp17.140.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah terpantau loyo dan harus mengakui keunggulan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (9/4/2026). Rupiah parkir di posisi Rp17.090 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda mengalami pelemahan sebesar 78 poin atau 0,46 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.012 per dolar AS.
1. Serangan di Lebanon bikin gencatan senjata terancam batal
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan sentimen pasar saat ini semakin terganggu oleh meningkatnya serangan Israel di Lebanon. Hal itu dinilai sangat berisiko merusak gencatan senjata antara AS dan Iran yang dianggap masih sangat rapuh.
Akibat serangan tersebut, laporan menunjukkan jalur kapal tanker melalui selat strategis sempat dihentikan kembali.
Meskipun pejabat AS sempat memberikan tanda-tanda awal mengenai pembukaan kembali sebagian jalur tersebut, pasar tetap merasa khawatir karena kepastian di lapangan masih sangat simpang siur.
"Sentimen pasar semakin terganggu oleh meningkatnya serangan Israel di Lebanon, yang berisiko merusak gencatan senjata yang rapuh," kata dia.
2. Fokus investor tertuju pada pertemuan petinggi The Fed
Fokus investor juga tertuju pada risalah pertemuan FOMC (Federal Open Market Committee) pada Maret. Risalah tersebut menunjukkan bahwa para pejabat bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), ternyata masih berencana untuk menurunkan suku bunga tahun ini.
"Menurut risalah FOMC bulan Maret yang dirilis pada hari Rabu, para pejabat Fed masih memperkirakan akan menurunkan suku bunga tahun ini," kata Ibrahim.
Namun, rencana tersebut dibayangi oleh tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi akibat perang Iran dan kebijakan tarif. Para pembuat kebijakan menyatakan mereka harus tetap gesit dalam memantau dampak perang terhadap inflasi.
Selain itu, kondisi perekrutan tenaga kerja di Amerika Serikat terpantau sebagian besar stagnan atau tidak mengalami perkembangan berarti selama setahun terakhir.
3. Proyeksi pergerakan rupiah di perdagangan Jumat
Jika melihat pergerakan sejak awal tahun, rupiah saat ini mencatatkan pelemahan sebesar 2,46 persen. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir atau 52 minggu, nilai tukar rupiah bergerak di rentang Rp16.079 hingga Rp17.119 per dolar AS.
Untuk perdagangan Jumat (10/4/2026), Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif namun berisiko ditutup melemah kembali di Rp17.090 hingga Rp17.140 per dolar AS.

















