Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IBC Sekolahkan 600 Pegawai ke China, buat Operasikan Pabrik Baterai EV
Presiden Prabowo Subianto meresmikan pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi di Karawang Jawa Barat pada Minggu (29/6/2025) (IDN Times/Trio Hamdani)
  • IBC mengirim 600 pegawai ke China untuk pelatihan pengoperasian pabrik baterai EV CATIB, hasil usaha patungan dengan CATL di Karawang.
  • Pabrik CATIB senilai sekitar Rp19,4 triliun beroperasi bertahap sejak Juli 2026 dan ditargetkan penuh pada Oktober 2026 dengan kapasitas 6,9 GWh.
  • CATIB mengkaji ekspansi kapasitas menjadi minimal 15 GWh, sementara PT Vale membuka peluang memasok produk MHP HPAL ke ekosistem baterai IBC.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - PT Indonesia Battery Corporation (IBC) menyekolahkan sebanyak 600 pegawai ke China untuk bisa mengoperasikan pabrik baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) terintegrasi. Pabrik baterai listrik IBC dibangun bekerja sama dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL). Pabrik tersebut sudah mulai beroperasi secara bertahap sejak Juli 2026 lalu.

Knowledge transfer berjalan. Ada 600 pegawai yang disekolahkah ke China, di-training di China agar bisa mengoperasikan pabrik ini,” kata Presiden Direktur IBC, Aditya Farhan Arif dikutip Rabu, (16/9/2026).

1. Mulai beroperasi penuh bulan depan

Diskusi MediaMind. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Adapun pabrik baterai EV IBC dan CATL berlokasi di Karawang, Jawa Barat. Pabrik itu berdiri atas nama Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), perusahaan patungan atau joint venture IBC dan CATL.

Pabrik yang dibangun dengan nilai investasi sekitar Rp19,4 triliun itu akan beroperasi penuh dengan kapasitas operasi 6,9 GWh pada Oktober 2026 mendatang.

“Operasinya memang bertahap. Total di fase satu ada tiga line, kita mulai dengan satu line dulu. Dan ini sambil menguji line-line sesudahnya. Jadi harapannya sih di Oktober ini itu sudah full operation di kapasitas tersebut,” tutur Aditya.

2. Bakal ekspansi kapasitas tahun depan

ilustrasi baterai kendaraan listrik (unsplash.com/Kumpan_electric)

Aditya mengatakan, kapasitas 6,9 GWh itu merupakan operasional tahap pertama. Untuk tahap kedua, CATIB akan diekspansi dengan tambahan kapasitas 8,1 GWh. “Kapasitasnya 6,9 GWh dan akan kami ekspansi hingga totalnya 15, setidaknya 15 GWh ini masih dalam kajian,” ucap Aditya.

Harapannya, ekspansi itu bisa mulai diimplementasikan tahun depan, sehingga CATIB akan memiliki kapasitas hingga 15 GWh. “Total investasinya untuk yang material baterai itu 600 juta dolar AS, sementara untuk baterai kalau sampai 15 GWh itu kurang lebih 1,2 miliar dolar AS,” ucap Aditya.

3. Alasan pabrik baterai EV IBC tak diintegrasikan dengan PT Vale

IGP Morowali Port (dok. PT Vale)

Selain IBC, ada BUMN lain yang juga berkecimpung dalam ekosistem baterai EV, yaitu PT Vale Indonesia (Persero) Tbk (INCO). Melalui Indonesia Growth Project (IGP) di tiga lokasi, PT Vale Indonesia membangun pabrik pengolahan High-Pressure Acid Leach (HPAL).

Lokasinya ada tiga, yakni IGP Pomalaa yang dibangun bersama Zhejiang Huayou Cobalt Co. Ltd dan Ford Motor Co. Proyek itu akan beroperasi di bawah PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), dengan total paket investasi Rp67,5 triliun (4,29 miliar dolar AS) untuk pabrik HPAL dan tambang.

Pabrik HPAL di Blok Pomalaa akan memproduksi nikel dalam bentuk mixed hydroxide precipitate(MHP). Produk itu dapat digunakan untuk menjadi bahan utama pada baterai kendaraan listrik.

Kedua adalah IGP Morowali, yaitu proyek pabrik HPAL yang dibangun bersama GEM Co. Ltd. Dan Ecopro, dengan investasi mencapai 2 miliar dolar AS. Proyek itu bertujuan untuk mendukung pengembangan industri nikel Indonesia, dengan fokus pada pengolahan nikel menjadi produk setengah jadi yang penting untuk sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik.

Ketiga, pabrik HPAL di Sorowako yang dibangun bersama Huayou dengan nilai investasi 2,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp39,4 triliun.

Head of Strategy and Business Development PT Vale Indonesia, Mateus Sigit membeberkan alasan IGP yang digarap pihaknya tidak teringreasi dengan IBC. Dia mengatakan, IGP PT Vale Indonesia merupakan kerja sama yang menjadi komitmen dalam kontrak karya (KK) perusahaan, yang diteken sebelum IBC didirikan. IBC sendiri baru berdiri pada 2021.

“Kemudian PT Vale sendiri di tahun-tahun mungkin 2020 setelah kontrak karya itu kan ada kewajiban investasi. Dan baru MIND masuk di tahun 2019 20 persen, kemudian baru di 2024 akhirnya naik menjadi 34 persen. Jadi kita memang ada di periode yang kebetulan ini enggak connect nih waktu itu dengan adanya IBC,” tutur Mateus.

Meski begitu, sebagai pemegang saham di IGP, PT Vale Indonesia masih bisa mengintegrasikan produk akhir pabrik HPAL ke ekosistem baterai EV yang digarap IBC.

“Kita juga melihat potensi untuk produk downstream-nya. PT Vale sendiri dengan punya shareholding di HPAL, kita nanti akan dapat offtake product dari MHP-nya, which is itu nanti bisa kita kembangkan lebih lanjut. Bisa kita kerja samakan nanti mungkin dengan IBC, ataupun platform,” tutur Mateus.

Curated For You

Editorial Team

Related Article