IGP Morowali Port (dok. PT Vale)
Selain IBC, ada BUMN lain yang juga berkecimpung dalam ekosistem baterai EV, yaitu PT Vale Indonesia (Persero) Tbk (INCO). Melalui Indonesia Growth Project (IGP) di tiga lokasi, PT Vale Indonesia membangun pabrik pengolahan High-Pressure Acid Leach (HPAL).
Lokasinya ada tiga, yakni IGP Pomalaa yang dibangun bersama Zhejiang Huayou Cobalt Co. Ltd dan Ford Motor Co. Proyek itu akan beroperasi di bawah PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), dengan total paket investasi Rp67,5 triliun (4,29 miliar dolar AS) untuk pabrik HPAL dan tambang.
Pabrik HPAL di Blok Pomalaa akan memproduksi nikel dalam bentuk mixed hydroxide precipitate(MHP). Produk itu dapat digunakan untuk menjadi bahan utama pada baterai kendaraan listrik.
Kedua adalah IGP Morowali, yaitu proyek pabrik HPAL yang dibangun bersama GEM Co. Ltd. Dan Ecopro, dengan investasi mencapai 2 miliar dolar AS. Proyek itu bertujuan untuk mendukung pengembangan industri nikel Indonesia, dengan fokus pada pengolahan nikel menjadi produk setengah jadi yang penting untuk sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik.
Ketiga, pabrik HPAL di Sorowako yang dibangun bersama Huayou dengan nilai investasi 2,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp39,4 triliun.
Head of Strategy and Business Development PT Vale Indonesia, Mateus Sigit membeberkan alasan IGP yang digarap pihaknya tidak teringreasi dengan IBC. Dia mengatakan, IGP PT Vale Indonesia merupakan kerja sama yang menjadi komitmen dalam kontrak karya (KK) perusahaan, yang diteken sebelum IBC didirikan. IBC sendiri baru berdiri pada 2021.
“Kemudian PT Vale sendiri di tahun-tahun mungkin 2020 setelah kontrak karya itu kan ada kewajiban investasi. Dan baru MIND masuk di tahun 2019 20 persen, kemudian baru di 2024 akhirnya naik menjadi 34 persen. Jadi kita memang ada di periode yang kebetulan ini enggak connect nih waktu itu dengan adanya IBC,” tutur Mateus.
Meski begitu, sebagai pemegang saham di IGP, PT Vale Indonesia masih bisa mengintegrasikan produk akhir pabrik HPAL ke ekosistem baterai EV yang digarap IBC.
“Kita juga melihat potensi untuk produk downstream-nya. PT Vale sendiri dengan punya shareholding di HPAL, kita nanti akan dapat offtake product dari MHP-nya, which is itu nanti bisa kita kembangkan lebih lanjut. Bisa kita kerja samakan nanti mungkin dengan IBC, ataupun platform,” tutur Mateus.