Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Keyakinan Konsumen AS Merosot ke Level Terendah sejak 2014
ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/D Goug)
  • Indeks keyakinan konsumen AS turun 6,7 poin menjadi 81,9 pada September 2026, terendah sejak 2014, dipicu kenaikan biaya barang, jasa, bahan bakar, dan bensin.

  • Indeks ekspektasi merosot menjadi 63,6, level yang umumnya terkait resesi setahun mendatang; konsumen juga memperkirakan suku bunga dan inflasi meningkat.

  • Sentimen melemah di seluruh afiliasi politik, usia, dan hampir semua pendapatan menjelang pemilu sela; lebih banyak responden menilai Demokrat lebih mampu mengelola ekonomi daripada Republik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Indeks keyakinan konsumen di Amerika Serikat merosot ke level terendah sejak tahun 2014 pada September 2026. Laporan bulanan The Conference Board yang dirilis pada Selasa (29/9/2026) menunjukkan biaya barang dan bahan bakar menjadi faktor utama penurunan tajam tersebut.

Kemerosotan ini terjadi sedikit lebih dari satu bulan menjelang pemilihan umum sela Kongres AS. Penurunan indeks berlangsung di tengah meningkatnya pesimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek enam bulan mendatang.

1. Kenaikan harga barang dan bahan bakar menekan konsumen

ilustrasi label harga barang (pexels.com/Erik Mclean)

Data The Conference Board mencatat Indeks Keyakinan Konsumen turun 6,7 poin menjadi 81,9 pada September 2026. Angka ini berada jauh di bawah perkiraan para ekonom yang disurvei Reuters sebesar 89,2. Penurunan tersebut membawa indeks ke titik terendahnya dalam kurun 12 tahun.

Dilansir Quartz, Kepala Ekonom The Conference Board, Dana M Peterson, menyoroti pelemahan indeks keyakinan konsumen yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut.

"Indeks Keyakinan Konsumen memburuk secara signifikan pada September, menyusul pelemahan selama dua bulan sebelumnya," kata Peterson.

Dia menyatakan tanggapan tertulis warga mayoritas pesimistis terhadap faktor ekonomi, terutama harga barang, jasa, dan bahan bakar.

Berdasarkan data American Automobile Association, harga rata-rata bensin naik 37 sen dolar AS atau setara Rp6.626 (kurs Rp17.909) per galon dalam sebulan terakhir. Rata-rata harga mencapai 4,45 dolar AS atau setara Rp79.695 per galon pada Selasa (29/9/2026), dibandingkan 4,08 dolar AS atau setara Rp73.069 sebulan lalu.

Peterson menambahkan, "Referensi mengenai harga, tingginya biaya barang dan jasa, serta khususnya harga minyak dan gas, mencapai rekor tertinggi baru, yang mencerminkan lonjakan biaya bahan bakar pada bulan September".

2. Ekspektasi resesi menguat bersamaan proyeksi suku bunga

ilustrasi mata uang dolar AS (pexels.com/John Guccione www.advergroup.com)

Indeks Situasi Saat Ini turun 7,9 poin menjadi 109,3 pada September 2026. Sementara itu, Indeks Ekspektasi merosot 5,9 poin menjadi 63,6, mencatat penurunan bulanan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. The Conference Board mencatat angka ekspektasi di bawah 80 secara umum berkaitan dengan terjadinya resesi dalam kurun satu tahun ke depan.

Survei yang berlangsung pada 1 hingga 23 September 2026 ini berjalan bersamaan dengan kenaikan suku bunga bank sentral serta tensi geopolitik. Sebanyak 68,4 persen konsumen kini memproyeksikan suku bunga akan naik lebih tinggi dalam 12 bulan mendatang. Ekspektasi rata-rata inflasi tahunan juga naik 0,3 poin persentase menjadi 6,1 persen, dengan median sebesar 5,1 persen.

Untuk pertama kalinya dalam empat tahun sejak pertanyaan tersebut pertama kali diperkenalkan, lebih banyak responden menilai situasi keuangan keluarga mereka saat ini buruk dibanding baik. Selain itu, porsi warga yang memandang resesi AS cukup berpeluang terjadi dalam 12 bulan ke depan ikut meningkat. Pandangan bersih terhadap kondisi bisnis saat ini juga berbalik negatif untuk pertama kalinya sejak September 2024.

3. Penurunan sentimen membayangi peta politik jelang pemilu sela

ilustrasi pemilu (unsplash.com/Element5 Digital)

Keyakinan konsumen merosot di seluruh kelompok afiliasi politik, baik pemilih Partai Demokrat, Partai Republik, maupun independen. Pada rata-rata bergerak enam bulan, tren penurunan juga merata di seluruh kelompok usia dan hampir semua jenjang pendapatan. Situasi ini terjadi menjelang pemilu sela yang akan menentukan keseimbangan kekuasaan di Washington, DC.

Laporan sentimen konsumen ini dirilis sehari sebelum pengumuman indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang pada Juni naik 3,7 persen secara tahunan. Bank sentral AS pada awal bulan ini menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, yang mendongkrak beban kartu kredit, pinjaman mobil, serta pinjaman bank. Kondisi anjloknya sentimen ini memberi tekanan politik bagi Partai Republik menjelang keputusan suku bunga The Fed berikutnya pada 27-28 Oktober.

Menurut jajak pendapat Marist yang dilaporkan Al Jazeera, 42 persen responden menilai Partai Demokrat dapat mengelola ekonomi lebih baik dibandingkan 34 persen untuk Partai Republik. Pada akhir perdagangan Selasa (29/9/2026), bursa saham AS ditutup sedikit melemah. Indeks Nasdaq tercatat turun 0,08 persen, Dow Jones Industrial Average melemah 0,2 persen, dan S&P 500 tergelincir 0,1 persen.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article