Pendapatan Garuda Naik 16 Persen, Rugi Susut Jadi 113 Juta Dolar AS

Garuda Indonesia mencatat pendapatan 1,80 miliar dolar AS pada semester I 2026, naik 16 persen tahunan, sementara rugi bersih menyusut 23,2 persen menjadi 113 juta dolar AS.
Penerbangan berjadwal tetap menjadi penyumbang utama pendapatan, sedangkan penerbangan tidak berjadwal, terutama angkutan haji, serta bisnis MRO mendorong pertumbuhan tertinggi.
Lonjakan beban avtur 43,6 persen menekan biaya, tetapi penurunan beban keuangan dan total pinjaman membantu kinerja; armada operasional mencapai 104 pesawat pada Juni 2026.
Jakarta, IDN Times - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) membukukan pertumbuhan pendapatan dua digit dan memangkas rugi bersih pada semester I 2026, meski dibayangi lonjakan harga avtur. Perbaikan kinerja tersebut juga dibarengi dengan pemulihan armada perseroan. Hingga Juni 2026, jumlah armada operasional Garuda Indonesia mencapai 104 pesawat.
Mengutip laporan keuangan yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (1/10/2026), GIAA mengantongi pendapatan 1,80 miliar dolar AS sepanjang Januari-Juni 2026. Angka tersebut naik 16 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari 1,55 miliar dolar AS pada semester I 2025.
1. EBITDA naik jadi 431,6 juta dolar AS

Garuda Indonesia (Instagram/garudaindonesia) Lebih rinci, penerbangan berjadwal masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar, yakni 1,31 miliar dolar AS, naik 10,9 persen yoy. Dari segmen ini, pendapatan dari sisi penumpang meningkat 11,5 persen menjadi 1,23 miliar dolar AS.
Sementara itu, pertumbuhan tertinggi berasal dari penerbangan tidak berjadwal yang naik 32,5 persen menjadi 272,8 juta dolar AS. Angkutan haji menjadi pendorong utama dengan pendapatan 232,2 juta dolar AS, melonjak 51,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan lain-lain juga meningkat 32,2 persen menjadi 209,2 juta dolar AS. Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang bisnis perawatan pesawat atau maintenance, repair and overhaul (MRO) yang naik 43,8 persen menjadi 87,4 juta dolar AS.
GIAA juga membukukan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) sebesar 74 juta dolar AS, naik 12,7 persen yoy dari 65,7 juta dolar AS. Angka tersebut telah memperhitungkan pendapatan lain-lain dan keuntungan selisih kurs.
"Sementara itu, EBITDA meningkat 5,8 persen menjadi 431,6 juta dolar AS. Rugi bersih GIAA menyusut 23,2 persen menjadi 113 juta dolar AS dari 147,1 juta dolar AS pada semester I 2025," tulis laporan tersebut.
2. Faktor penopang perbaikan kinerja Garuda Indonesia

Potret Garuda Indonesia, di bandara, (IDN Times/Dhiya Awlia Azzahra) Lebih lanjut, salah satu penopang perbaikan kinerja GIAA berasal dari penurunan beban keuangan. Beban keuangan turun 11,6 persen menjadi 222,4 juta dolar AS dari 251,6 juta dolar AS pada semester I 2025.
Beban bunga dari liabilitas sewa, obligasi hingga utang usaha seluruhnya lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Penurunan tersebut tidak lepas dari suntikan modal Danantara Asset Management senilai Rp23,67 triliun pada Desember 2025.
Tak lama setelah dana tersebut masuk, anak usaha GIAA, Citilink Indonesia, melunasi pokok utang hasil restrukturisasi kepada Pertamina pada 10 Desember 2025. Alhasil, beban keuangan grup kepada Pertamina turun menjadi 4,7 juta dolar AS dari 11,8 juta dolar AS setahun sebelumnya. Beban bunga utang usaha secara keseluruhan juga turun lebih dari separuh menjadi 6,6 juta dolar AS.
3. Beban avtur pada semester I naik 43,6 persen

Pengisian Avtur di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali. (Dok/Pertamina Patra Niaga) Di sisi lain, perbaikan kinerja tersebut terjadi di tengah lonjakan biaya bahan bakar. Beban avtur GIAA pada semester I 2026 naik 43,6 persen yoy menjadi 677,6 juta dolar AS.
Porsi beban avtur terhadap pendapatan juga meningkat menjadi sekitar 37,7 persen dari 30,5 persen pada periode yang sama tahun lalu. Di luar avtur, GIAA masih mampu menahan laju biaya. Biaya non-bahan bakar hanya naik 3,9 persen menjadi sekitar 1,07 miliar dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan yang mencapai 16 persen.
Alhasil, porsi biaya non-avtur terhadap pendapatan turun menjadi 59,7 persen dari 66,7 persen setahun sebelumnya. Artinya, dari setiap 1 dolar AS pendapatan, biaya di luar avtur yang dikeluarkan GIAA kini sekitar 60 sen, turun dari 67 sen.
Secara total, beban usaha GIAA memang meningkat 16,4 persen. Namun, sekitar 84 persen dari tambahan beban tersebut berasal dari avtur, yang harganya sangat dipengaruhi kondisi pasar global.
Pemulihan armada juga tercermin dari pengeluaran untuk pemeliharaan pesawat. Sepanjang semester I 2026, GIAA membayar 232,1 juta dolar AS untuk aset pemeliharaan pesawat, terutama perawatan mesin. Nilai tersebut lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
4. Total pinjaman turun 4 persen

ilustrasi utang (unsplash.com/rc.xyz NFT gallery) Sementara itu, di sisi lain, utang perseroan juga berkurang. Total pinjaman GIAA, termasuk liabilitas sewa, obligasi dan pinjaman bank, turun 4 persen menjadi 3,76 miliar dolar AS per 30 Juni 2026 dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar 3,92 miliar dolar AS.
Liabilitas sewa turun dari 2,49 miliar dolar AS menjadi 2,34 miliar dolar AS setelah perseroan membayar pokok sewa 158,9 juta dolar AS sepanjang semester I 2026. Arus kas operasional tercatat positif 253,1 juta dolar AS. Sementara itu, kas dan setara kas per akhir Juni 2026 mencapai 624,3 juta dolar AS.
Dalam laporan keuangan tersebut, GIAA juga melakukan penyesuaian terhadap angka pembanding tahun 2025 atau penyajian kembali. Penyesuaian terutama terkait pengukuran estimasi biaya perawatan dan pengembalian pesawat sewa yang disesuaikan dengan ketentuan kontrak sewa. Penyesuaian tersebut bersifat nonkas. Dengan demikian, secara year on year, posisi ekuitas GIAA membaik. Per 30 Juni 2025, defisiensi modal perseroan masih mencapai 1,50 miliar dolar AS.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























