ilustrasi pusat data (pexels.com/panumas nikhomkhai)
Kajian lembaga riset tersebut menunjukkan bahwa rintangan terberat bukan sekadar kapasitas pembangkitan, melainkan kesiapan integrasi jaringan transmisi. Keterbatasan gardu induk dan jaringan transmisi lokal menjadi faktor penentu kelancaran pembangunan fasilitas teknologi tersebut. BMI mencatat, “Akses ke sambungan jaringan listrik bisa menjadi kendala yang lebih besar daripada ketersediaan pembangkit listrik secara keseluruhan, yang berpotensi menunda sejumlah besar proyek yang direncanakan”.
Perusahaan utilitas Malaysia, Tenaga Nasional Bhd, berencana mengucurkan investasi 43 miliar ringgit atau setara Rp189,99 triliun untuk memodernisasi dan meningkatkan keandalan infrastruktur jaringan listrik. Kendati demikian, pengerjaan proyek infrastruktur transmisi skala besar biasanya memerlukan waktu antara lima hingga sepuluh tahun hingga tuntas beroperasi. Periode pembangunan infrastruktur kelistrikan tersebut jauh lebih lambat jika dibandingkan dengan kecepatan konstruksi pusat data komersial.
BMI menggarisbawahi bahwa ketimpangan waktu ini memicu ketidaksesuaian jadwal penyelesaian dan peluncuran proyek komersial. Dalam laporannya, lembaga itu memaparkan, “Sebagai perbandingan, pembangunan pusat data dapat berkembang jauh lebih cepat, sehingga menciptakan ketidaksesuaian antara kesiapan infrastruktur dan jadwal proyek komersial.” Oleh sebab itu, proyek yang telah mengamankan sambungan jaringan, memiliki komitmen penyewa, dan sokongan finansial kuat memiliki posisi lebih baik untuk rampung sesuai jadwal.