Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

IMF Ungkap Biaya Kesehatan Bikin Warga China Irit dan Enggan Belanja

7 min read
IMF Ungkap Biaya Kesehatan Bikin Warga China Irit dan Enggan Belanja
ilustrasi warga China, karyawan restoran di China, lansia (unsplash.com/Zheng Yijun)
  • IMF mencatat warga pedesaan China mengalokasikan 8,7% pendapatan siap pakai untuk kesehatan, sementara warga kota 5,4%, sehingga ruang belanja kebutuhan lain menyempit.
  • Pendapatan siap pakai per kapita China sekitar US$6.400, jauh di bawah AS US$68.289; warga pedesaan juga berpenghasilan lebih rendah daripada warga kota.
  • IMF menilai peningkatan layanan kesehatan dan jaminan sosial dapat mengurangi tabungan berjaga-jaga, sementara penurunan harga rumah turut menekan konsumsi domestik China.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kondisi ekonomi suatu negara gak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan masyarakat, tapi juga oleh seberapa banyak uang yang tersisa setelah kebutuhan pokok terpenuhi. Salah satu pengeluaran yang bisa membebani keuangan rumah tangga adalah biaya kesehatan, terutama ketika masyarakat harus menyisihkan sebagian penghasilan untuk berobat dan mengantisipasi kebutuhan medis.

Persoalan ini menjadi perhatian Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) dalam kajiannya mengenai model pertumbuhan ekonomi China. Menurut IMF, tingginya biaya kesehatan menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat China lebih memilih menabung daripada membelanjakan uangnya. Kondisi tersebut penting diperhatikan karena ketika masyarakat menahan pengeluaran, konsumsi rumah tangga yang berperan dalam menggerakkan perekonomian juga bisa ikut terhambat.

Yuk, simak lima poin berikut untuk memahami bagaimana biaya kesehatan dan kondisi ekonomi memengaruhi kebiasaan belanja masyarakat China.

  1. 1. Biaya kesehatan menyerap sebagian besar pendapatan warga China

    ilustrasi rumah sakit, pasien, perawat
    ilustrasi rumah sakit, pasien, perawat (pexels.com/RDNE Stock project)

    Dalam kajiannya mengenai model pertumbuhan ekonomi China, IMF mengungkapkan bahwa masyarakat pedesaan China mengalokasikan 8,7 persen pendapatan siap pakai atau disposable income untuk biaya kesehatan. Angka tersebut merupakan yang tertinggi kedua di antara 20 negara dan perekonomian utama yang dibandingkan. Amerika Serikat berada di posisi pertama, dengan pengeluaran kesehatan mencapai hampir 9,9 persen dari pendapatan siap pakai. Temuan ini menunjukkan bahwa beban biaya kesehatan masyarakat pedesaan China relatif tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain dalam penelitian tersebut.

    Kondisi masyarakat perkotaan China juga perlu diperhatikan. Data perbandingan yang ditampilkan melalui Datawrapper menunjukkan bahwa pengeluaran kesehatan masyarakat perkotaan China mencapai 5,4 persen dari pendapatan siap pakai. Angka itu menempatkan China di posisi ketiga, sedikit lebih tinggi dibandingkan Kanada. Meski persentasenya lebih rendah daripada wilayah pedesaan, pengeluaran kesehatan tetap mengambil bagian dari uang yang sebenarnya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan lain.

    Kalau dilihat sekilas, persentase tersebut mungkin terasa gak terlalu besar. Namun, dampaknya akan berbeda ketika pendapatan masyarakat ikut diperhitungkan. Rumah tangga dengan penghasilan terbatas cenderung memiliki ruang lebih sempit untuk membayar kebutuhan kesehatan sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, mereka bisa memilih menunda pembelian barang, mengurangi hiburan, atau menyimpan uang lebih banyak sebagai persiapan menghadapi pengeluaran medis.

  2. 2. Pendapatan warga China jauh lebih rendah dibandingkan AS

    ilustrasi warga China, karyawan restoran di China, bisnis kuliner
    ilustrasi warga China, karyawan restoran di China, bisnis kuliner (unsplash.com/MChe Lee)

    Besarnya beban biaya kesehatan menjadi semakin jelas ketika dibandingkan dengan kemampuan finansial masyarakat di negara lain. Data pendapatan siap pakai per kapita Amerika Serikat yang tercatat dalam Federal Reserve Economic Data (FRED), basis data ekonomi yang dikelola Federal Reserve Bank of St. Louis, digunakan untuk melihat kondisi pendapatan masyarakat AS. Dalam perbandingan yang dipaparkan IMF, pendapatan siap pakai per kapita AS mencapai US$68.289 pada akhir tahun sebelumnya, sedangkan China tercatat sebesar 43.377 yuan atau sekitar US$6.400. Dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS, kedua angka tersebut setara dengan sekitar Rp1,13 miliar dan Rp105,6 juta.

    Perbedaan pendapatan itu membuat beban pengeluaran kesehatan perlu dipahami secara lebih menyeluruh. Meskipun persentase pengeluaran kesehatan masyarakat pedesaan China lebih rendah daripada AS, pendapatan yang jauh lebih kecil membuat ruang keuangan mereka juga terbatas. Ketika sebagian penghasilan harus dialokasikan untuk kebutuhan medis, uang yang tersisa untuk belanja sehari-hari bisa semakin sedikit. Situasi ini berpotensi mendorong rumah tangga menunda pembelian yang dianggap belum mendesak.

    Coba bayangkan ketika kamu harus membagi penghasilan untuk biaya makan, tempat tinggal, transportasi, dan kebutuhan kesehatan sekaligus. Jika pendapatanmu terbatas, menyimpan uang untuk menghadapi kemungkinan sakit di masa depan bisa terasa lebih penting daripada membeli barang baru. Pola pikir seperti ini dapat dimengerti sebagai upaya menjaga keamanan keuangan rumah tangga. Namun, ketika banyak keluarga melakukan hal serupa, konsumsi masyarakat secara keseluruhan juga berpotensi melemah.

  3. 3. Warga pedesaan menghadapi tekanan keuangan lebih besar

    ilustrasi Zhujiajiao, China, desa di China, penduduk lokal China
    ilustrasi Zhujiajiao, China, desa di China, penduduk lokal China (unsplash.com/Chastagner Thierry)

    Kesenjangan pendapatan antara wilayah perkotaan dan pedesaan China turut memperlihatkan mengapa beban biaya kesehatan menjadi persoalan penting. Mengutip CNBC, data resmi yang diakses melalui Wind Information menunjukkan pendapatan siap pakai masyarakat perkotaan mencapai 56.502 yuan, sedangkan masyarakat pedesaan hanya 24.456 yuan. Dengan asumsi kurs Rp2.300 per yuan, angka tersebut setara dengan sekitar Rp129,95 juta dan Rp56,25 juta per tahun. Perbedaan ini membuat rumah tangga pedesaan memiliki ruang keuangan yang lebih terbatas untuk menghadapi kebutuhan rutin maupun pengeluaran tak terduga.

    IMF menilai peningkatan belanja pemerintah untuk layanan kesehatan dan jaminan sosial di wilayah pedesaan dapat membantu mengurangi kebutuhan rumah tangga untuk menabung sebagai langkah berjaga-jaga. Penilaian tersebut didasarkan pada analisis di tingkat prefektur di China. Ketika perlindungan sosial lebih memadai, masyarakat berpotensi merasa lebih aman karena gak harus menanggung seluruh risiko keuangan ketika menghadapi masalah kesehatan. Dengan begitu, sebagian pendapatan yang sebelumnya disimpan sebagai cadangan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan lain.

    Kondisi ini relevan bagi kamu yang sedang memahami hubungan antara pendapatan, biaya hidup, dan kebiasaan menabung. Menabung memang penting untuk menghadapi keadaan darurat, tapi ketidakpastian biaya kesehatan bisa membuat seseorang merasa harus menahan pengeluaran lebih besar daripada yang sebenarnya diperlukan. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, keputusan tersebut sering kali menjadi cara untuk mengurangi risiko keuangan. Karena itu, perlindungan sosial yang memadai dapat berperan dalam menciptakan rasa aman sekaligus mendukung aktivitas konsumsi.

  4. 4. Perlindungan sosial memengaruhi kebiasaan menabung

    ilustrasi Zhapulu Bridge, Waitan, Huangpu, Shanghai, China
    ilustrasi Zhapulu Bridge, Waitan, Huangpu, Shanghai, China (unsplash.com/Dongsh)

    IMF menyoroti bahwa belanja sosial China masih relatif rendah dibandingkan negara-negara lain. Dalam kajiannya, ekonom IMF Yizhi Xu dari divisi Asia Utara Departemen Asia dan Pasifik serta Fan Zhang, wakil perwakilan tetap IMF di Beijing, menjelaskan bahwa peningkatan belanja sosial dapat membantu mendorong konsumsi masyarakat. Kebijakan tersebut mencakup dukungan terhadap kesehatan dan jaminan sosial, terutama bagi kelompok yang membutuhkan perlindungan lebih besar. Dengan perlindungan yang memadai, rumah tangga diharapkan gak perlu menyimpan terlalu banyak uang hanya untuk mengantisipasi risiko di masa depan.

    Perbedaan kebiasaan menabung juga terlihat antara pekerja migran dari pedesaan dan penduduk yang memiliki status registrasi kependudukan perkotaan di China. Dalam analisis yang ditulis ekonom IMF Yizhi Xu dan Fan Zhang, tingkat tabungan pekerja dari pedesaan yang bekerja di kota tercatat sekitar 14 persen, sedangkan penduduk dengan status hukou perkotaan sekitar 6 persen. Hukou merupakan sistem registrasi kependudukan di China yang berkaitan dengan akses terhadap layanan publik dan manfaat sosial. Perbedaan tingkat tabungan ini menunjukkan bahwa akses terhadap perlindungan sosial dapat berkaitan dengan cara masyarakat mengelola pendapatan dan mempersiapkan kebutuhan di masa depan.

    Bagi pekerja migran dari pedesaan, bekerja di kota gak selalu berarti memperoleh keamanan finansial yang sama dengan penduduk setempat. Mereka mungkin memiliki penghasilan, tapi tetap menghadapi ketidakpastian mengenai akses terhadap berbagai manfaat sosial. Dalam situasi tersebut, menyimpan lebih banyak uang menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan kebutuhan kesehatan dan pengeluaran darurat lainnya. Akibatnya, uang yang berpotensi dibelanjakan untuk barang dan jasa justru lebih banyak disimpan.

  5. 5. Penurunan harga rumah ikut menekan konsumsi

    ilustrasi Maoping village, Tonglu, Hangzhou, Zhejiang, China, lansia sedang jalan kaki, rumah di desa
    ilustrasi Maoping village, Tonglu, Hangzhou, Zhejiang, China, lansia sedang jalan kaki, rumah di desa (unsplash.com/Cici GUAN)

    Biaya kesehatan bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi keputusan masyarakat China untuk menahan pengeluaran. Xu dan Zhang juga menyoroti penurunan harga rumah dalam beberapa tahun terakhir yang terus membebani konsumsi rumah tangga. Ketika nilai properti menurun, sebagian pemilik rumah dapat merasa kondisi keuangannya memburuk karena salah satu aset utama mereka kehilangan nilai. Kekhawatiran tersebut bisa mendorong mereka mengurangi belanja dan mempertahankan lebih banyak uang sebagai cadangan.

    IMF juga menyoroti lemahnya permintaan domestik China sebagai tantangan bagi model pertumbuhan ekonominya. Dalam pembahasannya mengenai arah pertumbuhan ekonomi China, IMF menekankan pentingnya memperkuat konsumsi rumah tangga dan jaring pengaman sosial. Kedua hal tersebut berkaitan karena masyarakat cenderung lebih leluasa menggunakan uangnya ketika merasa memiliki perlindungan yang cukup untuk menghadapi risiko keuangan.

    Kalau biaya kesehatan masih terasa berat, perlindungan sosial belum memadai, dan nilai aset mengalami tekanan, rumah tangga bisa semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang. Pengeluaran untuk hiburan, barang baru, atau kebutuhan yang tidak mendesak mungkin menjadi hal pertama yang dikurangi. Jika kecenderungan ini terjadi pada banyak keluarga, permintaan terhadap barang dan jasa bisa ikut melemah. Karena itu, upaya mendorong konsumsi masyarakat China perlu memperhatikan keamanan finansial rumah tangga, bukan hanya peningkatan pendapatan.

    Temuan IMF memperlihatkan bahwa tingginya biaya kesehatan menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat China lebih memilih menabung daripada berbelanja. Tekanan ini terasa lebih besar bagi warga pedesaan yang memiliki pendapatan lebih rendah dan menghadapi keterbatasan akses terhadap manfaat sosial. Data pendapatan dari FRED serta visualisasi perbandingan pengeluaran kesehatan melalui Datawrapper membantu memberikan gambaran tambahan mengenai perbedaan kondisi tersebut.

    Di sisi lain, penurunan harga rumah juga dapat memperkuat kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi keuangan mereka. Pada akhirnya, meningkatkan konsumsi masyarakat gak cukup hanya dengan mendorong mereka agar lebih banyak berbelanja, tapi juga perlu diikuti perlindungan sosial yang memadai agar rumah tangga merasa lebih aman menggunakan pendapatannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More