LPEI Ungkap Eksportir yang Berisiko Tertekan Imbas Konflik Timur Tengah

- LPEI melakukan stress test untuk mengidentifikasi dampak konflik AS-Israel versus Iran terhadap eksportir Indonesia sejak awal Februari 2026.
- Tiga risiko utama yang ditemukan meliputi penurunan permintaan dari Timur Tengah, gangguan rantai pasokan global, dan gejolak kurs rupiah di atas Rp17 ribu per dolar AS.
- Industri manufaktur berbasis impor serta eksportir dengan pasar utama di kawasan konflik diprediksi tertekan, namun LPEI tetap optimistis menargetkan pertumbuhan portofolio pembiayaan lebih dari 10 persen pada 2026.
Surabaya, IDN Times - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank mengungkapkan adanya sejumlah faktor risiko yang punya potensi memberikan dampak langsung terhadap eksportir imbas perang Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran.
Direktur Pelaksana Bisnis II LPEI, Sulaeman menyatakan, risiko-risiko yang berhasil diidentifikasi diketahui lewat stress test yang dilakukan LPEI sejak perang meletus awal akhir Februari tahun ini.
"Jadi kalau kami di LPEI begitu ada kejadian seperti geopolitik, yang pertama kita lakukan itu melakukan stress testing," kata Sulaeman di Gresik, Jawa Timur, Jumat (17/4/2026).
1. Tiga faktor risiko

Sulaeman menambahkan, setidaknya ada tiga faktor risiko, yakni pertama menurunnya permintaan dari pembeli di kawasan Timur Tengah. Kedua, terkait dengan gangguan rantai pasokan global, dan ketiga menyangkut gejolak kurs rupiah yang saat ini sudah tembus di atas Rp17 ribu per dolar AS.
"Kalau dari kami memang kita sudah melakukan antisipasi. Seberapa besar sih impact-nya ini terhadap seluruh portfolio yang kita miliki," ujar Sulaeman.
2. Eksportir yang diprediksi mengalami tekanan bisnis

Adapun dari tiga faktor risiko tersebut, ada sejumlah eksportir yang menurut Sulaeman akan mengalami tekanan bisnis. Terbesar adalah industri manufaktur yang bahan baku utamanya berasal dari impor.
"Jadi kalau saat ini, kita yang terdampak manufaktur ya pasti karena khususnya manufaktur yang sumber bahan bakunya mengandalkan impor," ujar Sulaeman.
Selain itu, eksportir yang mayoritas pembelinya dari negara-negara terkait konflik juga akan mengalami tekanan. Oleh karena itu, dia menegaskan, pentingnya melakukan diversifikasi negara-negara tujuan ekspor.
"Kalau tujuan ekspor tradisional kan Amerika, Eropa, Jepang dan sebagainya. Justru kita mengembangkan dengan program PKE (penugasan khusus ekspor) itu tujuan ekspor baru agar ada diversifikasi negara tujuan ekspor. Yang namanya Afrika, Asia Selatan, itu termasuk kawasan yang menjadi tujuan ekspor baru," tutur Sulaeman.
3. LPEI belum berencana ubah RKAT 2026

Meski begitu, Sulaeman mengaku LPEI belum berencana mengubah target Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026 lantaran gejolak geopolitik belum jelas kapan akan berakhir. LPEI, kata Sulaeman, masih optimistis dapat meningkatkan portofolio pembiayaan sekitar 10 perseb dari capaian hingga 2025 sebesar Rp36 triliun.
"Jadi untuk yang segmen korporasi mungkin pertumbuhannya ditetapkan di angka di bawah 10 persen lah, tapi kalau yang UKM, komersial, segmen-segmen menengah itu, kita harapkan itu bisa tumbuhnya di atas 10 persen, sehingga secara keseluruhan portfolio-nya kita itu bisa meningkat di atas 10 persen," tutur dia.

















