Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cerita Luhut Telepon Prabowo, Ungkap Tantangan Terbesar Program MBG
Luhut Pandjaitan bersama dengan Prabowo Subianto. (www.instagram.com/@luhut.pandjaitan)
  • Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan kepada Prabowo Subianto bahwa pelaksanaan Program MBG harus berjalan benar, konsisten, dan manfaatnya dirasakan masyarakat.
  • Lokasi SPPG diminta diarahkan ke wilayah 3T dan daerah dengan prevalensi stunting tinggi berdasarkan data kerentanan pangan serta tantangan geografis.
  • DEN mendukung pembenahan tata kelola MBG, termasuk digitalisasi sistem BGN untuk memantau rantai pasok, kualitas makanan, dan kinerja SPPG.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Jumat (14/8/2026)

Luhut Binsar Pandjaitan berbicara melalui telepon dengan Presiden Prabowo Subianto setelah pidato kenegaraan. Ia menyampaikan tantangan pelaksanaan Program MBG.

Kamis (20/8/2026)

Luhut menceritakan isi pembicaraannya dengan Prabowo melalui Instagram. Ia juga menyampaikan dukungan DEN untuk pembenahan tata kelola MBG dan digitalisasi sistem BGN.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan tantangan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis dan pembenahan tata kelolanya.
  • Who?
    Luhut Binsar Pandjaitan, Presiden Prabowo Subianto, Kepala BGN Sudaryono, DEN, dan BGN.
  • Where?
    Wilayah 3T serta daerah dengan prevalensi stunting tinggi, seperti Papua, Maluku, Nias, dan Nusa Tenggara Timur.
  • When?
    Pembicaraan telepon dilakukan setelah pidato kenegaraan pada Jumat (14/8/2026), dan Luhut menyampaikannya pada Kamis (20/8/2026).
  • Why?
    Untuk memastikan eksekusi MBG berjalan benar, konsisten, dan manfaatnya dirasakan masyarakat.
  • How?
    Melalui penentuan lokasi SPPG berbasis data, pengawasan ketat, penutupan SPPG yang belum memenuhi standar, serta digitalisasi sistem BGN.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Luhut menelepon Presiden Prabowo setelah pidato kenegaraan. Mereka membahas Program Makan Bergizi Gratis. Luhut bilang program ini harus dijalankan dengan benar dan tetap sama caranya. Luhut juga ingin dapur makanan lebih dulu ada di tempat yang paling sulit dan membutuhkan. DEN akan membantu memperbaiki sistemnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penekanan pada data akurat, pengawasan ketat, dan koreksi atas kekeliruan menunjukkan pembenahan tata kelola MBG diarahkan pada kualitas pelaksanaan. Prioritas bagi wilayah 3T dan daerah dengan prevalensi stunting tinggi juga menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai dasar penentuan lokasi SPPG, disertai pemantauan digital atas rantai pasok dan kualitas makanan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkap isi pembicaraannya dengan Presiden Prabowo Subianto melalui telepon setelah pidato kenegaraan pada Jumat (14/8/2026). Luhut menyampaikan tantangan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hal itu diceritakan Luhut saat mengundang Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono untuk membahas pembenahan tata kelola MBG. Luhut mengatakan, meski MBG menjadi program unggulan Prabowo, ada sejumlah tantangan.

"Saya juga sampaikan isi pembicaraan saya dengan Presiden Prabowo via telepon seusai pidato kenegaraan Jum'at lalu; bahwa meskipun MBG adalah program "flagship" beliau, tetapi ada tantangan terbesar yaitu memastikan eksekusinya berjalan benar, konsisten, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," kata Luhut melalui Instagram-nya, Kamis (20/8/2026).

1. Luhut minta SPPG diprioritaskan di wilayah 3T

Ilustrasi: Pengolahan MBG di SPPG Gagaksipat, Boyolali. (IDN Times/Larasati Rey)

Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) itu menekankan perlunya mengarahkan kembali lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menurut dia, penentuan lokasi SPPG alias dapur MBG tidak boleh hanya mempertimbangkan kemudahan pembangunan atau akses lokasi. Saat ini, sekitar 1.700 SPPG disiapkan untuk berfokus di daerah dengan prevalensi stunting tinggi, seperti Papua, Maluku, Nias, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Negara harus hadir lebih dahulu di tempat yang paling sulit dan paling membutuhkan. Penentuan lokasi wajib berbasis data yang akurat mengenai angka prevalensi stunting, kerentanan pangan, dan tantangan geografis," papar Luhut.

2. Luhut apresiasi penutupan 1.300 SPPG

SPPG di Desa Kawu yang memproduksi dan menyalurkan makanan MBG untuk wilayah tersebut hingga kini masih ditutup sementara oleh BGN. IDN Times/Riyanto.

Luhut menekankan setiap keputusan strategis harus menggunakan data yang akurat dan pengawasan yang ketat. Koreksi juga perlu dilakukan jika ditemukan kekeliruan dalam pelaksanaan program. Dia mengapresiasi langkah Sudaryono menutup 1.300 SPPG yang belum memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.

"Ketegasan seperti ini diperlukan bukan hanya untuk mencari kesalahan, tetapi demi menjaga kualitas gizi anak-anak Indonesia sejak dari proses yang paling sederhana," ujar dia.

3. DEN dorong digitalisasi sistem BGN

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan di kantornya, Jakarta, Senin (25/5/2026). (IDN Times/Trio Hamdani)

Luhut mengatakan, DEN akan mendukung pembenahan tata kelola MBG melalui rekomendasi yang diperlukan serta penguatan digitalisasi sistem BGN. Digitalisasi tersebut diarahkan untuk memantau rantai pasok, kualitas makanan, dan kinerja setiap SPPG secara transparan dan aktual.

Luhut menegaskan, pengelolaan MBG harus memastikan setiap rupiah uang negara digunakan untuk menyediakan makanan bergizi dan menyehatkan bagi masyarakat.

"Dewan Ekonomi Nasional siap mendukung perbaikan tata kelola MBG dengan memberikan rekomendasi yang dibutuhkan serta memperkuat digitalisasi sistem BGN," kata Luhut.

Curated For You

Editorial Team

Related Article