Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mandiri Energi, DPR Dorong Elektrifikasi di Tengah Konflik Global

Mandiri Energi, DPR Dorong Elektrifikasi di Tengah Konflik Global
Ilustrasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). (Dok. PLN)
Intinya Sih
  • Sugeng Suparwoto menegaskan pentingnya elektrifikasi kendaraan dan kompor listrik sebagai strategi memperkuat kemandirian energi nasional di tengah ketidakpastian global.
  • Elektrifikasi kendaraan dinilai mampu mengalihkan konsumsi energi dari BBM ke listrik domestik, seiring meningkatnya beban subsidi energi yang terus membesar tiap tahun.
  • Konversi kompor gas ke listrik didorong untuk efisiensi dan pemanfaatan jaringan listrik nasional, sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih yang lebih berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menekankan pentingnya elektrifikasi kendaraan dan penggunaan kompor listrik sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional di tengah dinamika global, termasuk konflik kawasan Timur Tengah.

"Kondisi saat ini menjadi pengingat bagi Indonesia untuk segera memperkuat kemandirian energi melalui pemanfaatan sumber daya domestik, terutama ketenagalistrikan di tengah risiko stabilitas pasokan dan harga energi dunia," kata Sugeng, di Jakarta, Jumat (3/4/2026).

1. Elektrifikasi kendaraan langkah strategis pengalihan konsumsi energi

IMG-20251217-WA0012.jpg
Ilustrasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum. (IDN Times/Daruwaskita)

Sugeng menjelaskan, elektrifikasi kendaraan merupakan langkah strategis untuk mengalihkan konsumsi energi di sektor transportasi dari bahan bakar fosil ke listrik.

"Dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, konsumsi energi dapat lebih bertumpu pada sistem kelistrikan nasional yang bersumber dari dalam negeri," kata Sugeng.

Dalam beberapa tahun terakhir, data menunjukkan, subsidi energi meningkat dari Rp95,7 triliun (2020) menjadi Rp159,6 triliun (2023). Angka itu kemudian naik lagi ke Rp203,4 triliun pada 2024, terutama untuk BBM dan LPG. Bahkan pada 2025, total anggaran mencapai Rp394,3 triliun dan direncanakan Rp210,06 triliun dalam RAPBN 2026 dengan porsi besar tetap untuk BBM dan LPG.

2. Konversi kompor gas ke listrik

ilustrasi kompor listrik modern dengan fitur layar sentuh (freepik.com/Ana-free)
ilustrasi kompor listrik modern dengan fitur layar sentuh (freepik.com/Ana-free)

Untuk itu, Sugeng juga mendorong konversi kompor berbahan bakar gas ke listrik di tingkat rumah tangga.

"Penggunaan kompor listrik dapat menjadi alternatif yang lebih efisien sekaligus memanfaatkan jaringan listrik yang telah tersedia luas di berbagai daerah," ujar dia.

3. Transisi menuju energi bersih dan upaya hadapi ketidakpastian global

Mobil listrik sedang mengisi daya.
ilustrasi kendaraan listrik (pixabay.com/Pixaline)

Sugeng pun menegaskan, kedua langkah tersebut tidak hanya mendukung transisi menuju energi bersih, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghadapi ketidakpastian global.

"Peningkatan konsumsi listrik domestik secara produktif akan memperkuat sistem energi nasional di tengah tekanan eksternal," kata dia.

Oleh karena itu, kebijakan elektrifikasi kendaraan dan kompor listrik perlu didukung oleh regulasi yang matang agar implementasinya berjalan efektif dan tidak membebani masyarakat.

"Dengan demikian, transisi energi dapat berlangsung bertahap sekaligus memberikan manfaat nyata bagi ketahanan energi nasional," ujar Sugeng.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Latest in Business

See More