Outflow Mengintai, World Bank Wanti-wanti Risiko ke Pasar Keuangan RI

- World Bank memperingatkan potensi derasnya arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia, akibat meningkatnya ketidakpastian global yang dapat menekan pasar saham dan obligasi domestik.
- Laporan menunjukkan kondisi keuangan global berubah cepat menjadi lebih ketat, memicu aliran modal keluar dan lonjakan inflasi di kawasan Asia Timur dan Pasifik.
- Pelemahan nilai tukar serta kenaikan spread obligasi menandakan meningkatnya risiko, sementara kedalaman pasar keuangan Indonesia yang terbatas membuat ekonomi lebih rentan terhadap gejolak eksternal.
Jakarta, IDN Times - Kepala Ekonom Asia Timur dan Pasifik World Bank, Aditya Mattoo, mengingatkan adanya potensi derasnya arus keluar modal (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia, di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat.
Ia mengatakan fenomena ini dinilai berpotensi menekan pasar keuangan domestik, baik saham maupun obligasi, serta membayangi prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
“Ini ironis. Ketika terjadi kekacauan, siapa pun pemicunya, modal akan mencari tempat yang paling aman,” ujar Mattoo dalam laporan perkembangan ekonomi Asia Timur dan Pasifik, Rabu (8/4/2026).
1. Arus modal asing keluar menuju pasar yang stabil

Ia menjelaskan, dinamika pasar keuangan global saat ini bergerak sangat cepat dan sensitif terhadap sentimen risiko. Dalam kondisi seperti ini, arus modal mudah keluar dari negara berkembang menuju pasar yang lebih stabil.
Dampaknya, tekanan terhadap pasar saham dan obligasi di kawasan Asia Timur dan Pasifik, termasuk Indonesia, semakin terasa. Kondisi tersebut juga diperparah oleh tren kenaikan inflasi di sejumlah negara.
“Tekanan ini membuat tantangan negara berkembang semakin kompleks, terutama dari sisi keuangan,” ujarnya.
2. Dalam waktu singkat risiko global msningkat

Dalam laporannya, World Bank mencatat kondisi keuangan global yang sebelumnya relatif “jinak” kini berubah cepat menjadi lebih ketat. Perubahan ini terjadi hanya dalam waktu singkat seiring meningkatnya risiko global.
Tekanan serupa juga terjadi di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Bahkan, aliran modal keluar sudah terlihat di sejumlah negara, disertai lonjakan inflasi yang semakin memperburuk situasi.
"Kondisi semakin sulit ketika kita selesaikan laporan ini dalam beberapa waktu saja. Kini yang menjadi perhatian yang sama di Asia Timur dan Pasifik, khawatir aliran modal ke luar dari berbagai negara di Asia Timur dan Pasifik. Tekanan inflasi juga meningkat," tegasnya.
3. Kondisi nilai tukar di sejumlah negara tertekan

Selain arus keluar modal, pelemahan nilai tukar juga menjadi sinyal meningkatnya risiko. Mata uang baht Thailand, misalnya, sudah terdepresiasi sekitar 5 persen—mencerminkan tekanan yang juga berpotensi dialami negara lain di kawasan.
Mattoo menilai, Indonesia masih menghadapi tantangan struktural, terutama terkait kedalaman pasar keuangan yang relatif terbatas. Kondisi ini membuat gejolak eksternal lebih mudah mengguncang stabilitas domestik.
“Pasar yang dangkal membuat ekonomi lebih rentan. Tapi di sisi lain, ini juga peluang untuk memperdalam pasar agar lebih tangguh,” ucapnya.
4. Kenaikan spread imbal hasil cukup tinggi

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, kondisi saat ini mulai mengarah pada fase krisis, meski masih dalam batas terkendali. Salah satu indikatornya adalah kenaikan spread obligasi di Indonesia dan Filipina yang sudah mencapai sekitar 30 basis poin.
Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap instrumen utang negara berkembang, yang pada akhirnya bisa mendorong biaya pendanaan menjadi lebih mahal.
Meski demikian, Mattoo melihat peluang perbaikan jika ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah, dapat mereda. “Kalau konflik bisa diselesaikan, tren ini berpotensi membaik,” ujarnya.

















