Outlook Moody’s RI Negatif Dinilai Jadi Alarm Arah Kebijakan

- Perubahan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Moody’s Investors Service merupakan peringatan serius bagi arah kebijakan ekonomi ke depan.
- Menurunnya kepastian kebijakan pemerintah, tanda-tanda pemulihan ekonomi, dan sentimen dari rilis MSCI menjadi faktor utama di balik penurunan outlook Moody’s.
- Peningkatan lapangan kerja dan kepercayaan konsumen dinilai menopang pemulihan permintaan domestik, namun investor asing masih bersikap wait and see menyusul peringatan dari MSCI.
Jakarta, IDN Times – PT Macquarie Sekuritas Indonesia menilai perubahan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Moody’s Investors Service merupakan peringatan serius bagi arah kebijakan ekonomi ke depan.
Meski peringkat kredit Indonesia tetap dipertahankan di level Baa2 atau investment grade, risiko volatilitas pasar dinilai meningkat apabila kebijakan fiskal yang ekspansif tidak diiringi dengan reformasi pendapatan yang memadai. Selain itu, memburuknya posisi eksternal juga berpotensi memicu tekanan lanjutan terhadap peringkat kredit.
1. Ada 3 permasalahan yang disorot Moody's

Equity Strategy ASEAN, Ari Jahja mengidentifikasi tiga faktor utama di balik penurunan outlook Moody’s, yakni menurunnya kepastian kebijakan pemerintah termasuk di sektor sumber daya alam, belanja sosial yang besar di tengah basis pajak yang relatif terbatas
"Muncul perdebatan terkait potensi perubahan mandat dan tata kelola Bank Indonesia," tegasnya dalam risetnya, Jumat (6/2/2026).
2. Ada tanda-tanda pemulihan ekonomi

Meski demikian, Macquarie melihat tanda-tanda pemulihan makroekonomi. Peningkatan lapangan kerja dan kepercayaan konsumen dinilai menopang pemulihan permintaan domestik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 tercatat mencapai 5,39 persen secara tahunan, tertinggi sejak kuartal III 2022, dengan konsumsi dan investasi sebagai pendorong utama.
Dari sisi fiskal, pendapatan negara pada Januari 2026 meningkat 9,8 persen secara tahunan menjadi Rp172,7 triliun. Penerimaan pajak melonjak 31 persen menjadi Rp116,2 triliun, meski berasal dari basis rendah akibat isu Coretax dan restitusi pajak. Sebaliknya, penerimaan bea cukai dan penerimaan negara bukan pajak masing-masing turun 14 persen dan 20 persen," ungkapnya.
Di sisi lain, Ari menyebut pemerintah masih memiliki komitmen pemerintah untuk menjaga defisit fiskal di kisaran 3 persen PDB serta memastikan koordinasi kebijakan dengan Bank Indonesia tetap berjalan tanpa mengganggu independensi bank sentral.
3. Sentimen juga masih berasal dari rilis MSCI

Sentimen domestik berasal dari rilis MSCI sebelumnya terkait pengumuman penting pada akhir Januari 2026 yang menyoroti isu transparansi data dan free float rendah Progres eksekusi kebijakan menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan pasar, menyusul peringatan dari MSCI yang membuat investor asing masih bersikap wait and see.
"Setelah peringatan MSCI, diskusi dengan investor asing masih menunjukkan sikap “wait-and-see”. Selain prospek makro, fiskal, dan moneter, peningkatan kepastian dalam pengambilan kebijakan akan sangat penting untuk mendorong FDI," ungkap Ari.
Seiring meningkatnya risiko pasar khususnya pasca rilis laporan lainnya seperti MSCS, Macquarie menaikkan equity risk premium (ERP) Indonesia sebesar 25 basis poin. Penyesuaian ini terutama mencerminkan potensi volatilitas yang lebih tinggi, khususnya di sektor konsumer.
Meski demikian, Macquarie menilai fundamental Indonesia saat ini masih relatif tangguh dibandingkan periode tekanan pasar sebelumnya, sehingga percepatan reformasi tetap menjadi langkah yang bijaksana.















