ilustrasi roket, perusahaan teknologi luar angkasa, aerospace, SpaceX (pexels.com/SpaceX)
Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah dominasi SpaceX yang masih sangat kuat. Perusahaan tersebut mengoperasikan roket Falcon 9 dan Falcon Heavy serta melakukan peluncuran secara rutin untuk konstelasi Starlink dan berbagai pelanggan lainnya. Open Cosmos sendiri telah menggunakan layanan SpaceX dan Rocket Lab untuk meluncurkan satelit, selain bekerja sama dengan penyedia peluncuran Eropa seperti Arianespace. Perusahaan tersebut juga memiliki kesepakatan dengan penyedia peluncuran dari India dan Jepang.
Di tengah upaya mengejar ketertinggalan, koordinasi antarnegara Eropa juga menjadi tantangan. Komisaris Eropa untuk Pertahanan dan Antariksa, Andrius Kubilius, menyambut baik peningkatan investasi tapi memperingatkan bahwa ambisi tersebut bisa terganggu jika masing-masing negara terlalu fokus mengejar strategi nasional. Jadi, Eropa bukan hanya perlu mengumpulkan modal besar, tapi juga harus mampu menyatukan strategi agar berbagai perusahaan dan negara gak berjalan sendiri-sendiri. Kalau koordinasinya kuat, suntikan dana jumbo tersebut bisa membantu Eropa membangun ekosistem antariksa yang lebih kompetitif.
Pada akhirnya, derasnya pendanaan ke startup antariksa Eropa menjadi sinyal bahwa kawasan tersebut mulai serius membangun kekuatan sendiri di industri luar angkasa. Open Cosmos dengan modal sekitar Rp5,5 triliun, The Exploration Company sekitar Rp7,1 triliun, hingga program Marlan Space dan Loft Orbital senilai sekitar Rp15,8 triliun menunjukkan besarnya uang yang mulai mengalir ke sektor ini.
Namun, jalan untuk menyaingi SpaceX masih panjang karena Amerika Serikat memiliki keunggulan dalam investasi swasta, anggaran pemerintah, dan frekuensi peluncuran. Kalau Eropa mampu menggabungkan modal jumbo dengan koordinasi lintas negara yang lebih solid, persaingan industri antariksa global bisa menjadi jauh lebih sengit.