Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

PDB AS Kuartal IV-2025 hanya Tumbuh 1,4 Persen, Meleset dari Proyeksi

PDB AS Kuartal IV-2025 hanya Tumbuh 1,4 Persen, Meleset dari Proyeksi
ilustrasi belanja di supermarket (pexels.com/Jack Sparrow)
Intinya Sih
  • Pertumbuhan PDB riil AS kuartal IV-2025 hanya 1,4 persen, jauh di bawah proyeksi pasar dan menurun tajam dari 4,4 persen pada kuartal sebelumnya.
  • Penutupan pemerintah federal selama 43 hari menjadi faktor utama perlambatan ekonomi, memangkas sekitar 1–1,5 persen pertumbuhan dan menimbulkan kerugian permanen miliaran dolar AS.
  • Sepanjang 2025, ekonomi AS tumbuh lemah dengan pasar kerja lesu dan konsumsi melambat, sementara kebijakan suku bunga diperkirakan tetap stabil oleh Federal Reserve.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Biro Analisis Ekonomi Amerika Serikat (BEA) melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) riil hanya tumbuh 1,4 persen secara tahunan pada kuartal IV-2025. Angka tersebut terpaut lebar dari ekspektasi pasar karena konsensus Dow Jones memperkirakan 2,5 persen, sementara jajak pendapat ekonom Reuters memproyeksikan 3,0 persen.

Proyeksi itu disusun sebelum data defisit perdagangan Desember dipublikasikan. Sebelumnya, ekonomi AS sempat melesat 4,4 persen pada kuartal III-2025, namun laju itu terpangkas drastis. Penurunan dipicu penutupan pemerintah federal selama 43 hari sejak 1 Oktober hingga 12 November 2025, yang tercatat sebagai shutdown terpanjang dan mengganggu berbagai aktivitas ekonomi lintas sektor.

1. Shutdown pemerintah pangkas pertumbuhan PDB AS

PDB AS Kuartal IV-2025 hanya Tumbuh 1,4 Persen, Meleset dari Proyeksi
ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Departemen Perdagangan AS menghitung shutdown tersebut memangkas sekitar 1 persen dari pertumbuhan PDB, walau besaran pastinya sulit diukur. Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperkirakan dampaknya lebih dalam, sekitar 1,5 persen. Tekanan itu muncul akibat penyusutan layanan federal, penurunan belanja barang dan jasa pemerintah, serta penghentian sementara bantuan pangan melalui Program Bantuan Nutrisi Tambahan (SNAP).

Dilansir dari The Guardian, CBO memperkirakan sebagian besar output yang hilang dapat kembali pada periode selanjutnya. Namun, lembaga itu juga mencatat ada kerugian permanen senilai 7–14 miliar dolar AS (sekitar Rp118-236 triliun). Kerugian tersebut menunjukkan dampak jangka panjang dari shutdown berkepanjangan.

2. Pertumbuhan 2025 melemah dibayangi pasar kerja lesu

PDB AS Kuartal IV-2025 hanya Tumbuh 1,4 Persen, Meleset dari Proyeksi
ilustrasi pekerja pabrik (pexels.com/Tiger Lily)

Secara keseluruhan, pertumbuhan PDB AS sepanjang 2025 berada di level 2,2 persen, lebih rendah dibandingkan 2,8 persen pada 2024. Sepanjang tahun itu, penciptaan lapangan kerja hanya mencapai 181 ribu posisi. Jumlah tersebut menjadi yang terendah di luar masa pandemi sejak Resesi Besar 2009, jauh di bawah 1,459 juta pekerjaan yang tercipta setahun sebelumnya.

Sejumlah ekonom menggambarkan 2025 sebagai ekspansi tanpa penyerapan tenaga kerja serta pemulihan berbentuk K. Kelompok berpendapatan tinggi relatif mampu bertahan, sedangkan rumah tangga berpendapatan rendah tertekan inflasi, tarif impor, dan stagnasi upah. Sementara itu, derasnya investasi pada aal imitasi (AI) mencakup pusat data, semikonduktor, perangkat lunak, hingga riset dan pengembangan membantu menopang pertumbuhan pada tiga kuartal pertama sekaligus meredam dampak tarif serta penurunan imigrasi.

3. Konsumsi melemah suku bunga diprediksi stabil

PDB AS Kuartal IV-2025 hanya Tumbuh 1,4 Persen, Meleset dari Proyeksi
ilustrasi dolar AS (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Pada kuartal IV, belanja konsumsi pribadi meningkat 2,4 persen, melambat dari 3,5 persen pada periode sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama disokong rumah tangga berpendapatan tinggi. Di saat bersamaan, ekspor terkontraksi 0,9 persen setelah sebelumnya melonjak 9,6 persen.

Secara keseluruhan, belanja dan investasi pemerintah turun 5,1 persen karena aktivitas federal merosot 16,6 persen. Penurunan itu sebagian diimbangi kenaikan 2,4 persen pada tingkat negara bagian dan lokal. Dari sektor swasta, investasi bruto tumbuh 3,8 persen setelah sebelumnya stagnan, sedangkan penjualan akhir kepada pembeli domestik swasta naik 2,4 persen.

“Penutupan oleh Demokrat merugikan AS setidaknya dua poin dalam GDP. Itulah sebabnya mereka melakukannya lagi, dalam bentuk mini. Tidak Ada Penutupan! Juga, TURUNKAN SUKU BUNGA. ‘Two Late’ Powell adalah yang TERBURUK!!!” tulis Trump di Truth Social, sebelum data PDB dirilis.

Ekonom kepala Fwdbonds, Chris Rupkey, menilai penutupan pemerintah federal membuat ekonomi menyimpang dari jalur pertumbuhan kuat pada kuartal IV dan menyebutnya sebagai kejadian satu kali yang tak akan terulang di awal 2026.

Ekonom kepala Navy Federal Credit Union, Heather Long, menyoroti arah pemulihan dan daya tahan sektor konsumsi serta investasi teknologi.

“Penutupan pemerintah merugikan pertumbuhan di akhir 2025. Ekonomi kemungkinan akan pulih di awal 2026, tetapi melakukan penutupan berkepanjangan bukanlah hal yang tak berbahaya. Secara keseluruhan, ekonomi AS tangguh di tahun 2025 meskipun menghadapi banyak hambatan. Konsumsi yang solid dan booming AI menjaga ekonomi tetap tumbuh,” katanya, dikutip dari CNBC.

Laporan PDB yang dirilis lebih lambat dan berada di bawah ekspektasi ini diperkirakan tak mengubah arah kebijakan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More