Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Penerbangan China-Jepang Kehilangan 700 Ribu Kursi Efek Konflik Geopolitik
Pesawat Boeing 737-8 MAX milik Air China dengan nomor registrasi B-1223. (Anna Zvereva from Tallinn, Estonia, Berkas ini dilisensikan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-Berbagi Serupa 2.0 Generik, via Wikimedia Commons)
  • Rute penerbangan China-Jepang kehilangan hampir 700 ribu kursi pada 25 Oktober 2026–27 Maret 2027, dengan kapasitas turun menjadi 2.871.270 kursi dan 12.613 penerbangan dari 22 maskapai.

  • Maskapai China mencatat pemangkasan terbesar, termasuk China Eastern, China Southern, dan Air China, sementara All Nippon Airways mempertahankan 1.848 penerbangan pada periode tersebut.

  • Ketegangan terkait Taiwan memicu peringatan perjalanan dan pembatalan, sementara pengurangan kapasitas diperkirakan mendorong kenaikan tarif rute utama serta biaya perjalanan bisnis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Musim dingin tahun ini membawa pukulan telak bagi konektivitas udara antara China dan Jepang. Berdasarkan laporan yang dilansir oleh South China Morning Post (SCMP) pada Jumat (30/10/2026), rute penerbangan kedua negara tersebut dipastikan kehilangan hampir 700 ribu kursi untuk periode 25 Oktober 2026 hingga 27 Maret 2027.

Jumlah kursi yang tersedia menyusut drastis menjadi 2.871.270 kursi dari sebelumnya 3.554.167 kursi pada periode yang sama tahun lalu. Mengutip data WION News, total penerbangan dari 22 maskapai untuk enam bulan ke depan tercatat hanya 12.613 penerbangan, yang menunjukkan penurunan signifikan dibanding musim-musim sebelumnya.

1. Maskapai China memangkas penerbangan paling banyak

potret pesawat Air China (pexels.com/Jeffry Surianto)

Penurunan tajam ini dinilai sebagai dampak langsung politik terhadap industri penerbangan global. Menurut data dari penyedia informasi penerbangan Official Airline Guide (OAG) yang dijelaskan oleh kepala analisnya, John Grant, fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana kekuatan geopolitik dapat mengintervensi pasar penerbangan secara masif.

Pemangkasan terbesar ternyata dilakukan oleh maskapai asal China, bukan Jepang. Berdasarkan data operasional, Air China mengurangi 60.898 kursi dan 909 penerbangan, China Eastern memangkas 111.260 kursi dan 1.185 penerbangan, serta China Southern memotong 82.575 kursi dan 511 penerbangan, sementara All Nippon Airways memilih untuk mempertahankan 1.848 penerbangannya.

2. Sengketa Taiwan memicu pembatalan massal

ilustrasi bendera Taiwan (pexels.com/Alan Wang)

Gelombang pembatalan massal ini berakar dari ketegangan politik sejak November 2025 lalu. Pemicunya bermula ketika Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan kemungkinan pengerahan militer apabila konflik meletus di Selat Taiwan, yang kemudian dibalas Beijing dengan mengeluarkan peringatan perjalanan untuk menghindari Jepang serta kebijakan pengembalian dana penuh dari sejumlah maskapai China.

Situasi kian memanas setelah pasukan Jepang dan Amerika Serikat (AS) menggelar latihan serangan anti-kapal di Kyushu dan pulau barat daya Jepang. Latihan militer gabungan tersebut dinilai oleh berbagai pihak sebagai langkah persiapan untuk menantang kemampuan Beijing dalam mengendalikan perairan di sekitar Taiwan.

3. Tarif penerbangan diprediksi naik

Pesawat Japan Airlanes (pexels.com/Tama Utama)

Dampak dari krisis geopolitik ini diperkirakan merembet ke sektor ekonomi dan biaya perjalanan. Yoichiro Sato, seorang profesor di College of Asia-Pacific Studies di Ritsumeikan Asia-Pacific University, menilai bahwa maskapai berbiaya rendah mungkin masih akan melayani sisa pasar wisata, namun tarif untuk rute-rute utama kemungkinan akan mengalami kenaikan. Kenaikan tarif tersebut diperkirakan tidak hanya menyasar para pelancong biasa.

"Ini akan meningkatkan biaya perjalanan bisnis oleh teknisi dan insinyur Jepang, yang melayani pengguna China dari peralatan manufaktur buatan Jepang," ujar Sato saat menyoroti kebutuhan perawatan mesin pabrik yang bergantung pada tenaga ahli Jepang, dikutip SCMP.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article