Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pengembangan MNK Rokan Dinilai Bisa Tambah Produksi Minyak RI

3 min read
Pengembangan MNK Rokan Dinilai Bisa Tambah Produksi Minyak RI
Pengembangan MNK di Indonesia. (Dok. Pertamina)
  • Pengembangan MNK di Blok Rokan dinilai berpotensi menambah produksi minyak nasional.

  • Kondisi batuan, kebutuhan teknologi berbeda, dan biaya produksi menjadi tantangan pengembangan MNK di Indonesia.

  • Pengeboran MNK Rokan telah dilakukan melalui Gulamo DET-1 pada 2023 dan Kelok DET-1 pada 2024.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Indonesia bisa belajar dari Amerika Serikat (AS) dalam mengembangkan migas nonkonvensional (MNK) untuk meningkatkan produksi minyak. Pengembangan MNK di AS ikut membuat negara tersebut menjadi salah satu produsen minyak besar dunia.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menilai, itu juga bisa terjadi di Indonesia. Menurutnya, pengembangan MNK oleh Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Blok Rokan berpotensi menjadi game changer bagi produksi minyak nasional.

“Game changer-nya migas itu MNK. Hal ini seperti di AS, di mana MNK menjadi pembeda karena potensinya cukup besar, sehingga membuat AS tergolong menjadi produsen minyak yang besar di dunia setelah mengembangkan MNK tersebut di tahun 2.000-an,” kata Komaidi pada Senin (21/9/2026).

  1. 1. Potensi besar tapi teknologi dan biaya jadi tantangan

    WhatsApp Image 2026-08-16 at 13.04.00.jpeg
    Pengembangan MNK di Indonesia. (Dok. Pertamina)

    Komaidi melihat Indonesia memiliki potensi MNK yang cukup besar. Namun, kondisi batuan di Indonesia tidak sama dengan AS dan dinilai lebih sulit untuk dikembangkan. Karena itu, pengeboran MNK membutuhkan teknologi yang berbeda dari sumur migas konvensional.

    Perbedaan teknologi tersebut juga berdampak pada biaya produksi. Menurut Komaidi, aspek keekonomian perlu terus dikaji agar pengembangan MNK dapat dilakukan dengan nilai ekonomi yang memadai.

    Dia menilai kemampuan PHR mengembangkan MNK di Rokan menunjukkan bahwa Pertamina telah mampu menjalankan proses pengembangan mulai dari perencanaan hingga eksekusi. Pengembangan tersebut juga melibatkan kerja sama teknologi karena MNK membutuhkan teknologi yang tinggi dan kompleks.

    “Kalau tidak salah, Pertamina melakukan kerja sama riset dan pendidikan teknologi MNK dengan perguruan tinggi pertambangan di AS. Jadi, apakah teknologinya milik sendiri atau dengan pihak lain, PHR terbukti bisa melakukan perencanaan, sampai dengan eksekusi. Artinya, PHR memiliki kehandalan memproduksi MNK,” ujar dia.

  2. 2. Cadangan baru bisa perpanjang bisnis migas

    Ilustrasi hulu migas (Dok. SKK Migas)
    Ilustrasi hulu migas (Dok. SKK Migas)

    Keberhasilan pengembangan MNK PHR nantinya juga dapat memperpanjang rasio cadangan dan produksi migas, menurut Komaidi. Dia menjelaskan, perusahaan migas membutuhkan penemuan cadangan baru agar kegiatan bisnisnya tetap berjalan.

    “Sebab, kekhawatiran perusahaan migas adalah jika tidak menemukan cadangan baru. Karena hal itu otomatis membuat usia perusahaan akan segera berakhir,” tuturnya.

    Karena itu, produksi dari sumur-sumur MNK dapat menambah sumber migas yang bisa dikembangkan PHR maupun Pertamina. Komaidi berharap keberhasilan di Rokan dapat membuka peluang pengembangan potensi MNK di wilayah lain Indonesia.

    “Selain itu, kredibilitas Pertamina dalam produksi migas juga akan meningkat di dunia,” kata Komaidi.

  3. 3. MNK bisa dukung ketahanan energi

    Ilustrasi hulu migas (Dok. SKK Migas)
    Ilustrasi hulu migas (Dok. SKK Migas)

    Komaidi menilai produksi MNK juga berpotensi mendukung ketahanan energi Indonesia. Menurutnya, sejumlah blok migas baru berada di wilayah laut dalam Indonesia bagian timur.

    Pengembangan di wilayah tersebut menghadapi tantangan infrastruktur dan teknis yang lebih kompleks. Kondisi itu juga berpengaruh terhadap biaya pengembangan yang lebih tinggi.

    “Sedangkan MNK, sebagian sumurnya masih ada di daratan. Dengan demikian diharapkan, biaya produksi atau paling tidak secara teknis, tidak sesulit di laut dalam, sehingga memang layak menjadi harapan untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia,” tutur Komaidi.

    Sebelumnya, PHR melalui anak usahanya, PT PHE Rokan Nonkonvensional, menandatangani Kontrak Bagi Hasil (KBH) MNK Rokan. Pengembangan MNK Rokan dimulai dengan pengeboran Gulamo DET-1 pada 2023. Pengeboran dilanjutkan melalui Kelok DET-1 pada 2024 untuk mempelajari potensi MNK di struktur North Aman.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More