- Melakukan penyesuaian kebijakan secara adaptif dan responsif terhadap dinamika global, khususnya terkait energi dan rantai pasok.
- Meninjau kembali kebijakan kuota bahan baku agar selaras dengan kebutuhan industri dan menjaga tingkat utilisasi produksi.
- Menunda atau mengevaluasi serta melakukan kajian independent terkait rencana kenaikan HPM hingga kondisi industri lebih stabil.
- Menunda dan mengkaji ulang rencana pengenaan bea keluar pada produk hilirisasi, agar tetap sejalan dengan agenda strategis hilirisasi nasional.
- Menjamin ketersediaan energi dan bahan pendukung industri, termasuk BBM, batubara dan sulfur, sebagai bagian dari stabilitas rantai pasok nasional.
Pengusaha Nikel Terhimpit Tekanan Global, Minta Pemerintah Responsif

- Industri nikel Indonesia menghadapi tekanan global akibat konflik Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi, biaya produksi, dan gangguan rantai pasok bahan baku impor seperti sulfur.
- Arif Perdana Kusumah menyoroti kebijakan domestik seperti kuota bijih nikel terbatas, rencana kenaikan HPM, dan bea keluar produk hilir yang dinilai membebani proses hilirisasi nasional.
- FINI mengajukan lima rekomendasi agar pemerintah lebih responsif terhadap dinamika global serta memperkuat sinergi kebijakan demi menjaga keberlanjutan dan daya saing industri nikel Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah mengungkapkan dunia usaha nasional saat ini tengah menghadapi tekanan berlapis, termasuk konflik di Timur Tengah akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu keberlanjutan operasional industri, khususnya pada sektor pengolahan dan pemurnian (smelter) serta industri berbasis sumber daya alam (SDA) seperti nikel.
Arif menyebut, dinamika konflik di Timur Tengah telah memberikan dampak langsung pada struktur biaya produksi akibat kenaikan harga energi global. Lonjakan harga minyak dan batu bara meningkatkan biaya operasional secara signifikan bagi industri yang bergantung pada energi dan bahan baku impor.
Dia mencontohkan, komponen biaya sulfur untuk operasional fasilitas smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) kini melonjak menjadi 30-35 persen dari sebelumnya sekitar 25 persen. Selain itu, gangguan logistik global juga memperburuk keadaan melalui peningkatan biaya distribusi dan ketidakpastian rantai pasok.
"Industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor kini mulai menghadapi risiko nyata berupa keterbatasan pasokan dan lonjakan harga yang tidak terkendali. 75-80 persen pasokan sulfur untuk keperluan Indonesia berasal dari Timur Tengah yang logistiknya sangat dipengaruhi oleh perang teluk " kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (11/4/2026).
1. Tantangan struktural dan kebijakan domestik

Di tingkat domestik, Arif menyoroti terbatasnya kuota produksi bijih nikel yang menyebabkan kelangkaan bahan baku di pasar. Kondisi itu memicu lonjakan harga yang menambah beban biaya produksi hilirisasi nikel serta berisiko menurunkan utilisasi fasilitas produksi.
Dia juga menyatakan kekhawatirannya terhadap wacana penyesuaian Harga Patokan Mineral (HPM) dan rencana pengenaan bea keluar pada produk hilirisasi. Menurutnya, penerapan bea keluar pada produk olahan bertentangan dengan semangat peningkatan nilai tambah dalam negeri.
"Jika bahan baku bijih nikel dinaikkan harganya melalui HPM, sementara produk hilir dikenakan bea keluar, maka industri hilirisasi nikel akan terbebani dari dua sisi sekaligus dan berpotensi menghambat dan memperlambat hilirisasi nikel Indonesia," paparnya.
2. Lima rekomendasi pengusaha untuk pemerintah

Guna menghadapi situasi tersebut, Arif menyampaikan lima poin krusial kepada pemerintah:
3. Pentingnya sinergi kebijakan demi keberlanjutan

Arif menegaskan, dunia usaha tetap mendukung penuh agenda hilirisasi. Namun, dia menekankan perlunya sinergi kebijakan yang lebih kuat agar industri tetap kompetitif.
Dia berpendapat bahwa keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya dengan membangun smelter, melainkan butuh konsistensi kebijakan, kecukupan pasokan bahan baku, biaya yang kompetitif, serta dukungan fiskal.
"Tanpa langkah cepat dan terukur, tekanan-tekanan ini berisiko menurunkan kinerja industri, mengurangi penyerapan tenaga kerja, melemahkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global, hingga berisiko berhenti di tengah jalan," kata dia.


















