ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Shaah Shahidh)
Eskalasi di kawasan semakin meluas setelah kelompok Houthi dari Yaman melancarkan serangan ke wilayah selatan Arab Saudi pada Selasa (8/9/2026). Otoritas Arab Saudi melaporkan serangan kelompok Houthi menargetkan situs-situs sipil dan ekonomi di kawasan selatan—meliputi Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran—yang mengakibatkan 73 orang terluka. Secara terpisah, Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan bahwa serangan tersebut menyasar sejumlah fasilitas sektor energi, memicu kebakaran, serta memaksa penghentian sementara sebagian operasional. Rentetan serangan milisi bersenjata ini dinilai kian membahayakan rute alternatif pelayaran minyak di sekitar Laut Merah yang diandalkan oleh Riyadh selama masa peperangan.
Rangkaian konflik militer ini telah melumpuhkan sebagian besar aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi jalur perlintasan bagi seperlima pasokan minyak dunia. Data Rystad Energy mencatat arus pengiriman minyak mentah di selat tersebut anjlok di bawah 2 juta barel per hari dari kisaran 8 hingga 9 juta barel per hari sebelum terjadinya eskalasi terbaru. Penurunan distribusi di perairan strategis ini memperparah rantai pasok yang sebelumnya sudah tertekan oleh penurunan persediaan dan gangguan kilang di Rusia.
Dilansir PBS News, Proses negosiasi antara pihak AS dan Iran pun menemui jalan buntu terkait sengketa kendali lalu lintas di Selat Hormuz. "Menurut pandangan kami, mencapai kesepakatan yang bertahan lama sebelum pemilihan paruh waktu AS semakin tidak mungkin terjadi, dan hal itu mungkin tetap sulit terwujud bahkan setelahnya," tulis analis Bank of America dalam catatan riset mereka. Lembaga keuangan tersebut memperkirakan harga minyak mentah berpotensi melonjak hingga rentang 95 dolar AS sampai 120 dolar AS atau setara Rp1,66 juta hingga Rp2,10 juta per barel jika gelombang serangan terus mencekik lalu lintas pelayaran, bahkan menyentuh 150 dolar AS atau setara Rp2,62 juta per barel apabila terjadi kerusakan infrastruktur energi utama.