Industri Keramik Menjerit, Harga Gas Naik Ancam Keberlangsungan Usaha

- Kenaikan harga gas bumi dan tarif regasifikasi LNG membuat industri keramik nasional terancam, karena gas menjadi energi utama yang tidak bisa digantikan dalam proses produksi.
- Edy Suyanto dari ASAKI menilai lonjakan harga gas hingga 60 persen dalam enam bulan terakhir dapat menekan daya saing industri keramik dan sektor manufaktur secara keseluruhan.
- ASAKI dan Forum Industri Pengguna Gas Bumi telah mengirim surat ke PGN serta Presiden Prabowo, meminta intervensi darurat agar harga dan pasokan gas segera distabilkan demi keberlangsungan industri.
Jakarta, IDN Times - Industri keramik nasional menilai kenaikan harga gas dalam beberapa waktu terakhir telah mempengaruhi keberlangsungan usaha. Pasalnya, industri keramik sangat bergantung pada ketersediaan gas bumi yang stabil untuk menopang proses produksi.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI), Edy Suyanto meminta pemerintah menjamin kelancaran pasokan energi serta kepastian harga gas agar momentum pertumbuhan sektor manufaktur tetap terjaga. Menurutnya, gas bumi menjadi faktor utama penopang daya saing industri keramik nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.
“Urat nadi industri keramik ada di supply gas, industri keramik harus didukung dengan supply gas. Kenapa? Karena gas bagi industri keramik adalah energi yang tidak bisa disubstitusi. Mati hidup industri keramik ada di kelancaran supply gas,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (29/5/2026).
1. Harga gas berpotensi naik lagi imbas kenaikan tarif regasifikasi LNG

Edy menyebut, ancaman terbesar yang kini dihadapi industri keramik adalah rencana kenaikan harga regasifikasi LNG oleh PGN mulai Juni mendatang. Harga regasifikasi diperkirakan meningkat dari 14,9 dolar AS menjadi sekitar 21 hingga 25 dolar AS per MMBTU.
Ia menjelaskan, harga beli rata-rata gas untuk industri keramik penerima Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) pada awal Januari 2026 masih berada di level 9 dolar AS per MMBTU. Namun, pada April 2026, harga tersebut naik menjadi 11 dolar AS per MMBTU.
Menurut Edy, kenaikan harga regasifikasi LNG oleh PGN pada Juni mendatang berpotensi membuat harga beli rata-rata gas bagi anggota ASAKI melonjak hingga 15 dolar AS per MMBTU.
“Artinya, dalam kurun waktu enam bulan ini harga gas naik sangat signifikan, di atas 60 persen,” ujar Edy.
2. Kenaikan harga gas gerus daya saing industri dan tekan kinerja manufaktur

Menurut Edy, industri keramik merupakan salah satu industri strategis dengan kapasitas terbesar kelima di dunia yang saat ini tengah berada dalam fase ekspansi. Karena itu, industri membutuhkan dukungan dari sisi ketersediaan pasokan gas serta harga gas yang terjangkau.
Namun, ia menekankan, kenaikan harga gas tidak hanya berdampak pada industri keramik, tetapi juga sektor manufaktur nasional secara umum. Kondisi tersebut dinilai dapat menggerus daya saing industri dalam negeri dan menekan kinerja manufaktur yang tercermin dalam Purchasing Managers’ Index (PMI).
“Ini merupakan ancaman serius bagi industri dalam negeri, tidak hanya keramik. Kalau ini dibiarkan, dampaknya bisa menekan PMI,” ujarnya.
3. Sudah kirim surat ke direksi PGN

Ia mempertanyakan tingginya harga gas industri di Indonesia, padahal Indonesia merupakan salah satu produsen gas. Edy membandingkan harga gas industri di Indonesia yang dinilai lebih mahal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.
“Malaysia 9,5 dolar AS, Thailand 9,9 dolar AS per MMBTU. Thailand masih mengimpor gas, sedangkan kita produsen. Kenapa harga gas yang diberikan ke industri dalam negeri justru tidak berdaya saing?” katanya.
ASAKI, lanjut Edy, telah menyampaikan surat keberatan kepada direksi PGN, namun hingga kini belum memperoleh tanggapan. Selain itu, Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) yang terdiri dari sekitar 20 industri pengguna gas juga telah mengirimkan surat kepada Presiden Prabowo Subianto untuk meminta perhatian pemerintah terkait persoalan harga gas industri.
Edy menilai, kondisi tersebut sudah memasuki tahap darurat bagi industri nasional apabila persoalan harga dan pasokan gas tidak segera diselesaikan.
“Sekarang ini bukan lagi survival mode, tetapi sudah masuk tahap SOS bagi industri,” tegasnya.
4. Perlu intervensi darurat demi industri keramik bisa tetap beroperasi

Edy mengingatkan, apabila persoalan tersebut terus dibiarkan tanpa solusi konkret, industri nasional berpotensi menghadapi tekanan yang semakin serius. Hal senada disampaikan Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), Yustinus Gunawan. Menurutnya, lonjakan harga gas bumi industri oleh PGN mulai Juni 2026 dapat mendorong sektor riil manufaktur nasional memasuki fase paling kritis.
Pasalnya, gas bumi merupakan bahan baku sekaligus sumber energi utama yang tidak dapat tergantikan dalam menopang aktivitas industri dan perekonomian nasional.
“Ini diawali dengan darurat gas pada Agustus 2025, kemudian pasokan HGBT menukik tajam menjadi 37,5 persen pada April 2026. Juni nanti akan menjadi ‘gong’ dimulainya fase kritis industri manufaktur nasional,” ujar Yustinus.
Karena itu, Yustinus mengatakan, industri nasional memohon intervensi darurat dari pemerintah untuk mencegah sektor manufaktur masuk ke fase kritis yang lebih dalam. Menurutnya, keterlambatan penanganan akan membuat industri semakin sulit kembali pulih dan bertahan.
















