Purbaya Bantah Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen karena Efek Basis Rendah

- Purbaya menegaskan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada kuartal I-2026 bukan karena efek basis rendah, melainkan hasil strategi menjaga likuiditas dan percepatan belanja negara.
- Ia menjelaskan pergeseran waktu Ramadan dan Lebaran tidak berdampak besar secara tahunan, sementara tren pertumbuhan ekonomi menunjukkan arah kenaikan yang konsisten.
- Pemerintah mempercepat pembayaran subsidi pupuk, kewajiban ke Pertamina, serta belanja daerah untuk menjaga likuiditas agar sektor swasta tetap bergerak di tengah ketidakpastian global.
Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menampik anggapan yang menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I-2026 hanya disebabkan oleh low base effect alias efek basis rendah dari tahun sebelumnya.
Purbaya menegaskan, pertumbuhan ekonomi pada awal 2026 adalah hasil strategi pemerintah menjaga likuiditas dan mempercepat belanja negara. Keduanya dianggap sukses membuat perputaran ekonomi lebih merata sepanjang tahun.
"Kalau kita lihat year on year, musimannya harusnya hampir hilang. Jadi bukan sekadar low base. Yang jelas pertumbuhannya lebih cepat dan ini melanjutkan pertumbuhan yang juga lebih cepat pada triwulan IV tahun lalu,” kata Purbaya dalam media briefing di kantornya, Senin (11/5/2026).
1. Faktor musiman seperti Ramadan dan Lebaran alami pergeseran

Selain itu, Purbaya turut menjelaskan bahwa faktor musiman seperti Ramadan atau Lebaran bergeser sekitar 16 hari dibandingkan tahun lalu. Namun, dalam perhitungan tahunan, dampak musiman itu dianggap tidak terlalu dominan.
Oleh karena itu, Purbaya menyatakan, tren pertumbuhan ekonomi saat ini menunjukkan arah kenaikan yang jelas.
"Kalau Anda lihat, trennya clear naik. Itu yang kita jaga dan akan terus kita dorong supaya berlangsung ke depan,” kata dia.
2. Purbaya tanggapi kritik ekonom

Di sisi lain, Purbaya turut menanggapi kritik beberapa ekonom yang mempertanyakan kualitas pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026.
Menurut Purbaya, para ekonom tersebut tidak melihat secara utuh kebijakan fiskal yang sudah dijalankan pemerintah sejak awal tahun.
"Jadi kalau angka jelek ribut, angka tinggi ribut juga," katanya.
3. Percepatan belanja negara dan menjaga likuiditas pasar

Purbaya menambahkan, pemerintah memang sengaja mempercepat belanja negara dan menjaga likuiditas agar sektor privat mampu tetap bergerak di tengah ketidakpastian global.
Adapun strategi yang digunakan adalah di antaranya mempercepat pembayaran subsidi pupuk, pembayaran kewajiban kepada PT Pertamina (Persero), dan percepatan belanja pemerintah di berbagai daerah.
“Saya jaga likuiditas supaya private sector bisa bergerak. Saya dorong belanja pemerintah di triwulan pertama dipercepat sehingga daya dorong ekonomi lebih merata sepanjang tahun,” kata Purbaya.
Menurut Purbaya, percepatan pembayaran pemerintah ikut mendorong perputaran ekonomi di lapangan. Hal itu lantaran kontraktor dan subkontraktor bisa menerima pembayaran lebih cepat.
“Tahun lalu Pertamina punya uang cukup gak? Nggak. Jadi kalau Pertamina dibayar tepat waktu, seluruh subkontraktor juga akan dibayar tepat waktu. Itu memutarkan ekonomi juga,” ujar dia.
















