Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
RI Bisa Jadi Raja Panas Bumi Dunia? Ini Hitung-hitungan PGE
PLTP Lumut Balai Unit 2 milik Pertamina Geothermal (PGE).
  • Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi negara produksi geothermal nomor satu di dunia pada 2030.
  • PGEO menargetkan kapasitas terpasang naik dari 727 MW menjadi 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034.
  • RUPTL 2025-2034 mengalokasikan pengembangan geothermal sekitar 5,2 GW, meski proyeknya memerlukan investasi besar dan proses panjang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Selasa (4/8/2026)

Ahmad Yani menyampaikan target pemerintah agar Indonesia menjadi negara produksi geothermal nomor satu di dunia pada 2030 dalam media briefing di Jakarta.

2028

PGEO menargetkan kapasitas terpasang meningkat dari 727 MW menjadi 1 GW.

tahun 2030

Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi negara produksi geothermal nomor satu di dunia.

2034

PGEO membidik kapasitas panas bumi sebesar 1,8 GW.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Indonesia menargetkan posisi pertama global dalam pengembangan dan produksi geothermal.
  • Who?
    Pemerintah Indonesia, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan Direktur Utama PGEO Ahmad Yani.
  • Where?
    Indonesia, dengan pernyataan Ahmad Yani disampaikan dalam media briefing di Jakarta.
  • When?
    Target posisi pertama ditetapkan pada 2030. Ahmad Yani menyampaikan keterangan pada Selasa (4/8/2026).
  • Why?
    Indonesia memiliki sekitar 43 persen potensi panas bumi dunia dan panas bumi bersumber dari dalam negeri untuk kebutuhan energi nasional.
  • How?
    PGEO menyiapkan proyek untuk menaikkan kapasitas menjadi 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034, didukung porsi 5,2 GW dalam RUPTL 2025-2034.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Indonesia ingin punya panas bumi paling banyak di dunia pada tahun 2030. Pak Ahmad Yani dari PGEO bilang Indonesia punya peluang besar. PGEO mau menambah kapasitas panas bumi dari 727 MW menjadi 1 GW pada 2028. Panas bumi juga bisa dipakai untuk energi di Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Potensi panas bumi yang besar memberi Indonesia ruang untuk mengembangkan sumber energi dari dalam negeri. Target kenaikan kapasitas PGEO, porsi geothermal dalam RUPTL 2025-2034, serta dukungan kebijakan pemerintah menunjukkan adanya arah pengembangan yang sejalan dengan upaya memenuhi kebutuhan energi nasional dan transisi energi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Indonesia punya ambisi menjadi negara dengan produksi panas bumi (geothermal) terbesar. Pemerintah menargetkan Indonesia mampu menempati posisi pertama global dalam pengembangan geothermal, memanfaatkan potensi besar yang dimiliki di dalam negeri.

Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) Ahmad Yani mengatakan, Indonesia memang sulit mengejar posisi sebagai negara penghasil minyak dan gas terbesar dunia. Namun, Indonesia memiliki peluang besar melalui sektor panas bumi.

"Ada sesuatu nih yang bisa kita banggakan untuk menjadi nomor satu di dunia ya ini, geothermal. Pemerintah punya cita-cita to be number one di tahun 2030, menjadi negara produksi geothermal nomor satu di dunia," kata dia dalam media briefing di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

1. PGE bidik kapasitas 1 GW pada 2028

Tampaknya atas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang dikelola oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO). Perusahaan menargetkan total kapasitas kelola mandiri 1 GW dalam waktu dekat, menjadikan geothermal sebagai tulang punggung baseload energi hijau Indonesia. (Dok. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO))

Untuk mendukung target tersebut, PGEO menyiapkan sejumlah proyek pengembangan panas bumi. Perusahaan menargetkan kapasitas terpasang meningkat dari 727 megawatt (MW) saat ini menjadi 1 gigawatt (GW) pada 2028.

Setelah itu, PGEO membidik kapasitas 1,8 GW pada 2034. Ahmad menyebut perusahaan memiliki potensi pengembangan sekitar 3 GW yang siap dikembangkan. Pengembangan proyek tersebut akan menjadi bagian dari upaya PGEO mendukung target pemerintah.

"Nah jadi kita sejalan dengan pemerintah punya target di tahun 2030 menjadi nomor satu di dunia ya, itu bukan hanya janji-janji di atas kertas, potensi kita ada ya," ujar dia.

2. Panas bumi untuk dukung ketahanan energi

Ilustrasi proyek pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Hululais Unit 1 & 2 (110 MW) di Bengkulu. Proyek ini adalah bagian dari strategi quick win PGEO untuk mencapai kapasitas mandiri 1 GW. (Dok. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO))

Ahmad mengatakan, pengembangan geothermal semakin penting di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu, termasuk ketegangan di kawasan Selat Hormuz yang dapat berdampak terhadap ketahanan energi.

Menurut dia, panas bumi memiliki keunggulan karena sumber energinya berasal dari dalam negeri dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan energi nasional. Indonesia memiliki potensi besar di sektor ini. Ahmad menyebut, sekitar 43 persen potensi panas bumi dunia berada di Indonesia.

"Jadi ini akan kami coba sampaikan bahwasanya kita sudah tahu geothermal sesuai dengan Asta Cita Presiden, kita ingin menuju swasembada energi, transisi energi terutama dengan kondisi politik global saat ini yang tidak menentu ya," tuturnya.

3. Geothermal dapat porsi 5,2 GW di RUPTL

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang kuartal I 2025. (dok. Pertamina)

Peluang pengembangan panas bumi juga didukung melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Dalam rencana tersebut, geothermal mendapat porsi pengembangan sekitar 5,2 GW.

Ahmad menyebut dukungan kebijakan tersebut membuka peluang besar bagi pengembangan geothermal. Namun, pembangunan proyek panas bumi membutuhkan investasi besar dan proses panjang karena harus melalui tahapan eksplorasi hingga pembangunan pembangkit.

Nah ini peluang yang sangat besar sudah didukung oleh pemerintah di mana 76 persen (listrik) berasal dari EBT (energi baru terbarukan) dan salah satunya adalah geothermal," kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article