Asap mengepul dari pipa minyak Timur-Barat. (commons.wikimedia.org/European Union/Copernicus Sentinel)
Aramco menghasilkan arus kas operasional sebesar 38,7 miliar dolar AS (setara Rp701,53 triliun) pada kuartal III 2026, meningkat dari 36,1 miliar dolar AS (setara Rp654,40 triliun) pada periode yang sama tahun sebelumnya. Arus kas bebas juga naik 19,7 persen menjadi 28,2 miliar dolar AS (setara Rp511,19 triliun), dari 23,6 miliar dolar AS (setara Rp427,81 triliun).
Di sisi lain, belanja modal perusahaan turun menjadi 10,5 miliar dolar AS (setara Rp190,34 triliun) dari 12,6 miliar dolar AS (setara Rp228,40 triliun) pada kuartal III 2025. Dewan direksi Aramco juga menetapkan pembagian dividen dasar sebesar 21,9 miliar dolar AS (setara Rp396,99 triliun) untuk kuartal tersebut, naik 3,5 persen secara tahunan. Pembayarannya dijadwalkan berlangsung pada kuartal IV 2026.
Presiden sekaligus CEO Saudi Aramco, Amin H. Nasser, mengatakan bahwa ketidakpastian geopolitik dan serangan terhadap fasilitas energi utama terus memperburuk krisis pasokan energi global. Kendati demikian, ia menyebut perusahaan tetap mampu memasok kebutuhan pelanggan melalui jaringan distribusi dan operasionalnya.
Aramco juga melaporkan sejumlah fasilitas milik perusahaan dan afiliasinya di Arab Saudi menjadi sasaran serangan selama kuartal III 2026 dan setelahnya. Hingga 30 September 2026, perusahaan memperkirakan dampaknya tidak akan material terhadap posisi keuangan, hasil operasional, maupun arus kas.