Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Alasan Tembaga Menjadi Komoditas Penting di Era AI
ilustrasi tembaga (pexels.com/Alex Tepetidis)
  • AI membutuhkan tembaga untuk kabel, distribusi daya, pendingin, dan jaringan listrik pusat data; setiap megawatt kapasitas pusat data AI dapat memerlukan sekitar 47 ton tembaga.
  • Ekspansi pusat data mendorong penguatan jaringan listrik, termasuk kabel, transformator, dan gardu, terutama di wilayah dengan kapasitas daya yang belum memadai.
  • Pasokan tambang sulit meningkat cepat, sementara AI, kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik, dan konstruksi bersaing membutuhkan tembaga, sehingga risiko kesenjangan pasokan dapat membesar hingga 2040.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kecerdasan buatan atau AI bukan hanya membutuhkan chip dan pusat data, tetapi juga logam dalam jumlah besar untuk membangun infrastrukturnya. Tembaga menjadi salah satu bahan penting karena digunakan dalam kabel, sistem kelistrikan, pendingin, hingga jaringan yang menyalurkan listrik ke pusat data. Permintaan ini ikut membuat tembaga semakin diperhatikan ketika investasi AI terus meningkat.

Peran tembaga bahkan semakin besar karena kebutuhan listrik pusat data ikut melonjak. Di saat yang sama, produksi tambang tidak mudah ditingkatkan dalam waktu singkat, sehingga pasar mulai menghadapi risiko kekurangan pasokan. Berikut beberapa alasan mengapa tembaga menjadi komoditas penting di era AI saat ini.

1. Pusat data AI membutuhkan banyak kabel dan sistem listrik

ilustrasi pusat data (magnific.com/DC Studio)

Pusat data menjadi tempat berbagai komputer berkapasitas tinggi menjalankan layanan AI. Di dalam fasilitas tersebut, tembaga digunakan untuk kabel, sambungan listrik, sistem distribusi daya, dan berbagai peralatan pendukung lainnya. Semakin besar kemampuan komputasi yang dibutuhkan AI, semakin besar pula kebutuhan listrik dan infrastruktur yang harus dibangun.

Kebutuhan tembaga juga muncul di luar gedung pusat data. Listrik dalam jumlah besar harus disalurkan melalui kabel, gardu, dan berbagai peralatan sebelum dapat digunakan oleh fasilitas tersebut. Satu megawatt kapasitas pusat data AI dapat membutuhkan sekitar 47 ton tembaga, sehingga pembangunan pusat data dalam skala besar berpotensi meningkatkan kebutuhan logam ini secara signifikan.

2. Perkembangan AI ikut mendorong pembangunan jaringan listrik

ilustrasi listrik (pexels.com/Maor Attias)

Perusahaan teknologi terus membangun pusat data baru untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI. Fasilitas tersebut membutuhkan pasokan listrik yang besar dan stabil, sehingga pembangunan pusat data juga dapat diikuti dengan perluasan jaringan listrik. Kondisi ini menciptakan permintaan tambahan terhadap tembaga untuk kabel, transformator, gardu, dan berbagai peralatan kelistrikan.

Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting ketika pusat data dibangun di wilayah yang kapasitas listriknya belum cukup besar. Jaringan yang ada perlu diperkuat agar mampu menyalurkan daya tambahan tanpa mengganggu pasokan ke pengguna lain. Dengan begitu, pertumbuhan AI tidak hanya meningkatkan kebutuhan tembaga di pusat data, tetapi juga pada infrastruktur yang membuat fasilitas tersebut dapat beroperasi.

3. Pasokan tambang sulit mengejar peningkatan kebutuhan

ilustrasi pertambangan (freepik.com/freepik)

Tembaga menghadapi tantangan dari sisi pasokan karena membuka tambang baru membutuhkan waktu yang panjang. Perusahaan harus menemukan cadangan yang layak, mendapatkan izin, membangun fasilitas, dan menyiapkan infrastruktur sebelum tambang dapat menghasilkan tembaga dalam jumlah besar. Gangguan di tambang yang sudah beroperasi juga dapat mengurangi pasokan dunia dalam waktu relatif cepat.

Permintaan yang terus bertambah membuat kondisi tersebut menjadi semakin penting. Jika konsumsi tembaga tumbuh lebih cepat daripada produksi, pasar dapat menghadapi kekurangan pasokan pada masa mendatang. Sejumlah perkiraan bahkan menunjukkan bahwa kesenjangan pasokan dapat semakin besar hingga 2040 jika investasi baru tidak mampu mengejar pertumbuhan kebutuhan.

4. AI bukan satu-satunya industri yang membutuhkan tembaga

ilustrasi industri (pexels.com/Loïc Manegarium)

Kebutuhan tembaga tidak hanya datang dari perkembangan AI. Kendaraan listrik, energi terbarukan, jaringan listrik, elektronik, konstruksi, dan berbagai infrastruktur lainnya juga membutuhkan logam ini dalam jumlah besar. Artinya, permintaan tembaga dapat tetap kuat meskipun pertumbuhan industri AI suatu saat melambat.

Persoalannya, berbagai sektor tersebut membutuhkan bahan baku yang sama pada waktu yang bersamaan. Pertumbuhan kendaraan listrik dan energi terbarukan, misalnya, ikut membutuhkan lebih banyak jaringan listrik dan peralatan kelistrikan. Jika perkembangan AI terus berjalan bersamaan dengan elektrifikasi ekonomi, persaingan untuk mendapatkan pasokan tembaga berpotensi semakin besar.

Tembaga menjadi komoditas penting di era AI bukan karena teknologi ini menggunakan logam tersebut secara langsung, melainkan karena AI membutuhkan infrastruktur listrik dan pusat data yang sangat besar. Besarnya kebutuhan akan AI, listrik, dan berbagai industri lain membuat tembaga memiliki peran yang semakin penting dalam ekonomi berbasis teknologi. Meski begitu, harga tembaga tetap dapat berfluktuasi karena kondisi ekonomi, produksi tambang, dan perubahan permintaan global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article