Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi transportasi darat (Pexels.com/Dapur Melodi)
  • Transportasi menyerap 36 persen kebutuhan BBM nasional, dengan 34 persen penjualan BBM masih impor; pada 2024, transportasi darat menyumbang 137,5 juta ton atau 87 persen emisi transportasi.
  • Peta jalan mendorong peralihan dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, optimalisasi kereta untuk logistik, serta elektrifikasi, efisiensi operasional, modernisasi armada, dan pengembangan kendaraan hidrogen.
  • Aksi mitigasi berpotensi memangkas 6,41 juta ton CO₂ dan menghemat 5,6 juta kiloliter BBM pada 2030; pada 2060, emisi diproyeksikan turun 87 persen dan penghematan mencapai 31 juta kiloliter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketergantungan sektor transportasi terhadap bahan bakar minyak (BBM) masih menjadi salah satu tantangan dalam upaya memperkuat ketahanan energi Indonesia. Berdasarkan Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia (HEESI) 2024, sekitar 34 persen penjualan BBM nasional masih melalui impor. Sementara itu, sektor transportasi menyerap sekitar 36 persen dari total kebutuhan BBM nasional.

Hasil inventarisasi dalam Peta Jalan Dekarbonisasi Transportasi menunjukkan, sektor transportasi Indonesia menghasilkan sekitar 157,5 juta ton karbon dioksida (CO₂) pada 2024. Dari jumlah tersebut, sekitar 87 persen atau 137,5 juta ton CO₂ berasal dari transportasi darat. Peta jalan yang disusun melalui dukungan konsorsium UK PACT Low Carbon Transport yang dipimpin World Resources Institute (WRI) Indonesia bersama Kementerian Perhubungan tersebut mengidentifikasi sejumlah langkah untuk menekan emisi sekaligus mengurangi konsumsi BBM. Berikut tiga strategi utama yang disoroti dalam peta jalan dekarbonisasi transportasi.

1. Mengurangi ketergantungan kendaraan pribadi dan mengoptimalkan angkutan barang

ilustrasi transportasi darat (Pexels.com/el jusuf)

Transportasi darat menjadi penyumbang emisi terbesar dibandingkan subsektor transportasi lainnya. Pada 2024, kontribusinya mencapai 87 persen dari total emisi transportasi nasional. Sementara itu, transportasi laut menyumbang sekitar 8 persen, transportasi udara 4 persen, dan perkeretaapian 1 persen.

Besarnya emisi transportasi darat tidak hanya dipengaruhi jumlah kendaraan, tetapi juga intensitas penggunaan energi. Data inventarisasi menunjukkan sekitar 6,3 juta truk menghasilkan 43,6 juta ton CO₂ pada 2024. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan emisi dari 139,5 juta sepeda motor yang mencapai sekitar 40,6 juta ton CO₂.

Temuan ini menunjukkan bahwa pengurangan emisi tidak cukup hanya berfokus pada jumlah kendaraan. Efisiensi penggunaan energi dan pengelolaan aktivitas transportasi juga perlu diperhatikan. Salah satu langkah yang diidentifikasi dalam peta jalan adalah mendorong masyarakat beralih ke angkutan umum untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.

Di sisi lain, distribusi barang dapat dioptimalkan melalui peningkatan penggunaan angkutan kereta api. Peralihan moda transportasi tersebut diharapkan dapat mengurangi konsumsi BBM sekaligus menekan emisi dari aktivitas perjalanan dan distribusi logistik.

2. Mempercepat elektrifikasi dan meningkatkan efisiensi transportasi

ilustrasi transportasi darat (Pexels.com/Deden R)

Penggunaan kendaraan listrik menjadi salah satu bagian dari strategi dekarbonisasi. Namun, peta jalan tersebut menekankan bahwa perubahan sistem transportasi tidak cukup hanya dilakukan dengan mengganti kendaraan berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik. Selain elektrifikasi kendaraan, diperlukan peningkatan efisiensi operasional serta modernisasi armada transportasi laut dan udara.

Dalam jangka panjang, peta jalan juga memasukkan pengembangan kendaraan hidrogen sebagai salah satu opsi untuk menekan emisi sektor transportasi. Urban Mobility Manager WRI Indonesia, Dimas Nu’man Fadhil menjelaskan bahwa dekarbonisasi membutuhkan perubahan menyeluruh dalam sistem mobilitas, termasuk cara masyarakat bepergian dan barang didistribusikan. Pendekatan tersebut penting karena setiap moda transportasi memiliki karakteristik penggunaan energi dan tantangan emisi yang berbeda. Karena itu, kebijakan pengurangan emisi perlu disesuaikan dengan kebutuhan transportasi penumpang maupun barang.

3. Menghemat hingga 31 juta kiloliter BBM pada 2060

ilustrasi transportasi darat (Pexels.com/Dapur Melodi)

Peta Jalan Dekarbonisasi Transportasi mengidentifikasi sejumlah aksi mitigasi yang berpotensi mengurangi emisi hingga 6,41 juta ton CO₂ pada 2030. Potensi tersebut bahkan disebut melampaui target penurunan emisi sektor transportasi yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup melalui Peraturan Menteri Nomor 23 Tahun 2025. Selain mengurangi emisi, penerapan berbagai intervensi tersebut diperkirakan dapat menghemat penggunaan BBM fosil hingga 5,6 juta kiloliter pada 2030.

Untuk jangka panjang, kombinasi elektrifikasi, peningkatan efisiensi energi, pengembangan kendaraan hidrogen, dan penguatan angkutan massal diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 87 persen dibandingkan skenario tanpa intervensi pada 2060. Penghematan konsumsi BBM fosil dalam skenario tersebut diperkirakan mencapai 31 juta kiloliter pada tahun yang sama.

Dokumen peta jalan ini telah diserahkan kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan, Arif Toha, pada 3 November 2026 di Jakarta. Dokumen tersebut akan menjadi salah satu landasan akademik untuk penyempurnaan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 8 Tahun 2023 tentang Aksi Mitigasi Perubahan Iklim Sektor Transportasi. Arif Toha menekankan bahwa pelaksanaan kebijakan dekarbonisasi membutuhkan koordinasi antarsubsektor, pemantauan, dan evaluasi secara berkelanjutan agar kemajuannya dapat diukur.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article