PLN Indonesia Power Uji Co-firing Hidrogen-Amonia untuk Tekan Emisi

- PLN Indonesia Power menguji co-firing hidrogen di pembangkit gas dan amonia di PLTU sebagai bahan bakar alternatif untuk mendukung transisi energi, efisiensi pembangkitan, dan penurunan emisi.
- Di PLTDG Pesanggaran Bali, rasio hidrogen naik dari 2 persen pada 2022 menjadi 23 persen pada 2025, berpotensi meningkatkan efisiensi 5 persen dan memangkas emisi 9.600 ton per tahun.
- Uji amonia 1 persen di PLTU Labuan berpotensi menghemat 19.700 ton batu bara dan mengurangi 35.000 ton emisi tahunan; PLN juga menjajaki hidrogen berlebih untuk amonia hijau.
Jakarta, IDN Times - PT PLN Indonesia Power mengembangkan teknologi co-firing hidrogen dan amonia untuk meningkatkan efisiensi pembangkit sekaligus menekan emisi karbon.
Pengembangan ini dilakukan melalui pengujian campuran hidrogen pada pembangkit gas dan amonia pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
1. Pengembangan bahan bakar alternatif jadi upaya dukung transisi energi

PT PLN Indonesia Power mengembangkan teknologi co-firing hidrogen dan amonia. (Dok/Istimewa). Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, mengatakan pengembangan bahan bakar alternatif menjadi salah satu upaya perusahaan untuk mendukung transisi energi tanpa mengabaikan keandalan pasokan listrik.
"Transisi energi membutuhkan inovasi yang dapat diterapkan secara bertahap, terukur, dan tetap mengedepankan keandalan pasokan listrik. Pengujian co-firing hidrogen dan amonia menjadi langkah PLN Indonesia Power dalam mengembangkan alternatif bahan bakar yang berpotensi menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi pembangkitan," ujar Bernadus dalam keterangan resmi, Rabu (28/10/2026).
2. Hitungan pengujian pengujian co-firing hidrogen di PLTDG Pesanggaran

Co-firing biomassa jadi bahan bakar subtitusi batu bara di PLTU PLN. (Dok. PLN) Pada pengujian co-firing hidrogen di PLTDG Pesanggaran, Bali, PLN Indonesia Power telah meningkatkan rasio campuran secara bertahap, dari dua persen pada 2022 menjadi tujuh persen pada 2024, lalu 23 persen pada 2025.
Berdasarkan hasil pengujian yang disampaikan perusahaan, penggunaan hidrogen berpotensi meningkatkan efisiensi mesin hingga lima persen dan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil hingga 17 persen. Teknologi ini juga diperkirakan dapat menekan emisi karbon sebesar 9.600 ton per tahun.
3. Pemanfaatan hidrogen dari pembangkit gas dapat membuka peluang integrasi teknologi antarpembangkit

Program co-firing biomassa. (Dok. PLN) Selain hidrogen, PLN Indonesia Power menguji teknologi co-firing amonia di PLTU Labuan. Teknologi ini dilakukan dengan mencampurkan amonia ke dalam bahan bakar batu bara di boiler untuk mengurangi konsumsi batu bara.
Dalam pengujian dengan rasio campuran amonia sebesar 1 persen, perusahaan mencatat potensi peningkatan efisiensi PLTU hingga 1,3 persen dan penghematan konsumsi batu bara sekitar 19.700 ton per tahun.
"Penggunaan teknologi tersebut juga berpotensi menurunkan emisi karbon hingga 1,8 persen, dengan pengurangan emisi tahunan mencapai 35.000 ton;" kata Bernardus.
Untuk mendukung pengembangan teknologi tersebut, PLN Indonesia Power juga menjajaki pemanfaatan kelebihan pasokan (excess) hidrogen dari PLTGU Cilegon, PLTGU Priok, dan PLTGU Tambak Lorok sebagai bahan baku produksi amonia hijau.
Perusahaan menilai, pemanfaatan hidrogen dari pembangkit gas dapat membuka peluang integrasi teknologi antarpembangkit sekaligus mendukung diversifikasi bahan bakar di sektor ketenagalistrikan.
Ke depan, PLN Indonesia Power akan melanjutkan kajian, pengujian, dan evaluasi teknis untuk memastikan pengembangan co-firing hidrogen dan amonia memenuhi aspek keselamatan, keandalan, efisiensi, serta kelayakan implementasi.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mendukung target dekarbonisasi nasional melalui pemanfaatan teknologi pembangkitan yang lebih efisien dan rendah emisi.




















