ilustrasi pejalan kaki di Australia (pexels.com/Reymundo Tadena)
Saul Eslake menjelaskan bahwa masih ada perdebatan mengenai seberapa besar dampak ketimpangan terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, ia menyampaikan bahwa semakin banyak lembaga internasional seperti IMF dan OECD yang berpendapat bahwa ketimpangan yang terlalu besar pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Artinya, menjaga pertumbuhan ekonomi saja gak cukup apabila hasilnya gak bisa dinikmati secara lebih merata oleh masyarakat.
Menurut penjelasannya, kelompok masyarakat yang sangat kaya cenderung menyimpan lebih banyak aset sehingga gak seluruh kekayaannya berputar di perekonomian. Selain itu, ketimpangan yang semakin lebar juga dinilai dapat memicu munculnya kebijakan populis yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi. Karena itu, Eslake termasuk salah satu ekonom yang mendukung adanya pajak warisan untuk kekayaan dalam jumlah sangat besar, sekaligus mendorong reformasi pajak properti agar distribusi kekayaan menjadi lebih seimbang.
Laporan UBS memperlihatkan bahwa pertumbuhan kekayaan nasional gak selalu berarti seluruh masyarakat ikut menikmati hasilnya. Di Australia, jumlah jutawan memang terus bertambah, tapi kondisi kekayaan warga pada tingkat menengah justru mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya melihat distribusi kekayaan, bukan sekadar angka rata-rata yang terlihat mengesankan. Bagi kamu, data seperti ini bisa menjadi pengingat bahwa kesehatan ekonomi sebuah negara bukan hanya diukur dari banyaknya orang kaya, tapi juga dari seberapa merata kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.