Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Utang Rumah Tangga AS Tembus $18,39 T, Apa Pelajarannya untuk Kita?
Ilustrasi utang (freepik.com)
  • Utang rumah tangga AS mencapai 18,39 triliun dolar pada kuartal II 2025, naik 185 miliar dolar, didorong terutama oleh hipotek senilai 12,94 triliun dolar.
  • Utang kartu kredit, kendaraan, dan student loan turut meningkat; tunggakan kredit kartu mencapai 6,93 persen, sementara lebih dari 10 persen saldo student loan menunggak minimal 90 hari.
  • Data tersebut menyoroti pentingnya menyesuaikan cicilan dengan kemampuan jangka panjang, menghindari utang konsumtif berbunga tinggi, tidak menutup utang lama dengan pinjaman baru, serta menyiapkan dana darurat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau melihat angka utang rumah tangga di Amerika Serikat, jumlahnya mungkin terasa sangat jauh dari kehidupan kita. Namun, masalah di balik angka tersebut sebenarnya cukup familiar: biaya hidup meningkat, sementara banyak orang akhirnya mengandalkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan.

Pada kuartal kedua 2025, total utang rumah tangga AS naik 185 miliar dolar menjadi 18,39 triliun dolar. Dibandingkan akhir 2019, jumlah tersebut sudah meningkat 4,24 triliun dolar, menurut Federal Reserve Bank of New York.

Bagi kita di Indonesia, situasi ini bisa menjadi pengingat bahwa memiliki penghasilan bukan satu-satunya hal yang penting. Cara mengelola utang dan pengeluaran juga menentukan apakah kondisi keuangan tetap sehat.

1. Utang rumah jadi yang terbesar

Ilustrasi rumah (freepik.com)

Hipotek menjadi bagian terbesar dari utang rumah tangga AS, dengan saldo mencapai 12,94 triliun dolar, naik 131 miliar dolar pada kuartal kedua.

Sebanyak sekitar 53 ribu pemilik rumah juga berada dalam proses foreclosure. Ini menunjukkan bahwa cicilan rumah yang awalnya terlihat mampu dibayar bisa menjadi masalah ketika kondisi keuangan berubah.

Bagi masyarakat Indonesia, prinsipnya tidak jauh berbeda dengan KPR. Cicilan memang bisa membantu seseorang memiliki rumah lebih cepat, tetapi tetap harus disesuaikan dengan kemampuan finansial jangka panjang.

2. Kartu kredit semakin membebani

Ilustrasi kartu kredit (freepik.com)

Utang kartu kredit naik 27 miliar dolar menjadi 1,21 triliun dolar. Salah satu penyebabnya adalah tekanan biaya hidup yang membuat ruang keuangan masyarakat semakin sempit.

Situasi ini cukup mudah dibayangkan dari perspektif Indonesia. Ketika kebutuhan sehari-hari naik sementara pendapatan tidak bertambah banyak, kartu kredit, paylater, atau pinjaman online bisa terasa seperti solusi cepat.

Masalahnya, solusi tersebut dapat berubah menjadi beban ketika digunakan terus-menerus. Tingkat delinquency kartu kredit di AS juga meningkat menjadi sekitar 6,93 persen.

3. Pinjaman kendaraan dan student loan

Ilustrasi orang mengendarai mobil (freepik.com)

Utang kendaraan AS meningkat menjadi 1,66 triliun dolar, sementara student loan mencapai 1,64 Triliun dolar.

Lebih dari 10 persen saldo student loan tercatat menunggak setidaknya 90 hari. Secara keseluruhan, sekitar 4,4 persen utang rumah tangga AS berada dalam status delinquent.

Angka ini menunjukkan satu hal penting: masalah utang bukan hanya tentang jumlah pinjaman, tetapi juga kemampuan membayar cicilannya secara konsisten.

4. Kapan kita perlu waspada?

Ilustrasi menghitung uang (freepik.com)

Melihat kondisi di AS, kita juga bisa belajar mengenali tanda-tanda ketika utang mulai tidak sehat.

Kamu perlu lebih berhati-hati jika sebagian besar penghasilan habis untuk membayar cicilan, memiliki utang kartu kredit berbunga tinggi, menggunakan pinjaman baru untuk membayar utang lama, atau tidak memiliki dana darurat.

Jika setiap ada kebutuhan mendadak kita langsung mencari pinjaman, kondisi keuangan sebenarnya sudah mulai rentan.

5. Jangan sampai utang menjadi kebiasaan

Ilustrasi uang (freepik.com)

Pada kuartal kedua 2025, sekitar 131.000 orang di AS mengajukan kebangkrutan. Angka ini menunjukkan bagaimana utang yang awalnya digunakan untuk membantu keuangan dapat berubah menjadi masalah ketika tidak dikendalikan.

Bagi kita di Indonesia, pelajarannya sederhana: jangan hanya bertanya apakah kita mampu mengambil cicilan, tetapi tanyakan juga apakah kita masih mampu hidup dengan nyaman setelah cicilan tersebut dibayar.

Seperti yang sering ditekankan Dave Ramsey, kondisi finansial yang sehat bukan sekadar soal menghasilkan lebih banyak uang. Kita juga perlu mengendalikan pengeluaran, menghindari utang konsumtif, melunasi utang berbunga tinggi, dan membangun dana darurat.

Sebab, yang membuat seseorang benar-benar aman secara finansial bukan seberapa besar jumlah uang yang bisa dipinjam, tetapi seberapa besar kendali yang masih dimilikinya atas uang sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article