Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

World Bank Pangkas Proyeksi, Ekonomi RI Jadi 4,7 Persen

World Bank Pangkas Proyeksi, Ekonomi RI Jadi 4,7 Persen
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026, sejalan dengan perlambatan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik di luar China.
  • Meskipun proyeksi turun, ketahanan ekonomi Indonesia dinilai kuat berkat kebijakan subsidi, pengaturan harga pemerintah, serta dorongan investasi publik yang menjaga stabilitas domestik.
  • Pertumbuhan diperkirakan pulih ke 5,2 persen pada 2027 didorong oleh dana kekayaan negara Danantara, peningkatan kredit swasta, dan upaya pemerintah memperkuat industri hilir serta menarik investasi asing.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat ke 4,7 persen pada 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya pada Oktober 2025 yang memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 4,8 persen.

Dalam laporan East Asia & Pacific Economic Update edisi April 2026, penurunan proyeksi tersebut sejalan dengan tren perlambatan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) di luar China yang diperkirakan hanya tumbuh 4,1 persen pada 2026, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,4 persen.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan melambat ke 4,7 persen, seiring tekanan dari tingginya harga minyak dan sentimen penghindaran risiko (risk-off), yang hanya sebagian diimbangi oleh penerimaan komoditas dan investasi yang digerakkan negara,” tulis laporan tersebut, dikutip Rabu (8/4/2026).

1. Ketahanan ekonomi RI dinilai tangguh

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)

Meski proyeksi diturunkan, Indonesia dinilai masih memiliki ketahanan yang cukup kuat dalam menghadapi guncangan eksternal. Bank Dunia menilai Indonesia memiliki bantalan ekonomi dan kapasitas yang lebih baik untuk menyerap tekanan dibandingkan beberapa negara di kawasan.

Misalnya dampak lonjakan harga minyak terhadap inflasi domestik, dinilai relatif moderat karena diredam oleh kebijakan subsidi dan pengaturan harga oleh pemerintah. Selain itu, investasi publik diperkirakan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

2. Masih ada tantangan struktural yang dihadapi Indonesia

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat)
ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat)

Di sisi lain, Bank Dunia mengingatkan adanya tantangan struktural yang dapat menahan laju pertumbuhan jangka panjang.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkisar di level 5 persen dalam beberapa tahun terakhir dinilai masih bergantung pada intervensi pemerintah.

Namun, reformasi seperti penghapusan hambatan nontarif di sektor jasa, deregulasi, dan penyederhanaan perizinan usaha dinilai dapat meningkatkan pertumbuhan potensial sekaligus menciptakan lapangan kerja produktif.

Adapun proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 negara tetangga adalah Malaysia 4,4 persen, Filipina 3,7 persen, Thailand 1,3 persen, dan Vietnam 6,3 persen

3. Ekonomi RI diprediksi akan pulih ke 5,2 persen pada 2027

ilustrasi grafik pertumbuhan ekonomi (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi grafik pertumbuhan ekonomi (pexels.com/Pixabay)

Kendati demikian, Bank Dunia memperkirakan Indonesia akan kembali pulih dengan pertumbuhan mencapai 5,2 persen pada 2027.

Pemulihan tersebut diharapkan didorong oleh beroperasinya dana kekayaan negara, Danantara yang menyalurkan investasi lebih produktif, tersedianya lebih banyak kredit swasta melalui injeksi likuiditas, serta upaya pemerintah memperkuat industri hilir mengatasi hambatan, dan menarik investasi asing.

Laporan juga menyoroti bahwa pertumbuhan Indonesia saat ini sekitar 5 persen per tahun melampaui perkiraan pertumbuhan potensial, sebagian besar berkat dukungan pemerintah.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Latest in Business

See More