21 Bank Global Bergabung Kelola Saham IPO SpaceX

- Sebanyak 21 bank global, dipimpin oleh lima raksasa Wall Street, bergabung dalam Project Apex untuk mengelola IPO SpaceX yang dijadwalkan melantai di bursa pada Juni 2026.
- Nilai SpaceX mencapai 1,75 triliun dolar AS berkat sinergi Starlink dan xAI, dengan dana IPO difokuskan mempercepat pengembangan roket Starship serta misi manusia ke Mars.
- SpaceX menawarkan hingga 30 persen saham bagi investor ritel agar partisipasi publik meningkat dan harga saham stabil, sekaligus memperkuat posisi Elon Musk sebagai pemegang utama.
Jakarta, IDN Times - Perusahaan milik Elon Musk, SpaceX, sedang bersiap untuk menjual sahamnya ke masyarakat luas melalui proses yang disebut Penawaran Umum Perdana (IPO). Hal itu dilaporkan Business Times pada Selasa (31/3/2026).
Langkah besar bertajuk Project Apex ini diprediksi akan menjadi momen bersejarah di pasar modal dunia. Nilai perusahaan diperkirakan mencapai angka fantastis, yakni 1,75 triliun dolar AS (Rp29,74 kuadriliun) atau setara dengan perusahaan raksasa seperti Apple dan Microsoft.
Rencana besar ini bukan sekadar urusan jual-beli saham biasa, melainkan langkah strategis SpaceX untuk memperkuat pendanaan misi ambisius mereka ke planet Mars. Dengan menggabungkan teknologi internet satelit Starlink dan kecerdasan buatan dari xAI, SpaceX berupaya meyakinkan para investor bahwa masa depan ekonomi kini tidak lagi terbatas di bumi, melainkan sudah menjangkau luar angkasa.
Jika berjalan lancar, perusahaan ini dijadwalkan akan mulai melantai di bursa saham Wall Street pada Juni 2026 mendatang.
1. Sebanyak 21 bank besar dunia bergabung untuk kelola dana IPO SpaceX

Proyek rahasia yang diberi nama Project Apex ini menargetkan SpaceX mulai terdaftar di bursa saham Wall Street pada Juni 2026. Dengan bantuan 21 lembaga keuangan dunia, SpaceX berencana memperkuat modal untuk misi penjelajahan antar planet serta pengembangan internet satelit Starlink yang kini menjadi tumpuan penghasilan perusahaan.
Proses IPO ini dipimpin oleh lima bank raksasa dari Wall Street, yaitu Morgan Stanley, Goldman Sachs, JPMorgan Chase, Bank of America, dan Citigroup. Mereka bertugas sebagai active bookrunners yang mengelola penjualan dan pembagian saham ke seluruh dunia.
Selain mereka, ada 16 bank lain yang ikut bergabung, mulai dari Barclays hingga bank dari wilayah Asia dan Australia seperti Mizuho dan Macquarie. Skala kerja sama bank ini sangat besar, mirip dengan saat perusahaan raksasa Alibaba (2014) dan Arm Holdings (2023) pertama kali masuk bursa. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan dana segar hingga 75 miliar dolar AS (Rp1,27 kuadriliun).
2. Gabungan Starlink dan teknologi AI tingkatkan nilai perusahaan

Nilai perusahaan yang mencapai 1,75 triliun dolar AS (Rp29,74 kuadriliun) ini didukung oleh kesuksesan Starlink yang kini punya lebih dari 10 juta pengguna di 150 negara. Selain itu, nilai ini melonjak karena SpaceX bergabung dengan perusahaan kecerdasan buatan xAI, pada awal 2026.
Gabungan ini memungkinkan SpaceX membangun pusat data di luar angkasa menggunakan roket Starship. Dengan konsep "Physical AI", SpaceX punya kendali penuh mulai dari peluncuran roket hingga pengolahan datanya. Sebelum masuk bursa, SpaceX juga akan melunasi utang xAI sebesar 17,5 miliar dolar AS (Rp297,45 triliun) agar kondisi keuangan perusahaan lebih sehat.
Dana yang terkumpul dari IPO ini akan digunakan untuk mempercepat pengembangan roket Starship guna mengirim manusia ke Mars. Saat ini, SpaceX sudah mendapat izin dari otoritas penerbangan AS (FAA) untuk menerbangkan Starship hingga 44 kali dalam setahun, sebuah jaminan kuat bagi para investor.
3. Porsi saham untuk masyarakat umum lebih besar

Dalam Project Apex, SpaceX melakukan langkah berani dengan memberikan jatah hingga 30 persen saham untuk investor ritel. Angka ini jauh lebih tinggi dari biasanya yang hanya berkisar 5 sampai 10 persen. Tujuannya agar para pendukung setia Elon Musk bisa memiliki saham perusahaan ini, sekaligus membantu menjaga harga saham agar tidak terlalu naik-turun.
Jika IPO ini sukses, Elon Musk berpotensi menjadi triliuner pertama di dunia karena ia memiliki 42 persen saham di perusahaan tersebut.
"Alasan utama SpaceX segera masuk bursa adalah untuk menutup biaya pengeluaran uang yang sangat besar di perusahaan AI-nya, xAI," kata Lu Yi, seorang investor dari perusahaan modal ventura, dilansir Economic Times.

















