Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Airlangga Ungkap Sejumlah Skenario Defisit APBN Lampaui 3 Persen

Airlangga Ungkap Sejumlah Skenario Defisit APBN Lampaui 3 Persen
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto. (IDN Times/Triyan)
Intinya Sih
  • Airlangga Hartarto memaparkan tiga skenario dampak kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah terhadap defisit APBN 2026 akibat konflik di Timur Tengah.
  • Dalam skenario terburuk, ICP bisa mencapai 115 dolar AS per barel dengan kurs Rp17.500 per dolar AS, membuat defisit APBN melebar hingga 4,06 persen dari PDB.
  • Airlangga menegaskan menjaga defisit di bawah 3 persen akan sulit tanpa pemotongan belanja atau pertumbuhan ekonomi, mengingat potensi lonjakan harga minyak global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan sejumlah skenario dampak kenaikan harga minyak mentah dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.

Dalam skenario terburuk, defisit APBN berpotensi menembus lebih dari 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Adapun dalam asumsi makro APBN 2026, pemerintah menetapkan Indonesia Crude Price (ICP) sebesar 70 dolar AS per barel dan nilai tukar rupiah Rp16.500 per dolar AS.

Airlangga menyebut, selisih harga minyak Brent dengan ICP biasanya sekitar 3 dolar AS per barel. Dia menjelaskan, pemerintah menyiapkan tiga skenario berdasarkan durasi konflik di Timur Tengah, yakni selama 5 bulan, 6 bulan, dan 10 bulan.

Pada skenario perang terjadi selama enam bulan, harga minyak dapat naik hingga sekitar 107 dolar AS per barel, sebelum kemudian kembali menurun. Sementara pada skenario perang berlangsung hingga 10 bulan harga bahkan dapat meningkat hingga 130 dolar AS per barel dan berada di sekitar 125 dolar AS per barel pada akhir Desember 2025.

“Nah pembelian kami di bulan Januari-Februari itu angkanya 64,41 dolar AS per barel dan 68,79 dolar AS per barel. Ini realisasi Pak, jadi realisasi di bawah APBN yang 70 dolar AS per barel,” kata Airlangga di Sidang Kabinet Paripurna, Jumat (13/3/2026).

Airlangga menjelaskan, pada skenario pertama, apabila ICP mencapai sekitar 86 dolar AS per barel dan kurs rupiah melemah ke Rp17 ribu per dolar AS, maka defisit APBN berpotensi mencapai 3,18 persen dari PDB.

“Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi tetap kita pertahankan di 5,3 persen dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) sekitar 6,8 persen, maka defisitnya sekitar 3,18 persen,” ujarnya.

Pada skenario kedua atau moderat, jika ICP menembus 97 dolar AS per barel dan nilai tukar rupiah mencapai Rp17.300 per dolar AS, dengan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen serta imbal hasil SBN 7,2 persen, defisit APBN diperkirakan meningkat hingga 3,53 persen.

Sementara dalam skenario ketiga atau terburuk, ketika ICP mencapai 115 dolar AS per barel dan kurs rupiah melemah hingga Rp17.500 per dolar AS, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2 persen dan imbal hasil SBN 7,2 persen, defisit APBN dapat melebar hingga 4,06 persen.

“Kalau skenario pesimis dengan harga ICP 115 dolar AS per barel dan kurs Rp17.500 per dolar AS, defisitnya bisa mencapai 4,06 persen,” ujar Airlangga.

Ia menilai, menjaga defisit APBN di bawah 3 persen akan menjadi tantangan apabila kondisi tersebut benar-benar terjadi.

"Jadi, artinya dengan berbagai skenario ini defisit yang 3 persen itu sulit kami pertahankan. Kecuali kami mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan Pak Presiden. Nah, ini beberapa skenario yang mungkin perlu kami rapatkan secara terbatas,” tutur Airlangga.

Dia menambahkan, lonjakan harga minyak mentah kerap terjadi saat krisis global. Dalam 25 tahun terakhir, harga minyak tertinggi mencapai sekitar 139 dolar AS per barel pada Juni 2008 saat krisis subprime mortgage di Amerika Serikat (AS).

Dalam catatannya, pada 2011, harga minyak menembus sekitar 125 dolar AS per barel ketika terjadi konflik Arab Spring. Sementara saat perang Rusia-Ukraina, harga minyak sempat mencapai sekitar 110 dolar AS per barel sebelum turun menjadi 78 dolar AS per barel pada September 2022.

“Nah kali ini, cadangan minyak Amerika relatif masih aman dan mereka memiliki cadangan nasional. Bahkan strategic petroleum reserve dari berbagai negara juga belum dikeluarkan,” ucapnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More