Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Alasan Investor Yakin Pasar Saham Bisa Bersinar di Era Trump

3 Alasan Investor Yakin Pasar Saham Bisa Bersinar di Era Trump
Presiden AS Donald Trump (instagram.com/potus)
Intinya Sih
  • Investor optimistis pasar saham AS akan menguat di era Trump berkat kombinasi kebijakan pro-bisnis, pertumbuhan ekonomi stabil, dan inflasi yang diperkirakan tetap terkendali.
  • Pemangkasan pajak, suku bunga rendah, serta biaya energi menurun dinilai memperkuat laba perusahaan dan mendorong aktivitas IPO serta merger-akuisisi sepanjang 2026.
  • Volatilitas pasar dianggap sebagai peluang bagi investor jangka panjang untuk membeli saham murah, dengan disiplin strategi menjadi kunci menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pasar saham Amerika Serikat selalu menjadi pusat perhatian investor global, terutama ketika perubahan politik membawa arah kebijakan ekonomi yang baru. Pada periode pertama kepemimpinan Donald Trump, indeks saham utama menunjukkan performa yang luar biasa, bahkan mencetak rekor tertinggi dalam waktu relatif singkat.

Kini, pertanyaan besar kembali muncul di kalangan pelaku pasar: apakah tren kenaikan tersebut akan kembali terulang pada masa jabatan keduanya?

Sejumlah investor profesional percaya peluang tersebut masih sangat terbuka. Dilansir GOBankingRates, seorang investor menilai bahwa kombinasi kebijakan ekonomi, pertumbuhan laba perusahaan, serta dinamika pasar justru dapat menjadi bahan bakar baru bagi penguatan pasar saham ke depan.

Pertumbuhan ekonomi jadi fondasi utama

Ilustrasi uang (freepik.com)
Ilustrasi uang (freepik.com)

Menurut investor sekaligus pendiri EntityCheck.com, Levon Gasparian, perubahan kebijakan publik saat ini cenderung mendukung ekspansi dunia usaha. Pemangkasan pajak serta penyederhanaan regulasi dinilai memberi ruang lebih luas bagi perusahaan untuk berkembang dan meningkatkan aktivitas bisnis.

Lembaga keuangan global Goldman Sachs dalam proyeksi ekonomi 2026 memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (GDP) mencapai 2,5%. Selain itu, bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, diprediksi akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali masing-masing sebesar seperempat poin.

Suku bunga yang lebih rendah biasanya mendorong pertumbuhan ekonomi karena biaya pinjaman menjadi lebih murah. Perusahaan dapat memperluas usaha, meningkatkan perekrutan tenaga kerja, dan mempercepat investasi. Meski demikian, stimulus ekonomi semacam ini tetap membawa risiko berupa potensi kenaikan inflasi.

Namun, Goldman Sachs memperkirakan inflasi berbasis PCE akan turun hingga sekitar 2,1% pada akhir tahun. Kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang stabil dan inflasi yang terkendali menjadi faktor penting yang mampu meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar saham.

Di sisi lain, pemerintahan Trump juga berfokus pada kebijakan energi yang lebih ramah industri minyak. Data dari Federal Reserve menunjukkan harga minyak turun dari USD 80,63 sebelum pelantikan Trump menjadi sekitar USD 62,53 pada Februari 2026 — penurunan sekitar 22,4%. Biaya energi yang lebih rendah tentu membantu menekan pengeluaran operasional perusahaan.

Pertumbuhan laba perusahaan semakin kuat

Ilustrasi pasar saham (freepik.com)
Ilustrasi pasar saham (freepik.com)

Gasparian menilai kenaikan pasar saham tidak hanya didorong oleh ekspansi ukuran perusahaan, tetapi juga oleh peningkatan profitabilitas.

Banyak perusahaan mengalami lonjakan laba berkat pemotongan pajak serta perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI). Keuntungan tambahan ini dapat digunakan kembali untuk ekspansi bisnis ataupun dibagikan kepada investor dalam bentuk dividen maupun buyback saham.

Selain faktor tersebut, perusahaan sekuritas Fidelity Investments memperkirakan tahun 2026 berpotensi menjadi periode yang kuat bagi aktivitas penawaran saham perdana (IPO). Sementara laporan terpisah dari Goldman Sachs memprediksi lonjakan aktivitas merger dan akuisisi selama pemerintahan Trump, yang secara historis sering menjadi katalis positif bagi pasar saham.

Volatilitas justru membuka peluang

Ilustrasi seorang wanita memerhatikan pergerakan pasar saham (freepik.com)
Ilustrasi seorang wanita memerhatikan pergerakan pasar saham (freepik.com)

Gaya kepemimpinan Trump yang sering dianggap sulit diprediksi memang kerap memicu volatilitas pasar. Namun bagi investor berpengalaman, kondisi tersebut bukan ancaman — melainkan peluang.

Secara historis, pasar saham cenderung pulih setelah mengalami koreksi. Setelah penurunan sekitar 10% hingga 20%, pasar sering kali mencatatkan kenaikan dua digit dalam 12 bulan berikutnya sekitar 70% dari waktu yang terjadi. Artinya, periode gejolak justru dapat menjadi momentum membeli saham dengan harga lebih murah.

Kunci utamanya adalah disiplin investasi jangka panjang. Pasar saham memang bergerak naik dan turun secara siklus, tetapi investor yang mampu menahan emosi dan tetap berpegang pada strategi keuangan biasanya memperoleh hasil yang lebih konsisten.

Meski prospek pasar saham terlihat menjanjikan di tengah kebijakan ekonomi yang pro-bisnis, investor tetap perlu memahami bahwa tidak ada reli pasar yang berlangsung selamanya tanpa risiko. Faktor inflasi, geopolitik, maupun perubahan kebijakan moneter tetap dapat memengaruhi arah pasar sewaktu-waktu.

Namun, jika pertumbuhan ekonomi tetap solid, inflasi terkendali, dan laba perusahaan terus meningkat, maka peluang pasar saham untuk melanjutkan tren positif masih terbuka lebar. Pada akhirnya, keberhasilan investasi bukan hanya soal membaca momentum politik atau ekonomi, tetapi tentang konsistensi, kesabaran, dan kemampuan mempertahankan strategi di tengah ketidakpastian pasar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More