Kinerja Dunia Usaha Kuartal I 2026 Stabil Berkat Hari Besar Keagamaan

- Kinerja dunia usaha kuartal I 2026 tetap stabil dengan SBT 10,11 persen, didorong oleh meningkatnya permintaan selama Hari Besar Keagamaan Nasional dan musim panen sejumlah komoditas pertanian.
- Kapasitas produksi terpakai naik menjadi 73,33 persen, sementara kondisi likuiditas dan rentabilitas perusahaan masih baik meski sedikit menurun; akses kredit perbankan tercatat lebih mudah dibanding kuartal sebelumnya.
- Tekanan harga jual meningkat pada kuartal I 2026 dengan SBT 15,82 persen, terutama dari sektor perdagangan besar dan eceran akibat kenaikan biaya bahan baku serta operasional.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) melaporkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang mengindikasikan kinerja kegiatan dunia usaha tetap terjaga, meskipun mengalami perlambatan pada kuartal I-2026. Hal ini tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 10,11 persen.
Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, menyampaikan kinerja mayoritas lapangan usaha (LU) tercatat positif, terutama berasal dari LU Jasa Keuangan; LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; LU Industri Pengolahan; serta LU Perdagangan Besar dan Eceran, termasuk Reparasi Mobil dan Sepeda Motor.
"Perkembangan ini sejalan dengan meningkatnya permintaan masyarakat selama berbagai Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) pada kuartal I-2026, seperti Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, periode Ramadan dan Idul Fitri 1447 H, serta dimulainya musim panen sejumlah komoditas pertanian," kata Anton dalam keterangan tertulis, Jumat (17/4/2026).
1. Kapasitas produksi meningkat di kuartal I

Sementara itu, kapasitas produksi terpakai meningkat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Hal ini tercermin dari kapasitas produksi terpakai pada kuartal I 2026 tercatat sebesar 73,33 persen, lebih tinggi dibandingkan 73,15 persen pada kuartal IV 2025. Peningkatan kapasitas produksi ditopang oleh LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 72,53 persen dan LU Industri Pengolahan (70,31 persen).
"Lapangan usaha lainnya yang tercatat melambat, yaitu Pengadaan Listrik 80,49 persen, LU Pertambangan dan Penggalian 68,55 persen dan LU Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang 74,74 persen, sejalan dengan aktivitas usahanya," ujar Anton.
Dengan kinerja di kuartal I, responden memperkirakan kegiatan usaha pada kuartal II 2026 meningkat dengan SBT sebesar 14,80 persen. Peningkatan kegiatan usaha diperkirakan terutama bersumber dari LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sejalan dengan berlanjutnya musim panen komoditas pangan, LU Pertambangan dan Penggalian didukung oleh penurunan curah hujan sehingga mendorong aktivitas pertambangan, serta LU Konstruksi seiring dengan dimulainya pengerjaan sejumlah proyek.
2. Kondisi keuangan dan akses kredit

Berdasarkan kondisi keuangan perusahaan, responden menilai likuiditas perusahaan masih dalam kondisi baik pada kuartal | 2026. Hal ini tecermin dari Saldo Bersih (SB) Likuiditas kuartal I 2026 sebesar 17,05 persen, meski lebih rendah dibandingkan SB 18,72 persen pada kuartal IV 2025.
Persentase responden yang menjawab kondisi likuiditas pada kuartal I 2026 "lebih baik" sebesar 23,98 persen, lebih rendah dibandingkan 25,93 persen pada kuartal sebelumnya.
"Kondisi rentabilitas atau kemampuan perusahaan untuk mencetak laba juga terindikasi masih dalam kondisi baik pada kuartal I 2026. Hal ini tecermin dari SB Indikator Rentabilitas sebesar 14,87 persen, meski lebih rendah dari SB 16,51 persemn pada kuartal sebelumnya. Persentase responden yang menjawab kondisi rentabilitas pada kuartal I 2026 "lebih baik" sebanyak 24,04 persen, menurun dibandingkan 25,90 persen pada kuartal sebelumnya," kata Anton.
Di sisi lain, responden menilai akses kredit perbankan pada kuartal I 2026 lebih mudah. Hal ini tercermin dari SB akses kredit sebesar 4,84 persen pada kuartal I 2026, lebih tinggi dibandingkan SB 2,93 persen pada kuartal IV 2025. Persentase responden yang menjawab "lebih mudah" sebesar 8,77 persen, meningkat dibandingkan dengan 6,57 persen pada kuartal sebelumnya.
3. Terjadi peningkatan harga jual di kuartal I bersumber dari perdagangan besar dan eceran

Anton menjelaskan, terdapat indikasi meningkatnya tekanan harga jual pada kuartal I 2026. Hal ini tercermin dari SBT harga jual pada kuartal I 2026 sebesar 15,82 persen, lebih tinggi dari SBT 12,37 persen pada kuartal sebelumnya.
Peningkatan harga jual pada kuartal laporan terutama bersumber dari LU Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Motor SBT 4,65 persen, diikuti LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan SBT 4,07 persen, serta LU Industri Pengolahan SBT 2,94 persen. Menurut responden, kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan biaya bahan baku/material dan biaya operasional lainnya.
"Tekanan harga jual pada kuartal II 2026 diperkirakan sebesar SBT 12,81 persen, lebih rendah dibandingkan SBT 15,82 persen pada kuartal I 2026. Perlambatan harga jual tersebut terutama terjadi pada LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan SBT 3,56 persen dan LU Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Motor SBT 3,16 persen, sejalan dengan penurunan biaya operasional dan biaya promosi," kata Anton.


















