- Stakeholder Internal: Pihak-pihak yang berada di dalam struktur organisasi atau perusahaan dan terlibat secara langsung dalam kegiatan operasional serta pengambilan keputusan sehari-hari.
- Stakeholder Eksternal: Sebaliknya, jenis ini mencakup para pihak yang berada di luar lingkup operasional perusahaan, namun tetap memiliki keterkaitan, pengaruh, atau merasakan dampak langsung maupun tidak langsung dari bisnis yang berjalan.
Apa itu Stakeholder? Pengertian, Jenis, dan Perannya

Stakeholder adalah individu, kelompok, atau instansi yang berkepentingan terhadap perusahaan; keputusan bisnis berdampak dua arah pada mereka dan organisasi.
Stakeholder terbagi menjadi internal, seperti pemilik, pemegang saham, dan karyawan, serta eksternal, meliputi pelanggan, pemasok, pemerintah, dan masyarakat sekitar.
Mereka berperan menentukan kebijakan, mendukung operasional, mengawasi regulasi, serta memberi umpan balik; hubungan dijaga lewat komunikasi transparan, pemahaman kebutuhan, dan pemenuhan komitmen.
Stakeholder adalah setiap individu, kelompok, atau pihak yang memiliki kepentingan dalam suatu organisasi atau perusahaan. Segala keputusan atau tindakan yang diambil oleh perusahaan dapat memengaruhi mereka, begitu juga sebaliknya.
Sering kali, istilah stakeholder disalahartikan sebagai orang-orang yang menduduki jabatan tinggi di dalam perusahaan. Padahal, pemahaman tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Nah, agar kamu lebih memahaminya berikut pengertian, jenis, serta apa saja peran dan tugas stakeholder. Yuk, mari simak pembahasan lengkap berikut!
Table of Content
1. Apa itu stakeholder?

ilustrasi stakeholder (pexels.com/Christina Morillo) Secara mendasar, stakeholder atau yang sering diterjemahkan sebagai pemangku kepentingan adalah setiap individu, kelompok, atau instansi yang memiliki kepentingan terhadap suatu organisasi atau perusahaan. Keberadaan mereka bersifat dua arah yang berarti segala keputusan, kebijakan, maupun tindakan operasional yang diambil oleh perusahaan dapat memberikan dampak bagi mereka, begitu pula sebaliknya.
Artinya, maju mundurnya sebuah bisnis tidak hanya ditentukan oleh kerja keras internal perusahaan saja, tetapi juga melibatkan berbagai pihak luar yang ikut merasakan imbas dari aktivitas bisnis tersebut.
2. Jenis-jenis stakeholder

ilustrasi bos yang ngegas mengejar target (pexels.com/Pavel Danilyuk) Dalam praktiknya, stakeholder dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama, yakni di antaranya:
3. Contoh stakeholder

ilustrasi bos yang baik (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Agar perbedaannya semakin jelas, berikut adalah contoh dari masing-masing kategori stakeholder:
- Contoh Stakeholder Internal:
- Pemilik Perusahaan (Owner): Penanam modal utama yang memegang kendali atas arah kebijakan strategis bisnis.
- Pemegang Saham: Pihak yang menanamkan modal dan turut mengawasi pertumbuhan finansial perusahaan.
- Karyawan: Individu yang mendedikasikan tenaga dan keahliannya untuk menjalankan roda operasional perusahaan sehari-hari.
- Contoh Stakeholder Eksternal:
- Pelanggan: Konsumen yang membeli dan menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan.
- Pemasok (Supplier): Mitra yang menyediakan bahan baku atau kebutuhan pendukung agar proses produksi tidak terhambat.
- Pemerintah: Regulator yang menetapkan kebijakan hukum, perizinan, serta perpajakan bagi perusahaan.
- Masyarakat Sekitar: Publik yang berdampak secara sosial maupun lingkungan atas keberadaan operasional bisnis.
- Contoh Stakeholder Internal:
4. Peran stakeholder

ilustrasi bos bijaksana (pexels.com/Kampus Production) 5. Perbedaan stakeholder dan shareholder

ilustrasi bos yang micro-manager (pexels.com/MART PRODUCTION) Selain stakeholder, terdapat pula istilah shareholder. Keduanya terdengar mirip dan saling berkaitan, namun memiliki makna yang berbeda. Agar kamu tidak keliru, berikut adalah tabel perbandingan antara stakeholder dan shareholder.
Perbedaan stakeholder dan shareholder
Aspek Perbedaan
Stakeholder (Pemangku Kepentingan)
Shareholder (Pemegang Saham)
Definisi
Setiap individu, kelompok, atau pihak yang memiliki kepentingan, terpengaruh, atau memengaruhi jalannya perusahaan.
Investor atau pihak yang memiliki bukti kepemilikan berupa saham sah di dalam perusahaan.
Cakupan Anggota
Sangat luas; mencakup karyawan, pelanggan, pemasok, masyarakat, pemerintah, manajemen, hingga shareholder itu sendiri.
Lebih spesifik; hanya terbatas pada individu atau badan hukum yang menanamkan modal (membeli saham) di perusahaan.
Kepemilikan Saham
Tidak harus memiliki kepemilikan finansial atau saham di dalam perusahaan.
Wajib memiliki setidaknya satu lembar saham atau bagian kepemilikan modal di perusahaan.
Fokus & Kepentingan
Memiliki kepentingan yang beragam dan jangka panjang, mulai dari kelangsungan operasional, kesejahteraan karyawan, hingga dampak sosial.
Berfokus utama pada keuntungan finansial, kenaikan nilai saham (capital gain), serta pembagian dividen.
Sifat Hubungan
Memiliki ikatan hubungan kerja, sosial, atau operasional yang umumnya bersifat jangka panjang dengan perusahaan.
Bersifat fleksibel; dapat menjual saham yang dimiliki kapan saja di pasar saham untuk beralih ke perusahaan lain.
Keberadaan dalam Bisnis
Mutlak ada di setiap jenis organisasi atau perusahaan (baik komersial maupun nirlaba).
Tidak semua bisnis memilikinya (misalnya perusahaan perseorangan, CV konvensional, atau organisasi non-profit).
Kehadiran para pemangku kepentingan memegang fungsi yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup sebuah bisnis. Beberapa peran utamanya meliputi:
- Menentukan Arah Kebijakan: Pihak seperti pemilik dan manajemen berperan besar dalam merumuskan visi, misi, serta strategi jangka panjang perusahaan.
- Mendukung Operasional Bisnis: Karyawan dan pemasok memastikan proses produksi hingga distribusi berjalan lancar setiap harinya. Melalui persetujuan oleh dewan direksi, mereka memiliki tanggung jawab penuh terhadap jalannya sebuah proyek bisnis.
- Mengawasi dan Memberikan Regulasi: Pemerintah memastikan seluruh kegiatan bisnis mematuhi hukum yang berlaku, sementara masyarakat serta media turut mengawasi dampak sosialnya.
- Memberikan Umpan Balik: Pelanggan memiliki peran untuk memberikan umpan balik yang bisa berbentuk baik saran maupun kritik. Hal tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan untuk terus memperbaiki kualitas produk maupun layanan.
6. Cara membangun hubungan antara stakeholder dan perusahaan

ilustrasi bos perempuan (pexels.com/Yan Krukau) Menjaga keharmonisan hubungan dengan seluruh stakeholder merupakan kunci utama pencapaian bisnis jangka panjang. Berikut adalah beberapa langkah penting yang bisa dilakukan perusahaan:
- Komunikasi yang Transparan: Menyampaikan informasi yang jujur, terbuka, dan secara berkala kepada pihak internal maupun eksternal guna meminimalisir kesalahpahaman.
- Memahami Kebutuhan dan Ekspektasi: Setiap kelompok stakeholder memiliki kepentingan yang berbeda; perusahaan perlu mengenali apa harapan mereka agar bisa diakomodasi dengan baik.
- Konsistensi dalam Memenuhi Komitmen: Memastikan setiap perjanjian, hak karyawan, kepuasan pelanggan, hingga regulasi pemerintah dipenuhi dengan penuh tanggung jawab.
Itu dia ulasan lengkap mengenai stakeholder, mulai dari pengertian, jenis, peran, contoh, hingga cara membangun hubungan yang baik demi kelangsungan bisnis. Semoga bermanfaat!


















