Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Faktor yang Membuat Nilai Investasi Terus Menyusut
ilustrasi investasi (Pixabay.com/Pixabay)
  • Harga aset yang turun akibat kondisi ekonomi, kinerja perusahaan, sentimen pasar, atau ekspektasi investor dapat menyusutkan portofolio; diversifikasi membantu mengurangi dampak penurunan satu aset.
  • Inflasi mengurangi daya beli, sehingga kenaikan nominal investasi belum tentu menambah kekayaan riil jika imbal hasilnya tidak mampu mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa.
  • Biaya transaksi, pengelolaan, administrasi, dan biaya berkelanjutan dapat menggerus keuntungan jangka panjang karena dana tersebut tidak lagi menghasilkan return dan efek compounding.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sudah rutin investasi, tetapi ketika mengecek portofolio justru bikin hati nyesek karena nilainya terus turun? Kondisi seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang mustahil terjadi. Investasi memang menawarkan peluang untuk mengembangkan uang, tetapi tidak pernah datang tanpa risiko. Nilai aset dapat naik dan turun, sementara biaya dan inflasi juga bisa diam-diam menggerus hasil yang diperoleh.

Setiap produk investasi memiliki risiko dan potensi imbal hasil yang berbeda. Karena itu, investor perlu memahami bukan hanya potensi keuntungan, tetapi juga berbagai faktor yang dapat mengurangi nilai investasinya. Lantas, apa saja yang bisa membuat nilai investasi terus menyusut?

1. Harga aset terus turun

ilustrasi investasi (Pixabay.com/Mohamed Hassan)

Penyebab yang paling mudah terlihat tentu saja adalah harga aset yang mengalami penurunan. Misalnya, kamu membeli saham senilai Rp10 juta. Beberapa waktu kemudian, harga saham tersebut turun 20 persen. Nilai investasi kamu secara otomatis ikut turun menjadi sekitar Rp8 juta.

Penurunan harga dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti perubahan kondisi ekonomi, kinerja perusahaan, sentimen pasar, hingga perubahan ekspektasi investor. Dilansir Investorgov seluruh investasi memiliki risiko dan investor bahkan dapat kehilangan sebagian atau seluruh uang yang diinvestasikan. Masalahnya, investor kadang terlalu fokus pada satu aset. Ketika aset tersebut jatuh, seluruh portofolio ikut terdampak.

Salah satu cara untuk mengelola risiko tersebut adalah diversifikasi, yaitu menyebarkan investasi ke berbagai aset dengan karakteristik risiko dan imbal hasil yang berbeda. Diversifikasi tidak menghilangkan risiko, tetapi dapat membantu mengurangi dampak ketika salah satu investasi mengalami penurunan.

2. Inflasi menggerus nilai uang

ilustrasi inflasi (Pexels.com/Markus Winkler)

Nilai investasi tidak hanya perlu dilihat dari berapa rupiah yang dimiliki, tetapi juga dari berapa banyak barang dan jasa yang dapat dibeli dengan uang tersebut. Misalnya, uang Rp100 juta saat ini tentu tidak memiliki daya beli yang sama dengan Rp100 juta beberapa tahun mendatang jika harga barang dan jasa terus meningkat. Artinya, investasi yang nilainya bertambah sedikit saja belum tentu benar-benar memberikan pertumbuhan kekayaan secara riil.

Dilansir Investorgov, Inflasi mengurangi daya beli. Bahkan, investasi dengan tingkat pengembalian tertentu tetap menghadapi risiko apabila pertumbuhannya tidak mampu mengimbangi kenaikan harga. Karena itu, investor perlu membedakan return nominal dan return riil. Return nominal adalah kenaikan nilai investasi yang terlihat di rekening, sedangkan return riil memperhitungkan dampak inflasi terhadap daya beli.

3. Biaya investasi terus memakan keuntungan

ilustrasi investasi (Pexels.com/nattanan23)

Ini salah satu faktor yang sering tidak terasa karena nilainya mungkin hanya sebagian kecil dari portofolio. Padahal, biaya investasi yang terlihat kecil bisa menjadi besar jika terus dibayarkan dalam jangka panjang. Biaya tersebut dapat berupa biaya transaksi, biaya pengelolaan, biaya administrasi, hingga biaya berkelanjutan lainnya, tergantung produk investasi yang digunakan.

Selisih biaya yang terlihat kecil ternyata dapat menghasilkan perbedaan nilai portofolio yang cukup besar dalam jangka panjang. Hal ini terjadi karena uang yang digunakan untuk membayar biaya tidak lagi berada di dalam investasi untuk menghasilkan return. Efek tersebut kemudian dapat semakin besar karena adanya mekanisme compounding.

Investasi yang terus menyusut tidak selalu berarti investasinya pasti buruk. Bisa jadi harga aset memang sedang turun, pertumbuhannya kalah dari inflasi, atau biaya yang dibayarkan terlalu besar. Terpenting, jangan hanya melihat angka keuntungan atau kerugian di aplikasi investasi. Pahami juga risiko, inflasi, biaya, dan jangka waktu investasi. Dengan begitu, ketika nilai portofolio turun, kamu bisa membedakan apakah itu sekadar fluktuasi pasar atau justru tanda bahwa strategi investasi perlu dievaluasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article