Subuh menulis embun di ujung daun
dengan tinta yang tidak terlihat,
seolah Bumi sedang berbisik
kepada sesuatu yang tak bisa dijawab.

Cahaya merambat pelan di dinding waktu,
seperti doa yang tersesat
mencari arah di antara sunyi
yang terlalu dalam untuk disebut nama.

Angin menenun jarak
dari benang-benang yang tak kasatmata
mengikat perasaan
pada hal-hal yang tak pernah benar-benar ada.

Di dalam pikiranku,
kata-kata tumbuh seperti hutan liar:
rapat, gelap, dan penuh arah yang saling meniadakan.

Aku mencoba memetik satu makna,
tetapi ia berubah menjadi bayang
yang larut sebelum sempat disentuh.

Barangkali bahasa hanyalah rumah sementara,
tempat rasa berteduh sebentar
sebelum kembali mengembara
ke wilayah yang tak bisa dijelaskan.

Dan kita
adalah pengucap yang kelelahan
mengulang dunia dengan kata-kata
yang diam-diam
telah lupa jalan pulang.