Di kebun hatiku tumbuh nama-nama
Berdaun huruf, berakar kenangan
Angin membacanya dengan suara pelan
Seperti doa yang belum menemukan tujuan

Sebagian berbunga rindu
Sebagian gugur sebelum sempat mekar
Namun tanah tidak pernah memilih
Ia menerima semua yang jatuh

Aku berjalan di antara suku kata
Menghindari duri bernama sesal
Memetik satu kelopak keberanian
Untuk kutanam kembali di hari esok

Dan kebun ini terus hidup diam-diam
Menyimpan rahasia di balik warna
Tentang betapa kata pun bisa tumbuh
Jika disiram dengan kejujuran