[PUISI] Teks Tanpa Pengirim

Layar menyala di jam yang sepi,
kata singkat jatuh tanpa janji.
Tak ada nama, tak ada arti,
hanya getar yang diam-diam menghuni.
Hurufnya rapi tapi terasa goyah,
seperti rindu yang takut bersuara.
Kubaca pelan, maknanya basah,
meninggalkan tanya di dada yang pasrah.
Kupikir itu hanya salah kirim,
atau perasaan yang lupa disaring.
Namun jedanya terlalu intim,
seperti rahasia yang ingin berpaling.
Akhirnya kututup tanpa balasan,
membiarkan sunyi jadi jawaban.
Sebab tak semua pesan butuh tujuan,
ada yang cukup hadir lalu hilang perlahan.
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.


















