[CERPEN] Kursi Roda Ali

- Ali mengalami kesulitan karena baterai kursi rodanya aus dan drop setelah empat tahun pemakaian.
- Usman dan Annie berjuang keras mencari teknisi yang bisa mereparasi baterai kursi roda Ali dengan biaya terjangkau.
- Usman mendapat rezeki dari Allah SWT melalui pekerjaan menulis riset tentang akses difabel, sehingga mampu membayar biaya reparasi baterai Ali.
Sudah beberapa hari ini, Ali tampak uring-uringan dan kehilangan semangat. Ia bahkan enggan menjawab pertanyaan Ayah dan Bundanya, Usman dan Annie.
Penyebabnya sederhana: baterai kursi roda listrik miliknya—yang setiap hari menjadi penopang mobilitasnya—mulai drop, aus, dan tak lagi mampu menyimpan daya. Padahal, baterai kursi roda itu baru saja direparasi pada bulan Juli tahun ini.
Kursi roda itu dibeli sekitar empat tahun lalu. Sejak pertengahan liburan kenaikan kelas tahun ini, baterainya benar-benar kehabisan tenaga. Saat ini, Ali duduk di kelas 12, kelas terakhir di sebuah SMA negeri favorit di Yogyakarta.
Usman terkenang bagaimana awal mula Ali menggunakan kursi roda untuk mobilitasnya. Pada tahun 2012, setelah seorang terapis pijat mematahkan kaki Ali—yang waktu itu masih berumur tiga tahun—Usman dan Annie menjadi panik, sedih, sekaligus marah.
Setelah tidak bisa tidur semalaman, Ali berkata kepada Bundanya, Annie,
“Bunda, Ali ingin tidur, tapi kok sakit kakinya tidak pergi-pergi.”
Annie panik mendengar kata-kata anaknya itu. Wajah Ali pucat karena menahan sakit. Tanpa pikir panjang, mereka melarikan Ali ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit swasta di Yogyakarta.
Setelah dirontgen, diketahui bahwa tulang paha Ali patah dan lepas. Dokter kemudian merekomendasikan agar Ali dirawat inap, dengan cara ditraksi, sampai sembuh total. Usman sendiri saat itu cukup stres memikirkan biaya perawatan.
Untungnya, ayah dan ibu Usman bersedia mendanai perawatan Ali sampai sembuh. Kedua orang tua Usman tersebut memang sangat menyayangi Ali, cucu satu-satunya. Sebenarnya, mereka ingin Ali dibesarkan di Kampuang oleh mereka. Namun, Annie tidak sanggup berpisah dengan anak satu-satunya itu. Setiap hari ia menangis sambil menciumi baju Ali.
Sebuah gempa besar yang terjadi di Sumatera Barat pada tanggal 30 September 2009 menjadi momen bagi Usman dan Annie untuk membawa pulang Ali kembali ke Jakarta bersama mereka. Saat itu, mereka sudah meninggalkan Ali di Kampuang selama kurang lebih satu minggu.
Setelah membawa Ali dan Annie ke kamar rawat inap, Usman kemudian pergi bersama bapak mertuanya dan adik laki-laki mertuanya, yang biasa ia panggil Om Joko. Om Joko memarahi terapis yang telah mematahkan kaki Ali dan meminta pertanggungjawaban atas biaya perawatan rumah sakit.
Awalnya, terapis itu menolak. Hal itu membuat Usman melaporkannya ke polisi. Setelah beberapa kali mediasi, karena takut ancaman pidana, terapis tersebut akhirnya bersedia membayar biaya perawatan Ali. Ia juga meminta maaf kepada Ali atas keteledorannya yang mengakibatkan kaki anak itu patah.
Dengan uang itulah Usman membelikan Ali kursi roda pertamanya. Sebelumnya, Annie, istrinya, masih belum menerima kenyataan bahwa Ali harus memakai kursi roda untuk mobilitasnya. Sehari-hari di rumah, Ali menggunakan sepeda roda tiga untuk mengelilingi rumah mereka.
Namun, setelah melihat kondisi otot Ali yang semakin melemah setiap harinya akibat sindrom Spinal Muscular Atrophy yang diidapnya, Annie akhirnya sadar bahwa Ali memang sangat membutuhkan kursi roda untuk mobilitasnya.
Kursi roda pertama itu bahkan mereka bawa ke Inggris. Usman dan keluarga sempat berpetualang ke sana, ke kota Bath, yang terletak di sebelah barat daya London.
Di Inggris, setelah beberapa bulan tinggal di sana, Usman mengajukan aplikasi permohonan peminjaman kursi roda kepada pemerintah Inggris. Beberapa minggu kemudian, aplikasi itu disetujui. Mereka sekeluarga harus bolak-balik Bath dan Bristol untuk menyelesaikan proses aplikasi tersebut.
Kursi roda listrik dan kursi roda manual diantarkan ke sekolah Ali, St Martin’s Garden Primary School. Ali luar biasa gembira mendapatkan kursi roda listrik. Ia langsung bisa menggunakan controller-nya. Dengan kursi roda itulah Ali berkeliling di sekolah.
Setelah dua tahun di Inggris, Usman sekeluarga harus pulang ke Indonesia karena biaya untuk melanjutkan studi di sana sudah hilang dicuri orang. Dengan berurai air mata, mereka pulang ke tanah air. Untungnya, pemerintah Inggris berbaik hati dengan memperbolehkan mereka membawa kursi roda manual.
Sesampainya di Indonesia, Usman harus mencarikan Ali seorang asisten untuk mendorong kursi rodanya karena sekolah elit tempat Ali bersekolah tidak memperbolehkan orang tua mendampingi anak di sekolah.
Setelah lulus SD dan melanjutkan ke sebuah SMP swasta inklusi di Yogyakarta, Usman diberikan rezeki oleh Allah SWT, sehingga ia mampu membelikan anaknya, Ali, sebuah kursi roda listrik yang baru.
Ali girang bukan kepalang mendapat hadiah kursi roda baru dari Ayahnya.
“Terima kasih, ya, Yah,” ucap Ali dengan mata berbinar.
“Sama-sama, Nak. Semoga Ali senang dengan hadiah dari Ayah dan Bunda ini.”
Setelah pandemi COVID-19 berakhir pada tahun 2022, Ali akhirnya bisa mengendarai kursi rodanya di sekolah. Pembelajaran mulai penuh secara luring (luar jaringan).
Hampir setiap minggu, Ali hangout dengan teman-teman sekolahnya. Mereka semua baik sekali kepada Ali dan mau bersolidaritas dengan kondisinya yang menggunakan kursi roda. Salah satu contohnya, ketika menonton film di bioskop, mereka semua rela duduk di kursi paling depan, dekat layar bioskop, bersama-sama Ali, yang hanya bisa menonton dari posisi itu.
Bahkan ketika mereka harus berpisah sekolah sekalipun—karena Ali, Janet, dan Nichole diterima di sebuah SMA negeri favorit di Yogyakarta—mereka tetap bertemu beberapa minggu sekali. Ali bahkan memperluas lingkar pertemanannya dengan menggabungkan teman-teman lamanya dari SD dan teman-teman barunya di SMA.
Pada bulan Juli 2025, setelah empat tahun pemakaian, baterai kursi roda listrik milik Ali pun drop karena sudah aus. Usman, Annie, dan Ali berusaha keras mencari orang atau bengkel yang bisa mereparasi baterai kursi roda tersebut.
Ditemukanlah seorang teknisi yang ahli di bidang baterai dan controller kursi roda listrik. Ia menawarkan biaya reparasi baterai sesuai kondisi asli sebesar Rp700.000, dan versi upgrade-nya sebesar Rp1.700.000.
Usman dan Annie lebih memilih yang tujuh ratus ribu rupiah karena kondisi keuangan mereka. Proses reparasi berlangsung selama tiga hari.
Sehari sebelum reparasi selesai, Usman kehabisan dana sama sekali. Akhirnya, Annie terpaksa meminjam uang kepada kakak tertuanya, Mas Yanto. Beliau bersedia meminjami uang untuk membayar biaya reparasi baterai tersebut.
Baterai itu kemudian diambil setelah Usman membayar biaya reparasi kepada teknisi bernama Pak Andri. Setelah dicoba di rumah, ternyata kapasitas baterai hanya setengah dari yang asli.
Usman yang malas protes membiarkan saja kondisi itu selama dua minggu. Pak Andri memang memberikan garansi satu bulan.
Pada minggu ketiga setelah reparasi, Usman mencoba mengontak teknisi tersebut. Ternyata yang bersangkutan sudah pindah tugas ke Kabupaten Agam, di dekat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.
Ia bersedia bertanggung jawab memperbaiki baterai tersebut, asalkan Usman mengirimkannya ke alamatnya di Agam. Usman bingung sekali, karena uang untuk biaya pengiriman sama sekali tidak ada. Selain itu, Ali juga sangat membutuhkan baterai untuk menggerakkan kursi rodanya ketika berkumpul dengan teman-temannya.
Kapasitas dan daya baterai itu semakin lama semakin berkurang. Hal tersebut terjadi karena tidak semua sel dalam baterai diganti dengan yang baru. Akibatnya, sel-sel lama yang sudah aus membuat sel-sel baru yang masih bagus ikut melemah.
Puncaknya adalah pada pertengahan Oktober, baterai kursi roda tersebut mati total. Untungnya, Janet dan Nichole rela mendorong Ali dari kelas sampai parkiran mobil, tempat Usman dan Annie menunggu anak sulungnya itu biasanya.
Malamnya, Usman dengan nada panik, mengontak Pak Andri, “Malam Pak, kondisi baterainya sedang kritis sekali. Kira-kira ada tidak ya, yang Njenengan kenal, yang di Jogja? Yang bisa mereparasi baterai kursi roda anak saya?”
“Mohon maaf Pak.. tidak ada kenalan yang paham perihal baterai di Jogja. Coba saya cari di internet sebentar ya Pak.” jawab Pak Andri.
Tak berapa lama, ia kemudian membagikan sebuah link Google Maps, tempat penjualan dan reparasi baterai, yang terletak di sebelah selatan Terminal Giwangan.
“Baik, terima kasih banyak atas informasinya, ya, Pak,” balas Usman di chat WhatsApp Messenger.
“Iya Pak, saya mohon maaf sekali Pak.”
“Tidak apa-apa Pak, terima kasih banyak.” balas Usman lagi.
Keesokan harinya, petualangan mencari tempat reparasi baterai dimulai. Sepulang Ali dari sekolah, Usman dan keluarga mencoba mencari tempat reparasi baterai yang direkomendasikan oleh Pak Andri.
Ali yang menjadi navigator dengan menggunakan aplikasi Google Maps. Setelah berkendara selama 45 menit, mereka akhirnya menemukan tempat reparasi baterai, yang agak tersembunyi itu.
Teknisi di sana menyarankan mengganti semua sel baterai dan merakit ulang, dengan biaya Rp1.529.000. Ia bahkan meminjamkan baterai dengan kapasitas dan daya kecil, untuk dipakai sementara agar Ali tetap bisa bergerak. Usman menyetujui, meski belum tahu bagaimana cara membayarnya.
Beberapa malam berikutnya, Usman terus berdoa: membaca doa tawakal, selawat Jibril, Surah Al-Waqiah, dan Yasin. Ia memohon agar Allah menunjukkan jalan keluar.
Dua hari sebelum baterai selesai diperbaiki, seorang seniornya di UGM, Gus Ramzy, tiba-tiba menghubunginya. Ia sedang menulis sebuah buku tentang akses untuk kaum difabel di dunia pendidikan. Gus Ramzy meminta Usman, untuk membantu menyusun satu bab riset lapangan, tentang realitas akses difabel di beberapa universitas di Yogyakarta, dengan bayaran dua juta rupiah.
Usman terdiam beberapa saat. Topik tersebut seperti sedang berdialog langsung pada dirinya.
Ia bekerja siang dan malam—mewawancarai para narasumber, menyusun data, dan menuliskan pengalaman keluarga-keluarga difabel yang sering kali lewat dari perhatian negara. Setiap kalimat yang ia tulis terasa seperti sebuah doa yang diam-diam ia panjatkan bagi anaknya sendiri, Ali, yang tengah membutuhkan dana untuk reparasi baterai kursi rodanya.
Ketika laporan itu dikirim pada dini hari, Usman merasa bukan hanya telah menyelesaikan sebuah tugas, tetapi seperti berjuang untuk takdir Ali melalui tulisan.
Beberapa jam kemudian, notifikasi dari bank masuk ke ponselnya. Uang itu masuk tepat ketika harapan hampir padam.
Usman segera mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Gus Ramzy melalui WhatsApp, kemudian duduk terdiam, memejamkan mata, dan menghela napas yang selama ini ia tahan.
Sore itu, Usman menjemput baterai kursi roda Ali dengan hati lega. Ia menatap langit dengan mata yang sedikit basah, lalu berbisik pelan,
“Terima kasih, ya Allah. Engkau selalu menolong pada saat yang paling tepat.”


















