Comscore Tracker

[CERPEN] Cukur Rambut

"Jangan-jangan, dia ini mantan intel yang sudah gila, Pak.”

“Menurut Bapak, itu bakal terjadi lagi?”

Di bawah sebuah pohon yang rindang, seorang tukang cukur rambut tua tengah memangkas rambut seorang pria muda. Walaupun kedua tangannya sudah keriput dan gemetar, dirinya begitu lihai dalam melakukan pekerjaannya. Gunting sudah seperti bagian dari anggota tubuhnya.

“Saya kurang tahu, tapi sepertinya memang iya,” balas si tukang cukur. 

Hanya bermodalkan kurang dari Rp50 ribu, si tukang cukur sudah dapat memulai bisnisnya yang belum laris-manis itu. Secara rinci, gunting, pisau cukur, sisir, dan krim cukur kurang lebih seharga Rp35 ribu saja. Sisanya, ia meminjam kursi dari warung sebelah. Kain untuk menutupi pelanggan saat dipangkas pun dicuri dari tempat pangkas lain.

Tidak lupa juga dengan lapak pekerjaannya yang disediakan alam secara cuma-cuma. Para pelanggan yang menunggu harus duduk di tanah. Alasannya ternyata cukup filosofis, yakni kita harus sering-sering bersatu dengan alam.

“Jadi, Bapak bakal pindah kemana?” tanya pria muda itu lagi.

“Belum tahu, Mas. Yang pasti, saya mau pindah ke tempat yang lebih ramai.”

Tidak jarang, angin terlampau kuat menerpa si tukang cukur. Pekerjaan serawutannya itu semakin terancam lantaran wacana penggusuran besar-besaran di tempat ia bekerja kembali digembar-gemborkan. Alhasil, ia harus selalu berpindah-pindah ke lokasi yang lebih aman–dan ini sudah entah yang ke berapa kalinya.

“Entah kenapa, saya merasa kalau mereka itu sangat tidak menyukai pekerjaan saya. Padahal, saya cuma cukur rambut, lho, Mas. Gak ada buat yang aneh-aneh,” curhat si tukang cukur.

“Kalau misalnya mereka gak suka, gak perlu menghancurkan barang-barang segala. Kan, bisa ngomong baik-baik,” sambungnya.

Laki-laki yang kira-kira sudah kepala enam itu sadar betul bahwa memang begitulah mengadu nasib di tanah orang. Padahal, di usianya tersebut, ia seharusnya sudah rebahan saja.

Namun, apa daya. Semua anaknya begitu perhatian sampai-sampai menelantarkannya dan ingin memasukkannya ke panti jompo. Ia pun tak punya pilihan selain berusaha menikmati hidup yang katanya indah ini.

Sambil dipotongi rambutnya, pria muda itu sedang membolak-balikkan koran yang sudah kelihatan usang. Dia sedang melihat-lihat berita yang sedang 'panas'. Namun, berita-berita yang ada sudah tidak hot lagi sebenarnya. Sebab, yang dibacanya adalah koran lama.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

“Kenapa gak beli yang baru, Pak? Ini, kan, koran lama,” tanya pria muda itu.

“Kenapa harus beli yang baru? Wong, gak ada yang mau baca. Lagian, orang sekitar sini masih ada yang gak pandai membaca, Mas,” tutur si tukang cukur.

Aneh bin ajaib, tapi menurut penduduk di sana, abjad merupakan simbol-simbol mistis. Bahkan, masyarakat menganggap kalau orang yang pandai membaca adalah tukang sihir. Itu sebabnya mereka enggan untuk belajar membaca.

Si tukang cukur sudah hampir selesai dengan pekerjaannya; tinggal merapikan bagian pinggiran dengan pisau dan krim cukur. Tangannya meraih kedua benda tersebut dalam sebuah plastik yang ia ambil dari tong sampah.

“Ngomong-ngomong, pas saya datang kemari, kenapa Bapak tanya kalau saya ini Satpol PP atau bukan?” si pria muda kembali bertanya.

“Akhir-akhir ini, mereka sering sekali menyamar supaya bisa menangkap saya. Jadi, tadi cuma memastikan aja apakah Mas ini termasuk salah satu dari mereka atau tidak. Begitu.” jelasnya sambil terus merapikan rambut pria muda itu.

“Sampai menyamar segala gitu, Pak?”

“Iya, tapi mereka belum cukup pandai untuk mengelabui saya. Hehe."

Akhirnya, si tukang cukur pun sudah selesai. Cukurannya agak cemong sedikit, sih. Pria muda yang sudah duduk selama 25 menit itu lantas berdiri. Ia lalu memberikan uang kepada pemangkas rambut tua tersebut.

“Terima kasih banyak, ya, Mas.”

Setelah menerima uang, si tukang cukur langsung lari terbirit-birit ke arah jalan besar dengan semua alat pangkasnya. Pria muda itu hanya bisa terbengong dan lumayan takjub melihat seorang aki-aki yang masih sanggup sprint dengan kecepatan secepat cahaya.

Dari kejauhan, laki-laki tua itu berbalik dan berteriak, “Jangan harap kalian bisa menangkapku!” Ia kemudian tergelak.

Pria muda tadi mengambil ponsel dari kantung celananya. Ia lalu berkata, “Sepertinya, kita perlu cari cara baru, Pak. Laki-laki itu ternyata orang ajaib. Walaupun buta huruf, dia cukup cerdik. Jangan-jangan, dia ini mantan intel yang sudah gila, Pak.”

Baca Juga: [CERPEN] Misteri Hilangnya Mangga Kek Ringkih

E N C E K U B I N A Photo Verified Writer E N C E K U B I N A

Mau cari kerja yang bisa rebahan terus~

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Debby Utomo

Berita Terkini Lainnya