5 Cara Merawat Starter Sourdough, Kunci Roti Homemade yang Kaya Rasa

Starter sourdough yang bagus akan menghasilkan roti lezat dan kaya rasa. Jika kamu sudah membuatnya, maka perlu merawatnya dengan baik agar tetap aktif dalam waktu lama. Bukan sekadar memberi makan, tetapi juga harus memperhatikan suhu tempat penyimpanannya.
Memelihara starter agar tetap berkualitas dan sehat bisa terasa membingungkan bagi pemula. Nah, biar gak salah langkah, berikut ini cara merawat starter sourdough yang perlu dilakukan. Rahasia roti homemade yang kaya rasa, nih!
Table of Content
1. Rutin memberi makan starter sourdough
Kunci utama starter sourdough yang sehat adalah pemberian makan secara teratur. Caranya dengan menambahkan tepung dan air yang dibutuhkan, agar tetap aktif. Kamu dapat menggunakan rasio 1:1:1 atau 1:4:4 (starter: tepung: air), misalnya, 5 gram starter: 20 gram tepung: 20 ml air.
Jika kamu cukup sering membuat sourdough dalam satu pekan, maka dapat menyimpan starter pada suhu ruangan dan beri makan setiap 12 jam. Jika jarang, kamu dapat menyimpannya di dalam kulkas dan memberinya makan seminggu sekali. Setelah memberi makan mingguan, biarkan wadah tersebut tetap pada suhu ruangan selama beberapa jam, agar bakteri punya kesempatan berkembang dan tumbuh kembali sebelum disimpan dalam kulkas.
2. Gunakan starter sourdough secara teratur

Sebaiknya gunakan starter sourdough secara teratur, supaya tetap seimbang, tetap aktif, dan tidak terlalu asam. Sebelum menggunakannya dalam beberapa hari ke depan, letakkan starter di luar kulkas, baik di atas meja, di dalam lemari, maupun rak dapur. Setelah itu, kamu dapat membuang setengahnya dan beri makan sisanya setiap dua hari sekali.
Cara tersebut bukan membuang sia-sia, tetapi dapat menjaga keseimbangan starter. Sebab, hal ini dapat membantu mengontrol keasaman dan menjaganya tetap sehat. Starter sourdough yang sehat seharusnya berbau seperti yoghurt dan sedikit asam, bahkan beraroma buah jika diberi makan secara teratur.
Jika mulai berbau asam dan seperti cuka, cukup buang lapisan cairan keabu-abuan di atasnya (hooch). Selanjutnya, tetap diberi makan dengan campuran tepung dan air seperti biasa. Setelah beberapa jam, bau asam akan berubah menjadi aroma yang lebih lembut dan hampir seperti custard.
3. Pilih jenis tepung yang tepat
Jenis tepung akan menentukan karakter starter sourdough dan roti yang kamu buat. Pasalnya, kandungan protein serta kadar nutrisi yang berbeda dapat berdampak signifikan pada proses fermentasi. Ada empat jenis tepung yang sering digunakan, yakni tepung serbaguna, tepung roti, tepung terigu utuh, dan tepung rye.
Tepung serbaguna mudah didapatkan dan cocok untuk pembuatan aneka roti rumahan. Sedangkan, tepung roti akan menghasilkan sourdough yang kuat dan gurih. Jika ingin hasil yang kaya rasa, maka gunakan tepung terigu utuh. Lain halnya dengan tepung rye yang punya rasa khas dan mampu meningkatkan proses fermentasi.
Selain tepung, kamu juga perlu memperhatikan air yang digunakan. Hindari menggunakan air dengan kandungan mineral yang berlebihan, karena dapat menghambat fermentasi. Pastikan juga kamu menggunakan air suhu ruangan, agar tidak memperlambat maupun membuat bakteri yang berperan dalam fermentasi mati.
4. Simpan sesuai dengan kondisi lingkungan

Perawatan starter sourdough perlu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan di mana kamu tinggal dan menyimpannya. Saat musim kemarau atau kamu tinggal di tempat yang panas dan lembap, maka starter akan lebih aktif. Sebaiknya, pemberian makan dalam porsi kecil dan lebih sering.
Lain halnya di daerah dengan suhu harian cukup dingin. Tidak masalah menyimpannya pada suhu ruangan dan memberi makan dua kali sehari. Namun, jika tidak memungkinkan memberi makan terlalu sering, maka bisa menyimpannya di dalam kulkas.
5. Jaga suhu tetap hangat dan stabil
Idealnya, starter sourdough menyukai suhu hangat, sekitar 21–24 derajat Celsius. Pada kondisi tersebut, ragi dan bakteri dapat bekerja optimal, sehingga starter cepat aktif setelah diberi makan. Suhu yang terlalu dingin dapat membuatnya lebih lambat dan terlalu panas akan berisiko over-fermentasi.
Hindari meletakkan starter di daerah yang terpapar langsung sinar matahari atau dekat sumber panas seperti kompor. Kamu bisa membuat suhu tetap hangat dan stabil dengan membungkus wadah starter dengan kain, jika ruangan cenderung dingin. Sebaliknya, saat cuaca terlalu panas, pindahkan ke tempat yang lebih sejuk untuk memperlambat fermentasi.
Cara merawat starter sourdough tidak rumit, tetapi membutuhkan konsistensi. Kamu perlu memperhatikan waktu makan hingga suhu tempat penyimpanannya biar tetap aktif dan sehat. Perawatan yang tepat membuat starter bertahan lebih lama dan dapat digunakan kapan saja.


















