Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

10 Makanan Indonesia dengan Rating Terendah Versi TasteAtlas 2026

10 Makanan Indonesia dengan Rating Terendah Versi TasteAtlas 2026
Potret mengukus pepes (vecteezy.com/Montian Noowong)
Share Article

Indonesia dikenal sebagai surga kuliner dengan ribuan hidangan khas menggugah selera yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Namun, tidak semua makanan tradisional Indonesia mendapat respons positif dari lidah internasional.

Dalam daftar 89 Worst Rated Indonesian Foods yang dirilis TasteAtlas per 17 Juni 2026, sejumlah hidangan Nusantara memperoleh skor terendah berdasarkan penilaian pengguna platform tersebut. Perlu diketahui, pemeringkatan ini disusun berdasarkan lebih dari 9.300 ulasan pengguna, dengan sekitar 6.321 penilaian yang telah diverifikasi sebagai ulasan sah oleh sistem TasteAtlas.

Platform tersebut juga menegaskan daftar ini tidak dimaksudkan sebagai kesimpulan akhir mengenai kualitas suatu makanan. Tujuannya adalah memperkenalkan kuliner lokal, menumbuhkan kebanggaan terhadap makanan tradisional, serta mengundang rasa penasaran terhadap hidangan yang mungkin belum pernah dicoba sebelumnya.

Menariknya, beberapa makanan yang masuk daftar ini justru merupakan hidangan yang sangat populer di daerah asalnya. Berikut 10 makanan Indonesia dengan rating terendah versi TasteAtlas 2026.

Table of Content

1. Paniki (2,2)

1. Paniki (2,2)

Paniki menempati posisi teratas dalam daftar makanan Indonesia dengan rating terendah versi TasteAtlas. Hidangan khas Minahasa, Sulawesi Utara, ini menggunakan kelelawar buah sebagai bahan utama.

Proses pembuatannya cukup unik. Kelelawar biasanya dibakar terlebih dahulu untuk menghilangkan buluya, kemudian dibersihkan dan dimasak bersama berbagai rempah seperti bawang merah, bawang putih, jahe, serai, daun kari, daun bawang, hingga santan. Hasilnya adalah hidangan berkuah dengan cita rasa rempah yang kuat.

Bagi masyarakat Minahasa, paniki merupakan kuliner tradisional yang telah diwariskan turun-temurun. Namun, penggunaan kelelawar sebagai bahan utama membuat makanan ini terasa ekstrem bagi banyak wisatawan internasional maupun domestik, sehingga memengaruhi penilaiannya.

2. Tinutuan (2,6)

Potret bubur tinutuan
Potret bubur tinutuan (commons.wikimedia.org/Midori)

Tinutuan atau bubur Manado merupakan menu sarapan khas Sulawesi Utara yang terkenal sehat dan kaya nutrisi. Berbeda dengan bubur pada umumnya, tinutuan dibuat dari campuran beras, jagung, singkong, ubi, labu kuning, serta berbagai sayuran hijau. Teksturnya kental dengan rasa gurih yang ringan.

Meski sangat digemari masyarakat Manado, sebagian pengguna TasteAtlas menilai tampilannya kurang menarik dibanding bubur khas Indonesia lainnya. Padahal, hidangan ini justru dikenal sebagai salah satu makanan tradisional Indonesia yang kaya serat dan vitamin.

3. Lawar (2,7)

Lawar merupakan salah satu hidangan paling ikonik dari Bali. Makanan ini terdiri atas campuran sayuran cincang, kelapa parut, daging cincang, rempah-rempah, dan dalam beberapa versi tradisional ditambahkan darah segar hewan.

Nama lawar sendiri merujuk pada teknik pengolahannya, yakni mencincang seluruh bahan hingga halus sebelum dicampur menjadi satu.

Bagi masyarakat Bali, lawar memiliki nilai budaya dan sering hadir dalam upacara adat maupun keagamaan. Namun, penggunaan darah sebagai salah satu bahan membuat hidangan ini sulit diterima sebagian penikmat kuliner internasional.

4. Nasi jagung (2,7)

Potret nasi jagung
Potret nasi jagung (commons.wikimedia.org/Ichi Ocha)

Nasi jagung berasal dari Jawa Timur, Madura, dan beberapa wilayah Bali. Hidangan ini dibuat dari jagung yang dikeringkan dan diolah hingga menyerupai nasi.

Awalnya, nasi jagung berkembang sebagai alternatif saat beras sulit diperoleh. Seiring berjalannya waktu, makanan ini justru menjadi bagian penting dari identitas kuliner masyarakat setempat.

Teksturnya yang lebih kasar dibandingkan nasi putih serta rasa manis alami dari jagung membuat sebagian pengguna TasteAtlas memberikan penilaian rendah. Meski demikian, nasi jagung tetap dianggap sebagai pangan tradisional yang kaya serat dan memiliki nilai sejarah tersendiri.

5. Pepes tahu (2,7)

Pepes tahu merupakan hidangan sederhana khas Jawa yang dibuat dari tahu yang dihaluskan lalu dicampur bumbu rempah sebelum dibungkus daun pisang dan dikukus.

Bumbu yang digunakan biasanya terdiri atas bawang merah, bawang putih, cabai, ketumbar, kunyit, kemiri, serta daun kemangi yang memberikan aroma khas.

Walau cukup populer di Indonesia, beberapa pengguna internasional menganggap rasa pepes tahu terlalu ringan dibanding hidangan berbumbu kuat lainnya. Padahal, kesederhanaan dan aroma daun pisang justru menjadi daya tarik utama makanan ini.

6. Buntil (2,9)

Potret buntil
Potret buntil (commons.wikimedia.org/Kembangraps)

Buntil merupakan hidangan tradisional dari Jawa Tengah yang dibuat dari parutan kelapa berbumbu yang dicampur ikan teri atau udang kering, kemudian dibungkus menggunakan daun singkong, daun talas, atau daun pepaya.

Setelah dibungkus, buntil dimasak perlahan dalam kuah santan berbumbu hingga seluruh rasa meresap sempurna. Hidangan ini banyak ditemukan saat Ramadan atau acara keluarga di Jawa. Namun, penggunaan daun sebagai pembungkus, sekaligus bahan makanan utama membuat buntil terasa asing bagi sebagian penikmat kuliner internasional.

7. Soto Padang (2,9)

Soto Padang merupakan salah satu varian soto khas Sumatra Barat yang memiliki kuah bening berbumbu ringan. Keunikan soto ini terletak pada penggunaan irisan daging sapi goreng yang renyah, bihun, serta perkedel kentang sebagai pelengkapnya. Kuahnya dibuat dari rebusan daging yang diperkaya serai, daun jeruk, lengkuas, bawang putih, dan bawang merah.

Meski cukup populer di Indonesia, beberapa pengguna TasteAtlas menilai cita rasanya tidak sekuat hidangan Minangkabau lain, seperti rendang atau gulai, sehingga skor yang diperoleh relatif rendah.

8. Wajik (3,0)

Potret wajik
Potret wajik (commons.wikimedia.org/Joseagush)

Wajik termasuk salah satu jajanan tradisional Jawa yang terbuat dari beras ketan, gula merah, santan, dan daun pandan. Kombinasi bahan tersebut menghasilkan tekstur lengket dengan rasa manis yang kuat. Setelah matang, wajik biasanya dipotong berbentuk belah ketupat dan sering disajikan dalam acara hajatan maupun pernikahan.

Bagi sebagian pengguna internasional, tingkat kemanisannya dianggap terlalu tinggi. Meski demikian, wajik tetap menjadi salah satu kue tradisional yang memiliki tempat istimewa dalam budaya Jawa.

9. Bakso ayam (3,0)

Bakso ayam merupakan variasi bakso yang menggunakan daging ayam sebagai bahan utama. Adonan ayam dicampur tepung tapioka, bawang putih, bawang merah, garam, dan merica sebelum dibentuk bulat, lalu direbus. Bakso biasanya disajikan bersama mi, bihun, tahu, pangsit goreng, dan kuah kaldu yang gurih.

Meski sangat populer di Indonesia, beberapa pengguna TasteAtlas menilai rasanya terlalu sederhana dibandingkan hidangan berbahan ayam lainnya. Namun, bakso ayam tetap menjadi comfort food favorit yang mudah ditemukan di berbagai daerah.

10. Lalap (3,0)

Potret lalapan
Potret lalapan (vecteezy.com/Priyo Sanyoto)

Lalap atau lalapan merupakan pelengkap makanan khas Sunda yang terdiri atas aneka sayuran segar atau setengah matang yang disajikan bersama sambal. Jenis sayuran yang digunakan beragam, mulai dari timun, kemangi, kol, kacang panjang, hingga daun singkong muda.

Lalapan hampir selalu hadir sebagai pendamping ayam goreng, ikan bakar, atau aneka lauk khas Sunda lainnya. Karena sebagian besar sayuran disajikan mentah, beberapa pengguna internasional menganggap lalap terlalu sederhana untuk disebut sebagai sebuah hidangan. Mereka juga tidak terbiasa dengan makanan yang disajikan mentah, karena dapat mengganggu pencernaan.

Bagi masyarakat Sunda dan warga Indonesia pada umumnya, lalap merupakan bagian penting yang memberikan keseimbangan rasa dan kesegaran dalam setiap santapan.

Masuknya makanan-makanan tersebut ke dalam daftar rating terendah TasteAtlas tidak serta-merta menunjukkan bahwa hidangan tersebut buruk atau tidak layak dicoba. Banyak di antaranya merupakan makanan tradisional yang memiliki sejarah panjang, nilai budaya tinggi, dan cita rasa yang sangat dipengaruhi kebiasaan lokal.

Justru, daftar ini menunjukkan betapa beragamnya kuliner Indonesia. Beberapa makanan mungkin membutuhkan waktu untuk diapresiasi masyarakat lebih luas lagi yang belum terbiasa dengan bahan, tekstur, atau teknik pengolahannya. Di balik skor yang rendah, tersimpan cerita budaya, tradisi, dan identitas masyarakat yang menjadikan kuliner Indonesia begitu kaya dan unik.

Dari daftar makanan di atas, mana saja kesukaanmu? Bagikan pendapatmu di kolom komentar, ya!

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dewi Suci Rahayu
EditorDewi Suci Rahayu

Related Articles

See More

Bolehkah Makan Buah saat Diet Keto? Ini Penjelasan Lengkapnya

26 Jun 2026, 19:58 WIBFood